"Hemm, paman Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, dan kau Ki Tejoranu, kalau suka mendengarkan kata-kataku, harap kalian ini menarik kembali tantangan kalian dan menghabiskan segala urusan. Untuk apa melanjutkan niat yang tiada gunanya ini? Aku sama sekali tidak ingin berkelahi dengan kalian, sungguhpun hal ini bukan berarti aku takut. Kita sudah sama-sama tua, apakah hendak bersikap seperti kanak-kanak?"
"Ha-ha-ha!!
Narotama, kalau kau takut, mungkin kami akan dapat membebaskanmu!" Ki
Warok Gendroyono mengejek.
"Takut
atau tidak, dia harus mampus!" kata Ki Krendoyakso yang suaranya besar.
Kepala perampok Bagelen ini sudah meraba senjatanya, penggada yang hitam dan
besar itu.
"Jagad
Dewa Batara! Agaknya kalian tak dapat lagi mengekang nafsu. Sudah kukatakan
tadi, aku tidak takut. Kalau kalian memaksa, apa boleh buat. Nah, siapa hendak
maju?"
Dengan tangkas
Narotama melompat ke belakang dan siap menghadapi lawan, sikapnya tenang,
matanya tajam berkilat dan seluruh urat syaraf dalam tubuhnya menegang siap.
"Hayo
pibu melawan aku lebih dulu!" Ki Tejoranu membentak, disusul seruannya
keras,
"Awas
golok!"
Lalu tubuhnya
menenang maju bagaikan seekor jengkerik menerjang lawan, dua sinar berkelebat
dan "syuuut-sing-singsing!" Sepasang goloknya berciutan dan berdesing
menyambar-nyambar ganas mengirim serangan bertubi-tubi ke arah tubuh Narotama!
"Bagus
sekali!"
Narotama mau
tak mau memuji karena memang gerakan sepasang golok itu luar biasa dahsyatnya.
Cepat ia mengerahkan ajinya, yaitu ilmu silat tangan kosong Kukilo Sakti.
Tubuhnya menjadi ringan dan gerakannya laksana seekor burung garuda. Sabetan
dan bacokan sepasang golok yang berubah menjadi dua gulung sinar itu dapat
dielakkannya dengan lompatan ke atas, lalu menyelinap di antara sinar-sinar itu
sambil membalas dengan pukulan yang disertai Aji Bojro Dahono. Hawa panas
keluar dari sepasang tangannya sehingga Ki Tejoranu berseru kaget dan meloncat
jauh setiap kali hawa panas menyambar.
"Serbu!
Bunuh orang sudra ini!" teriak Ki Krendoyakso dengan suara garang.
Serentak
mereka maju. Ki Krendoyakso dengan penggada Wojo Irengnya, Ki Warok Gendroyono
yang sudah melepas kolor saktinya, dan Cekel Aksomolo yang mengayun tasbihnya.
Juga lima orang kepala rampok, anak buah Ki Krendoyakso, ikut pula menyerbu
dengan senjata golok dan ruyung mereka yang besar-besar mengerikan.
"Wah-wah-wah,
tidak bagus! Mana ada pibu pakai keloyokan segala? Aku tidak mau kalau begini,
tidak usah keloyokanpun belum tentu kalah!"
Ki Tejoranu
meloncat ke belakang dan menyimpan sepasang goloknya, mulutnya cemberut dan ia
berdiri bertolak pinggang menjadi penonton. Memang aneh watak orang ini. Dia
terbawa-bawa temannya, Ki Warok Gendroyono untuk ikut-ikut membantu Adipati
Joyowiseso, akan tetapi dalam hal pertempuran, ia selalu masih menjaga tata
cara pertandingan yang merupakan "etika" bagi pendekar-pendekar di
negerinya.
Narotama yang
dikeroyok delapan orang itu terkejut sekali. Tak disangkanya orang-orang yang
mendendam kepadanya ini, yang terkenal sebagai orang-orang sakti ini akan maju
bersama mengeroyoknya! Tadi ia bersikap tenang karena mengira bahwa mereka itu
akan maju satu-satu, siapa kira mereka mempergunakan cara curang ini untuk
mengeroyoknya. Di samping terkejut, iapun marah. Timbul kemarahan dalam hati
patih yang tenang ini ketika ia dimaki "orang sudra" oleh Ki
Krendoyakso. Memang tidak dapat disangkal lagi, Narotama bukanlah keturunan
raja seperti Airlangga, akan tetapi kalau Sang Prabu Airlangga sendiri tak
pernah memandang rendah darah keturunannya, masa seorang kepala rampoK seperti
Ki Krendoyakso saja berani memakinya?
"Babo-babo!
Kalian menggunakan keroyokan? Boleh, boleh, majulah! Jangan kira Narotama akan
undur selangkahpun!" seru Narotama dan ia segera mengerahkan tenaga dan
mengeluarkan kepandaiannya.
Untuk
menghadapi pengeroyokan orang-orang yang menggunakan pelbagai senjata, apalagi
senjata tasbih yang ampuhnya menggila dari Cekel Aksomolo, kolor ajimat yang
dimainkan Ki Warok Gendroyono yang mendatangkan hawa panas, kemudian penggada
Wojo Ireng yang dimainkan sepasang lengan raksasa Ki Krendroyakso sehingga
hebatnya seperti penggada Rujakpolo dimainkan oleh Sang Werkudoro, ia harus
berlaku hati-hati dan bergerak cepat.
Maka Narotama
lalu mainkan Aji Bramoro Seto (Lebah Putih). Bagaikan seekor lebah saja
tubuhnya melayang-layang di antara sambaran senjata, kadang-kadang ia
menggunakan sepasang lengannya yang kebal dan terisi hawa sakti untuk menangkis
senjata lawan.
Pada saat
itulah suara hiruk-pikuk pertandingan terdengar oleh Joko Wandiro dan anak ini
datang lalu menonton pertandingan dari atas pohon. Mula-mula hati anak ini
mengkal menyaksikan pertandingan yang tidak adil itu. Ia sebagai anak
gemblengan maklum yang bertanding adalah orang-orang sakti sehingga tak mungkin
sama sekali baginya untuk membantu kakek yang terkeroyok. Namun hatinya condong
kepada yang dikeroyok dan mengharapkan kemenangannya. Anak yang berpemandangan
tajam inipun segera mendapat kenyataan bahwa di antara delapan orang pengeroyok
itu, yang lima hanyalah orang-orang kuat yang hanya pandai mainkan golok dan
ruyung belaka, akan tetapi yang tiga, terutama sekali kakek tua renta bongkok,
adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Inilah agaknya
yang menjadi sebab mengapa kakek sakti yang dikeroyok itu tidak pernah berani
menangkis dengan tangannya serangan kolor, penggada hitam, dan tasbih, akan
tetapi tanpa ragu-ragu tangan kosongnya berani menyampok polok dan ruyung lima
orang kepala rampok.
"Tidak
adil! Curang.......!"
Kembali Joko
Wandiro mengeluh di dalam hatinya melihat betapa kakek yang dikeroyok itu
tampak sibuk benar, tubuhnya tak pernah berhenti sedetikpun, berkelebat
bagaikan seekor lebah dikejar-kejar dalam ruangan tertutup. Namun hampir saja
ia bersorak ketika tiba-tiba kakek sakti itu mengeluarkan seruan aneh dibarengi
tubuhnya menyambar ke arah lima orang yang memegang golok dan ruyung. Dua orang
di antara mereka menjerit dan roboh terjungkal! Anak buah rampok cepat maju
menolong kepala rampok yang remuk tulang pundak dan lengannya itu, dan segera
dua orang perampok lain menggantikan kedudukan dua orang yang roboh ini. Bahkan
yang lain-lain mulai maju mengurung dan menanti kesempatan untuk mengeroyok
pula. Joko Wandiro marah sekali.
"Pengecut,
tak tahu malu!" makinya dalam hati. Ia memandang marah, terutama kepada
kakek tua renta yang memegang tasbih karena sesungguhnya kakek inilah yang
membikin repot jagonya yang terkeroyok.
Tasbih kakek
itu luar biasa sekali, menyambar-nyambar seperti ular hidup dan selain suara
angin bersiutan ketika menyambar, juga tasbih itu mengeluarkan bunyi
berkeritikan yang nyaring halus menusuk-nusuk anak telinga. Selain hebat dan
dahsyat tasbihnya, juga mulutnya tak pernah berhenti bicara mengejek. Inilah
yang membuat Joko Wandiro gemas hatinya terhadap si kakek bongkok.
"Oh-huh-huh,
Narotama. Mengapa tidak menyerah saja? Mana mungkin engkau bisa menangkan kami?
Heh-heh-heh!"
"Aku
benar dan karenanya aku berani. Mati dalam kebenaran jauh lebih mulia daripada
hidup bergelimang kejahatan!" jawab Narotama sambil cepat mengelak
sambaran tasbih.
Akan tetapi
dari samping terdengar bunyi ledakan keras sekali dan kolor berwarna kuning
belang menyambar dahsyat. Agaknya Ki Warok Gendroyono merasa penasaran sekali
karena semenjak tadi senjatanya yang ampuh tak pernah berhasil menyentuh tubuh
lawannya. Narotama kaget, apalagi karena bayangannya terkurung oleh sambaran
penggada Wojo Ireng di tangan Ki Krendoyakso. Terpaksa ia miringkan tubuh
sambil mengebutkan tangan kirinya menghalau sinar kuning kolor Ki Warok.
"Desss.......!"
Narotama
terkejut sekali dan terhuyung ke belakang. Hebat memang kolor sakti itu,
mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya dan hawa pukulannyapun panas. Dalam
keadaan terhuyung ini Narotama didesak oleh para pengeroyoknya terutama sekali
tiga orang lawan sakti itu. Ia meloncat ke belakang, mengguncang-guncang kepala
dan pundaknya seperti seekor ayam jago aduan yang baru saja kena pukul jalu
kaki lawannya, kemudian tangan kanannya bergerak dan sebatang keris telah
berada di tangannya. Inilah keris Megantoro, sebatang keris berlekuk tujuh.
Terpaksa Narotama mengeluarkan keris pusakanya, oleh karena menghadapi
senjata-senjata ampuh tiga orang pengeroyoknya itu membuat ia kurang leluasa
bergerak maka harus dihadapi dengan senjata ampuh pula untuk menolak pengaruh
senjata-senjata pusaka lawan.
Delapan orang
pengeroyok itu, terutama sekali belasan orang anak buah perampok yang kurang
kuat batinnya, menggigil ketika melihat cahaya putih cemerlang bersinar dari
keris pusaka Megantoro itu. Cekel Aksomolo segera membunyikan tasbihnya
sehingga bunyinya gemercik seperti hujan deras turun. Ki Warok Gendroyono
melecut-lecutkan kolornya sehingga terdengar bunyi ledakan-ledakan seperti
suara geluduk bersambung-sambung, sementara itu Ki Krendoyakso juga memutar
penggadanya yang mendatangkan suara angina mengaung-ngaung seperti datangnya
taufan.
Joko Wandiro
terpaksa harus memeluk cabang pohon agar tidak jatuh ke bawah. Suara-suara itu
amat mengganggunya, terutama sekali suara tasbih. Kalau saja ia bukan anak
gemblengan yang setiap hari dilatih samadhi, tentu ia takkan kuat bertahan.
Baiknya ia sudah pandai menyatukan panca indera, pandai pula mengerahkan tenaga
batin ke telinga untuk menolak pengaruh suara-suara itu, maka sebegitu lama ia
masih dapat bertahan. Akan tetapi suara tasbih itu seperti menggelitik
telinganya, menimbulkan rasa geli sehingga beberapa kali ia mengkirik dan
bulu-bulu tubuhnya berdiri, tubuh terasa dingin sehingga ia menggigil.
Menghadapi pengerahan tenaga sakti lawan yang mengeroyoknya, Narotama kembali
mengeluarkan suara aneh yang mirip suara seekor gajah. Inilah Aji Dirodo Meto
(Gajah Marah), dan pekik ini mengandung pengaruh dahsyat yang biasanya dapat
melumpuhkan lawan yang dihadapinya. Akan tetapi karena kini yang dihadapi adalah
orang-orang sakti, maka suara ini dikeluarkan untuk menahan pengaruh keampuhan
senjata-senjata lawan yang mengeluarkan bunyi sakti pula itu. Pertandingan
berlangsung pula dengan hebatnya. Mula-mula Ki Krendoyakso yang agaknya sudah
kehabisan sabar, memutar penggada Wojo Ireng menyerbu ke depan, penggadanya
menyambar ke arah kepala Narotama dengan cepat dan kuat sambil mengeluarkan
bunyi mengaung. Narotama cepat miringkan tubuhnya, membiarkan penggada itu
lewat. Selagi tubuhnya miring, ia mengirim tendangan ke arah lambung Ki
Krendayakso. Tendangan yang hebat dan cepat dan agaknya tentu akan bersarang
tepat pada sasarannya kalau saja pada saat itu Ki Warok Gendroyono tidak
mengganggu. Ki Warok ini sudah menerjang pula dengan kolornya yang
diputar-putar menyambar lawan. Terpaksa Narotama menarik kembali kakinya yang
menendang, dan hanya berhasil mencium lambung Ki Krendoyakso dengan ujung jari
kaki saja dan hanya membuat raksasa Bagelen ini mengeluarkah suara
"hukkk!" dan meringis karena perutnya tiba-tiba menjadi mulas.
Sambaran kolor sakti Ki Warok ditangkis pusaka Megantoro menimbulkan bunyi
ledakan keras dan Ki Warok Gendroyono meloncat ke belakang dengan kaget. Kolor
saktinya tentu saja sanggup beradu dengan pusaka apapun juga, akan tetapi
ketika bertemu dengan keris Megantoro, keris itu terus menyelinap ke bawah dan
kalau ia tidak cepat meloncat ke belakang tadi, tentu dada menthoknya
berkenalan dengan keris pusaka Megantoro yang ampuhnya menggila itu. Yang Hebat
adalah serangan Cekel Aksomolo. Kakek yang seperti Begawan Durno dalam cerita
Mahabharata itu ternyata masih pandai bersilat cepat. Melihat kegagalan
kawan-kawannya, ia bersungut-sungut maju dan mendesak sambil memutar tasbihnya,
jalannya agak terbongkok-bongkok dan lambat, akan tetapi tasbih di tangannya
berputar cepat sekali membentuk lingkaran hitam yang melindungi seluruh
tubuhnya namun yang merupakan gulungan sinar maut menerjang lawan.
Narotama cepat
menggerakkan keris pusaka menangkis. Terdengar suara
"crang-cring-crang-cring" bertubi-tubi dan tampaklah bunga api
berpijar berhamburan ketika kedua senjata ampuh itu bertemu. Ternyata kedua
senjata itu sama ampuhnya dan diam-diam Narotama juga kaget dan kagum mendapat
kenyataan betapa kakek tua renta yang bongkok ini benar-benar merupakan lawan yang
paling tangguh di antara semua pengeroyoknya! Ki Warok Gendroyono dan Ki
Krendoyakso segera menyerbu ke depan ketika melihat Narotama terlibat dalam
pertarungan seru dengan Cekel Aksomolo, sedangkan lima orang perampok juga ikut
mengganggu, menusuk-nusukkan golok dan memukul-mukulkan ruyung dari arah
belakang Narotama. Ki patih yang kosen itu. kali ini benar-benar terdesak,
namun permainan kerisnya memang mengagumkan sehingga selama itu ia masih
berhasil mempertahankan diri, bahkan kaki kirinya telah berhasil pula mendapat
mangsa, yaitu perut dua orang perampok yang segera terlempar dan roboh tak
dapat bangun pula karena agaknya usus buntu mereka berkenalan dengan ibu jari
kaki Narotama sehingga kini mereka menggeliat-geliat sambil memegangi perut!.
No comments:
Post a Comment