Badai Laut Selatan ; Bagian 039


"Hemm, paman Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, dan kau Ki Tejoranu, kalau suka mendengarkan kata-kataku, harap kalian ini menarik kembali tantangan kalian dan menghabiskan segala urusan. Untuk apa melanjutkan niat yang tiada gunanya ini? Aku sama sekali tidak ingin berkelahi dengan kalian, sungguhpun hal ini bukan berarti aku takut. Kita sudah sama-sama tua, apakah hendak bersikap seperti kanak-kanak?"
"Ha-ha-ha!! Narotama, kalau kau takut, mungkin kami akan dapat membebaskanmu!" Ki Warok Gendroyono mengejek.
"Takut atau tidak, dia harus mampus!" kata Ki Krendoyakso yang suaranya besar. Kepala perampok Bagelen ini sudah meraba senjatanya, penggada yang hitam dan besar itu.
"Jagad Dewa Batara! Agaknya kalian tak dapat lagi mengekang nafsu. Sudah kukatakan tadi, aku tidak takut. Kalau kalian memaksa, apa boleh buat. Nah, siapa hendak maju?"
Dengan tangkas Narotama melompat ke belakang dan siap menghadapi lawan, sikapnya tenang, matanya tajam berkilat dan seluruh urat syaraf dalam tubuhnya menegang siap.
"Hayo pibu melawan aku lebih dulu!" Ki Tejoranu membentak, disusul seruannya keras,
"Awas golok!"
Lalu tubuhnya menenang maju bagaikan seekor jengkerik menerjang lawan, dua sinar berkelebat dan "syuuut-sing-singsing!" Sepasang goloknya berciutan dan berdesing menyambar-nyambar ganas mengirim serangan bertubi-tubi ke arah tubuh Narotama!
"Bagus sekali!"
Narotama mau tak mau memuji karena memang gerakan sepasang golok itu luar biasa dahsyatnya. Cepat ia mengerahkan ajinya, yaitu ilmu silat tangan kosong Kukilo Sakti. Tubuhnya menjadi ringan dan gerakannya laksana seekor burung garuda. Sabetan dan bacokan sepasang golok yang berubah menjadi dua gulung sinar itu dapat dielakkannya dengan lompatan ke atas, lalu menyelinap di antara sinar-sinar itu sambil membalas dengan pukulan yang disertai Aji Bojro Dahono. Hawa panas keluar dari sepasang tangannya sehingga Ki Tejoranu berseru kaget dan meloncat jauh setiap kali hawa panas menyambar.
"Serbu! Bunuh orang sudra ini!" teriak Ki Krendoyakso dengan suara garang.
Serentak mereka maju. Ki Krendoyakso dengan penggada Wojo Irengnya, Ki Warok Gendroyono yang sudah melepas kolor saktinya, dan Cekel Aksomolo yang mengayun tasbihnya. Juga lima orang kepala rampok, anak buah Ki Krendoyakso, ikut pula menyerbu dengan senjata golok dan ruyung mereka yang besar-besar mengerikan.
"Wah-wah-wah, tidak bagus! Mana ada pibu pakai keloyokan segala? Aku tidak mau kalau begini, tidak usah keloyokanpun belum tentu kalah!"

Ki Tejoranu meloncat ke belakang dan menyimpan sepasang goloknya, mulutnya cemberut dan ia berdiri bertolak pinggang menjadi penonton. Memang aneh watak orang ini. Dia terbawa-bawa temannya, Ki Warok Gendroyono untuk ikut-ikut membantu Adipati Joyowiseso, akan tetapi dalam hal pertempuran, ia selalu masih menjaga tata cara pertandingan yang merupakan "etika" bagi pendekar-pendekar di negerinya.
Narotama yang dikeroyok delapan orang itu terkejut sekali. Tak disangkanya orang-orang yang mendendam kepadanya ini, yang terkenal sebagai orang-orang sakti ini akan maju bersama mengeroyoknya! Tadi ia bersikap tenang karena mengira bahwa mereka itu akan maju satu-satu, siapa kira mereka mempergunakan cara curang ini untuk mengeroyoknya. Di samping terkejut, iapun marah. Timbul kemarahan dalam hati patih yang tenang ini ketika ia dimaki "orang sudra" oleh Ki Krendoyakso. Memang tidak dapat disangkal lagi, Narotama bukanlah keturunan raja seperti Airlangga, akan tetapi kalau Sang Prabu Airlangga sendiri tak pernah memandang rendah darah keturunannya, masa seorang kepala rampoK seperti Ki Krendoyakso saja berani memakinya?
"Babo-babo! Kalian menggunakan keroyokan? Boleh, boleh, majulah! Jangan kira Narotama akan undur selangkahpun!" seru Narotama dan ia segera mengerahkan tenaga dan mengeluarkan kepandaiannya.
Untuk menghadapi pengeroyokan orang-orang yang menggunakan pelbagai senjata, apalagi senjata tasbih yang ampuhnya menggila dari Cekel Aksomolo, kolor ajimat yang dimainkan Ki Warok Gendroyono yang mendatangkan hawa panas, kemudian penggada Wojo Ireng yang dimainkan sepasang lengan raksasa Ki Krendroyakso sehingga hebatnya seperti penggada Rujakpolo dimainkan oleh Sang Werkudoro, ia harus berlaku hati-hati dan bergerak cepat.
Maka Narotama lalu mainkan Aji Bramoro Seto (Lebah Putih). Bagaikan seekor lebah saja tubuhnya melayang-layang di antara sambaran senjata, kadang-kadang ia menggunakan sepasang lengannya yang kebal dan terisi hawa sakti untuk menangkis senjata lawan.

Pada saat itulah suara hiruk-pikuk pertandingan terdengar oleh Joko Wandiro dan anak ini datang lalu menonton pertandingan dari atas pohon. Mula-mula hati anak ini mengkal menyaksikan pertandingan yang tidak adil itu. Ia sebagai anak gemblengan maklum yang bertanding adalah orang-orang sakti sehingga tak mungkin sama sekali baginya untuk membantu kakek yang terkeroyok. Namun hatinya condong kepada yang dikeroyok dan mengharapkan kemenangannya. Anak yang berpemandangan tajam inipun segera mendapat kenyataan bahwa di antara delapan orang pengeroyok itu, yang lima hanyalah orang-orang kuat yang hanya pandai mainkan golok dan ruyung belaka, akan tetapi yang tiga, terutama sekali kakek tua renta bongkok, adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Inilah agaknya yang menjadi sebab mengapa kakek sakti yang dikeroyok itu tidak pernah berani menangkis dengan tangannya serangan kolor, penggada hitam, dan tasbih, akan tetapi tanpa ragu-ragu tangan kosongnya berani menyampok polok dan ruyung lima orang kepala rampok.
"Tidak adil! Curang.......!"
Kembali Joko Wandiro mengeluh di dalam hatinya melihat betapa kakek yang dikeroyok itu tampak sibuk benar, tubuhnya tak pernah berhenti sedetikpun, berkelebat bagaikan seekor lebah dikejar-kejar dalam ruangan tertutup. Namun hampir saja ia bersorak ketika tiba-tiba kakek sakti itu mengeluarkan seruan aneh dibarengi tubuhnya menyambar ke arah lima orang yang memegang golok dan ruyung. Dua orang di antara mereka menjerit dan roboh terjungkal! Anak buah rampok cepat maju menolong kepala rampok yang remuk tulang pundak dan lengannya itu, dan segera dua orang perampok lain menggantikan kedudukan dua orang yang roboh ini. Bahkan yang lain-lain mulai maju mengurung dan menanti kesempatan untuk mengeroyok pula. Joko Wandiro marah sekali.
"Pengecut, tak tahu malu!" makinya dalam hati. Ia memandang marah, terutama kepada kakek tua renta yang memegang tasbih karena sesungguhnya kakek inilah yang membikin repot jagonya yang terkeroyok.

Tasbih kakek itu luar biasa sekali, menyambar-nyambar seperti ular hidup dan selain suara angin bersiutan ketika menyambar, juga tasbih itu mengeluarkan bunyi berkeritikan yang nyaring halus menusuk-nusuk anak telinga. Selain hebat dan dahsyat tasbihnya, juga mulutnya tak pernah berhenti bicara mengejek. Inilah yang membuat Joko Wandiro gemas hatinya terhadap si kakek bongkok.
"Oh-huh-huh, Narotama. Mengapa tidak menyerah saja? Mana mungkin engkau bisa menangkan kami? Heh-heh-heh!"
"Aku benar dan karenanya aku berani. Mati dalam kebenaran jauh lebih mulia daripada hidup bergelimang kejahatan!" jawab Narotama sambil cepat mengelak sambaran tasbih.
Akan tetapi dari samping terdengar bunyi ledakan keras sekali dan kolor berwarna kuning belang menyambar dahsyat. Agaknya Ki Warok Gendroyono merasa penasaran sekali karena semenjak tadi senjatanya yang ampuh tak pernah berhasil menyentuh tubuh lawannya. Narotama kaget, apalagi karena bayangannya terkurung oleh sambaran penggada Wojo Ireng di tangan Ki Krendoyakso. Terpaksa ia miringkan tubuh sambil mengebutkan tangan kirinya menghalau sinar kuning kolor Ki Warok.
"Desss.......!"
Narotama terkejut sekali dan terhuyung ke belakang. Hebat memang kolor sakti itu, mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya dan hawa pukulannyapun panas. Dalam keadaan terhuyung ini Narotama didesak oleh para pengeroyoknya terutama sekali tiga orang lawan sakti itu. Ia meloncat ke belakang, mengguncang-guncang kepala dan pundaknya seperti seekor ayam jago aduan yang baru saja kena pukul jalu kaki lawannya, kemudian tangan kanannya bergerak dan sebatang keris telah berada di tangannya. Inilah keris Megantoro, sebatang keris berlekuk tujuh. Terpaksa Narotama mengeluarkan keris pusakanya, oleh karena menghadapi senjata-senjata ampuh tiga orang pengeroyoknya itu membuat ia kurang leluasa bergerak maka harus dihadapi dengan senjata ampuh pula untuk menolak pengaruh senjata-senjata pusaka lawan.

Delapan orang pengeroyok itu, terutama sekali belasan orang anak buah perampok yang kurang kuat batinnya, menggigil ketika melihat cahaya putih cemerlang bersinar dari keris pusaka Megantoro itu. Cekel Aksomolo segera membunyikan tasbihnya sehingga bunyinya gemercik seperti hujan deras turun. Ki Warok Gendroyono melecut-lecutkan kolornya sehingga terdengar bunyi ledakan-ledakan seperti suara geluduk bersambung-sambung, sementara itu Ki Krendoyakso juga memutar penggadanya yang mendatangkan suara angina mengaung-ngaung seperti datangnya taufan.
Joko Wandiro terpaksa harus memeluk cabang pohon agar tidak jatuh ke bawah. Suara-suara itu amat mengganggunya, terutama sekali suara tasbih. Kalau saja ia bukan anak gemblengan yang setiap hari dilatih samadhi, tentu ia takkan kuat bertahan. Baiknya ia sudah pandai menyatukan panca indera, pandai pula mengerahkan tenaga batin ke telinga untuk menolak pengaruh suara-suara itu, maka sebegitu lama ia masih dapat bertahan. Akan tetapi suara tasbih itu seperti menggelitik telinganya, menimbulkan rasa geli sehingga beberapa kali ia mengkirik dan bulu-bulu tubuhnya berdiri, tubuh terasa dingin sehingga ia menggigil. Menghadapi pengerahan tenaga sakti lawan yang mengeroyoknya, Narotama kembali mengeluarkan suara aneh yang mirip suara seekor gajah. Inilah Aji Dirodo Meto (Gajah Marah), dan pekik ini mengandung pengaruh dahsyat yang biasanya dapat melumpuhkan lawan yang dihadapinya. Akan tetapi karena kini yang dihadapi adalah orang-orang sakti, maka suara ini dikeluarkan untuk menahan pengaruh keampuhan senjata-senjata lawan yang mengeluarkan bunyi sakti pula itu. Pertandingan berlangsung pula dengan hebatnya. Mula-mula Ki Krendoyakso yang agaknya sudah kehabisan sabar, memutar penggada Wojo Ireng menyerbu ke depan, penggadanya menyambar ke arah kepala Narotama dengan cepat dan kuat sambil mengeluarkan bunyi mengaung. Narotama cepat miringkan tubuhnya, membiarkan penggada itu lewat. Selagi tubuhnya miring, ia mengirim tendangan ke arah lambung Ki Krendayakso. Tendangan yang hebat dan cepat dan agaknya tentu akan bersarang tepat pada sasarannya kalau saja pada saat itu Ki Warok Gendroyono tidak mengganggu. Ki Warok ini sudah menerjang pula dengan kolornya yang diputar-putar menyambar lawan. Terpaksa Narotama menarik kembali kakinya yang menendang, dan hanya berhasil mencium lambung Ki Krendoyakso dengan ujung jari kaki saja dan hanya membuat raksasa Bagelen ini mengeluarkah suara "hukkk!" dan meringis karena perutnya tiba-tiba menjadi mulas. Sambaran kolor sakti Ki Warok ditangkis pusaka Megantoro menimbulkan bunyi ledakan keras dan Ki Warok Gendroyono meloncat ke belakang dengan kaget. Kolor saktinya tentu saja sanggup beradu dengan pusaka apapun juga, akan tetapi ketika bertemu dengan keris Megantoro, keris itu terus menyelinap ke bawah dan kalau ia tidak cepat meloncat ke belakang tadi, tentu dada menthoknya berkenalan dengan keris pusaka Megantoro yang ampuhnya menggila itu. Yang Hebat adalah serangan Cekel Aksomolo. Kakek yang seperti Begawan Durno dalam cerita Mahabharata itu ternyata masih pandai bersilat cepat. Melihat kegagalan kawan-kawannya, ia bersungut-sungut maju dan mendesak sambil memutar tasbihnya, jalannya agak terbongkok-bongkok dan lambat, akan tetapi tasbih di tangannya berputar cepat sekali membentuk lingkaran hitam yang melindungi seluruh tubuhnya namun yang merupakan gulungan sinar maut menerjang lawan.

Narotama cepat menggerakkan keris pusaka menangkis. Terdengar suara "crang-cring-crang-cring" bertubi-tubi dan tampaklah bunga api berpijar berhamburan ketika kedua senjata ampuh itu bertemu. Ternyata kedua senjata itu sama ampuhnya dan diam-diam Narotama juga kaget dan kagum mendapat kenyataan betapa kakek tua renta yang bongkok ini benar-benar merupakan lawan yang paling tangguh di antara semua pengeroyoknya! Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso segera menyerbu ke depan ketika melihat Narotama terlibat dalam pertarungan seru dengan Cekel Aksomolo, sedangkan lima orang perampok juga ikut mengganggu, menusuk-nusukkan golok dan memukul-mukulkan ruyung dari arah belakang Narotama. Ki patih yang kosen itu. kali ini benar-benar terdesak, namun permainan kerisnya memang mengagumkan sehingga selama itu ia masih berhasil mempertahankan diri, bahkan kaki kirinya telah berhasil pula mendapat mangsa, yaitu perut dua orang perampok yang segera terlempar dan roboh tak dapat bangun pula karena agaknya usus buntu mereka berkenalan dengan ibu jari kaki Narotama sehingga kini mereka menggeliat-geliat sambil memegangi perut!.

<<< Bagian 038                                                                                   Bagian 040 >>>

No comments:

Post a Comment