Mereka berjalan perlahan menuju ke barat, menuju ke sinar layung kemerahan, mendekati pantai pulau sebelah barat yang ditumbuhi pandan. Setelah mereka tiba dekat pandan yang memenuhi tempat itu, terdengar suara keras dan burung-burung camar yang menjadikan tempat itu sebagai sarang, beterbangan sambil mengeluarkan suara hiruk-pikuk, agaknya marah karena tempat mereka terganggu. Akan tetapi Bhagawan Rukmoseto terus mengajak mereka menyelinap di antara pandan-pandan yang tebal dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah guha kecil yang tersembunyi di antara pandan.
"Cucu-cucuku,
di tempat ini tersimpan sebuah benda yang pada saat sekarang ini dijadikan
perebutan semua manusia di dunia. Kalau ada yang tahu bahwa benda ini berada di
sini, hemmm........ agaknya nyawa kita akan terancam bahaya maut."
"Ihhh,
benda apakah itu, eyang?"
"Benda
apakah eyang dan mengapa eyang menyimpannya di sini?" tanya pula Joko
Wandiro.
Kakek itu
menarik kedua orang cucunya duduk di atas batu depan guha, lalu bercerita.
"Dengarlah
baik-baik, cucuku. Hanya kepada kalianlah aku mempercayakan benda ini, dan
hanya kepada kalianlah aku mempertaruhkan kepercayaanku. Ketahuilah, Kerajaan
Mataram yang kemudian disebut Kerajaan Medang dan kini disebut Kahuripan,
memiliki sebuah pusaka yang menjadi lambang kejayaan kerajaan. Apabila pusaka
itu lenyap dari kerajaan, hal itu berarti bahwa kerajaan akan menyuram, berarti
akan terjadi perang dan perebutan kekuasaan. Dahulu beberapa kali pusaka itu
lenyap dan akibatnya memang hebat. Belum lama ini, pusaka itu lenyap pula
tercuri oleh orang jahat, dan inilah sebabnya mengapa kini Kerajaan Kahuripan
mulai menyuram dan mulailah terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Tua dan
Pangeran Muda. Tidak itu saja, malah orang-orang cerdik pandai mulai berlomba
untuk mencari dan memperebutkan benda keramat itu, oleh karena sesungguhnya
benda itu luar biasa sekali, siapa yang memilikinya menjadi seorang yang paling
sakti dan mempunyai wahyu mahkota, berhak menjadi raja! Secara kebetulan
sekali, pusaka itu terjatuh ke dalam tanganku, ketika dibawa lari penjahat dan
kusimpan di sini."
"Aiihhhh
..... !"
"Hebat
..... !"
"Hemm,
mengapa kalian ribut-ribut?" Kakek itu memandang tajam.
"Oh,
tidak, eyang. Hanya..... kalau begitu tentu eyang berhak menjadi raja?"
kata Endang Patibroto.
Kakek itu
tertawa.
"Tidak,
cucuku. Aku seorang yang masih setia kepada sang prabu di Kahuripan. Sang prabu
sendiri mengundurkan diri tidak suka lagi menjadi raja dan kini menjadi
pertapa, masa aku seorang pendeta ingin menjadi raja? Tidak. Hanya aku merasa
prihatin menyaksikan keadaan perebutan kekuasaan itu. Kalau mereka itu tahu
bahwa pusaka berada di sini, sudah pasti mereka akan memperebutkannya dan
keadaan akan menjadi lebih geger lagi. Aku sudah tua, aku tidak ingin menduduki
kemuliaan, bahkan tidak ingin aku terseret ke dalam urusan-urusan kerajaan.
Akan tetapi kalian adalah orang-orang muda yang harus mengisi hidup kalian
dengan darma sebagai keturunan satria dan pertapa. Oleh karena itulah, kalian
akan kugembleng di pulau ini dan pusaka itu kuserahkan kepada kalian. Kelak
harus kalian yang mengembalikan pusaka itu ke kerajaan, akan tetapi harus
kalian kembalikan kepada seorang raja yang benar-benar bijaksana, karena sekali
pusaka itu terjatuh ke dalam tangan raja lalim, rakyat tentu akan
celakalah."
Joko Wandiro
adalah seorang yang cerdik.
"Eyang,
mengapa eyang mengajak aku dan Endang sekarang ke tempat ini? Kami berdua masih
kecil, bagaimana mampu melindungi pusaka itu? Ataukah, eyang mengajak kami
hanya agar mengetahui tempatnya saja?"
Bhagawan
Rukmoseto mengelus kepala Joko Wandiro.
"Kau
benar. Bukan hanya untuk mengetahui tempatnya, melainkan akan kuberikan
sekarang juga."
"Sekarang
..... ??" Endang Patibroto bersorak, girang dan kaget.
Bhagawan
Rukmoseto mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.
"Orang-orang
di dunia hitam sudah mulai tahu akan tempat persembunyianku ini dan mulai
curiga. Tak lama lagi tentu mereka akan mencari ke sini dan akan memaksaku
mengaku. Oleh karena itu, biarlah pusaka itu kuberikan kepada kalian berdua
karena mereka tentu tidak akan mengira bahwa pusaka yang sepenting itu
kuberikan kepada dua orang anak kecil. Aku hanya bertindak menurutkan naluri
dan agaknya Dewata yang memberi petunjuk kepadaku, cuku-cucuku."
Kakek itu lalu
merangkak memasuki guha kecil itu dan tak lama kemudian ia sudah keluar lagi
membawa sebuah bungkusan kain kuning. Dua orang anak itu duduk bersila dan
memandang dengan mata terbelalak. Apalagi ketika kakek itu membuka bungkusan
kain kuning, Endang Patibroto berseru girang.
"Golek
kencono (boneka emas)!! Aduhhh bagusnya! Eyang, berikan aku saja !"
Bhagawan
Rukmoseto tertawa, akan tetapi tiba-tiba ia memandang ke sekelilingnya seperti
orang ketakutan.
"Kalian
mendengar sesuatu tadi?"
Dua orang anak
itu menggeleng kepala. Adapun Joko Wandiro merasa kecewa karena kiranya pusaka
itu hanyalah sebuah boneka emas, mainan seorang anak perempuan!
"Pusaka
ini macam dua," katanya berbisik,
"karena
itu akan kujadikan dua dan seorang menyimpan sebuah. Cucuku Endang, kau boleh
memilih. Nah, kau terimalah ini dan kaupilih, yang mana kau suka."
Endang
Patibroto menerima patung kencana itu, memutar-mutar dan memeriksa lalu tanpa
ia sengaja tangan kanannya kena cabut gagang keris di sebelah bawah. Sinar yang
menggiriskan hati berkelebat ketika keris pusaka Brojol Luwuk tercabut.
"Aku
pilih ini, eyang ....... !"
Endang
Patibroto berseru girang dan gadis cilik ini melemparkan patung emas yang
menjadi warangka itu ke arah Joko Wandiro! Joko menerima dan bibirnya cemberut.
Untuk apa sebuah patung emas bagi seorang anak laki-laki? Ia memandang ke arah
keris di tangan Endang Patibroto dengan penuh kagum dan ingin. Juga Bhagawan
Rukmoseto memandang anak perempuan itu dengan tercengang. Dia terheran-heran
mengapa anak itu memegang keris sedemikian cocok, seakan-akan memang keris itu
sudah sejak dahulu dikenalnya. Keris itu memang bukan keris besar, hanya keris
tanpa ganja seperti sebuah keris biasa, akan tetapi begitu digerakkan sedikit
saja keluarlah sinar yang aneh. Ketika kakek itu menoleh ke arah Joko Wandiro,
ia melihat anak laki-laki itu memandangi patung. Anak ini dapat membawa diri,
pikirnya. Ia tahu bahwa anak ini kecewa mendapat bagian patung, akan tetapi
sama sekali tidak diperlihatkan.
"Joko,
benda di tanganmu itu bukanlah benda biasa. Itulah benda keramat yang menjadi
pujaan sekalian raja di Mataram dahulu. Sekarang dengarlah kalian baik-baik.
Kedua pusaka itu seharusnya menjadi satu. Patung itu merupakan warangka atau
tempat pusaka di tangan Endang itu. Dan pusaka itu adalah pusaka Mataram yang
menjadi lambang kemakmuran Mataram. Kini kerajaan sedang kacau balau.
Orang-orang jahat memperebutkan kedudukan dan saling berlomba mendapatkan
singgasana. Oleh karena itulah belum waktunya pusaka ini kembali ke Mataram.
Maka aku sengaja memberikan kepada kalian berdua dengan dipisah, agar tidak
mudah kedua-duanya jatuh ke tangan orang jahat. Endang dan kau Joko. Setelah
pusaka ini berada di tangan kalian, sekarang juga kalian harus mencari tempat
persembunyian, kalian harus sembunyikan pusaka-pusaka itu di tempat yang aman,
yang hanya kalian saja yang mengetahui. Dan ingat, biarpun nyawa kalian
terancam, jangan sekali-kali kalian beritahukan kepada orang lain tentang
pusaka itu. Kalian adalah cucu-cucuku, maka aku mempercayakan pusaka ini kepada
kalian. Dapatkah kalian kupercaya?"
"Aku akan
melindungi pusaka ini dengan nyawaku, eyang!" Endang Patibroto berkata
sambil mainkan keris itu. Ia cekatan dan lincah sehingga ketika ia menggerakkan
kerisnya tampak sinar berkilauan dan terdengar suara seperti halilintar.
"Saya
akan mentaati perintah eyang guru," jawab Joko Wandiro.
"Bagus,
kalau begitu sekarang juga kalian lekas pergi menyembunyikan pusaka-pusaka itu.
Aku menanti di sini."
Tanpa menanti
perintah dua kali karena anak-anak itu memang cerdik dan tahu bahwa
pusaka-pusaka di tangan mereka itu amat diingini orang-orang jahat di dunia,
Joko Wandiro dan Endang Patibroto berlari pergi, seorang ke barat seorang ke
timur. Joko Wandiro tiba di tepi pulau itu yang penuh batu karang dan di situ terdapat
banyak guha-guha batu. Akan tetapi guha itu demikian banyaknya dan bentuknya
serupa. Bagaimana kalau kelak ia lupa lagi? Pula, tempat seperti ini malah
mencurigakan orang. Ia harus menyembunyikan patung kecil itu di tempat yang
tidak disangka-sangka orang, pikirnya. Akan tetapi di mana? Tiba-tiba wajahnya
yang tampan berseri ketika ia memandang kepada sebatang pohon randu yang besar.
Pulau ini kosong, tidak ditinggali orang. Andaikata ada orang di pulau itu
membutuhkan kayu, tak mungkin susah-susah menebang pohon besar ini, pikirnya.
Banyak terdapat kayu di sekitar tempat itu, tinggal ambil saja. Pula, kayu
randu adalah kayu yang lemah, tidak baik untuk dibuat apapun, kurang kuat. Joko
Wandiro lalu mengambil sebuah batu yang tajam runcing dan dengan senjata ini
naiklah ia ke atas pohon randu. Di ujung batangnya yang paling atas, ia mulai
membuat lubang dengan batu itu, dengan perlahan-lahan dan hati-hati. Karena
kayu randu memang tidak keras, akhirnya ia berhasil membuat sebuah lubang cukup
besar dan disembunyikannya patung emas itu ke dalam lubang yang segera ia tutup
dengan kulit kayu randu yang tadi ia buka. Tempat yang amat aman dan tak
seorangpun manusia akan menyangka bahwa di dalam batang randu itu terdapat
sebuah pusaka yang dijadikan rebutan orang sedunia! Girang sekali hati Joko
Wandiro. Akan tetapi ketika ia membuang batu tajam itu dan mulai merayap turun,
tiba-tiba kakinya terasa sakit bukan main dan dapat dibayangkan betapa kagetnya
ketika betisnya itu dililit seekor ular hijau sebesar ibu jari kaki yang
menggigit tungkaknya. Ia berteriak dan pegangannya pada pohon terlepas,
tubuhnya roboh terguling. Ia memegang tubuh ular itu dan merenggutkannya dari
kaki, akan tetapi ular yang berwarna hijau itu membelit tangannya dan kini
malah menggigit pergelangan tangannya. Seluruh tubuhnya terasa panas dan
sakit-sakit,
"Aduh,
eyang....... celaka " Ia berlari, dan dalam marahnya karena ular itu tidak
dapat ia lepaskan dari lengan, iapun lalu menggigit leher ular hijau itu. Belum
jauh ia berlari, tubuhnya sudah terguling roboh dan ia pingsan.
Ular itu masih
menggigit pergelangan lengannya, akan tetapi ia sendiripun masih menggigit
leher ular itu sampai hampir putus! Sambil menggigit Joko Wandiro mengisap dan
mengisap terus saking marah dan bencinya sehingga tanpa ia sadari ia telah
minum darah ular, darah berikut racun ular yang terasa manis!
Sementara itu,
Endang Patibroto juga kebingungan ketika ia tiba di pantai timur. Pantai
sebelah ini amat indah, penuh rumput dan terdapat beberapa belas batang pohon nyiur
yang tinggi- tinggi. Kemana ia harus menyembunyikan sebatang keris itu? Ditanam
dalam tanah? Hanya itulah cara yang ia ketahui. Ia memilih sebatang pohon yang
paling besar, kemudian mulailah ia menggali tanah, mempergunakan keris pusaka
itu! Agaknya para tokoh sakti di empat penjuru dunia akan meringis kalau
melihat betapa pusaka yang mereka impi-impikan itu kini dipakai menggali tanah
oleh seorang anak kecil, seakan-akan pusaka itu hanyalah sebatang pisau dapur
saja! Mendadak Endang Patibroto terkejut. Hampir saja kepalanya tertimpa kelapa
yang berjatuhan dari atas. Ia menengok ke atas dan alangkah kagetnya ketika
melihat betapa buah-buah kelapa dari batang itu rontok semua dan daunnya
menjadi kering, juga batang kelapa menjadi kering sama sekali. Ia tidak tahu
bahwa pohon kelapa itu tidak kuat menerima hawa mujijat keris pusaka yang
menggali tanah di bawahnya!
"He,
bocah ayu, kau sedang apa di situ?"
Endang
Patibroto kaget seperti disengat kalajengking. Ia tersentak dan mencelat
berdiri, menyembunyikan keris di belakang tubuhnya sambil memandang. Kiranya,
tanpa ia ketahui, ada sebuah perahu mendarat tak jauh dari tempat itu. Sebuah
perahu kecil yang ditumpangi dua orang laki-laki yang memandangnya sambil
menyeringai menakutkan. Seorang di antara mereka masih muda, mukanya pucat
matanya juling. Yang ke dua sudah agak tua, akan tetapi mukanya kasar
bercambang-bauk dan matanya melotot seperti hendak meloncat keluar dari
tempatnya. Endang Patibroto mundur-mundur, tetap menyembunyikan kerisnya di
belakang tubuh sambil memandang mereka yang meloncat ke darat.
"Ha-ha-ha,
masih kecil sudah cantik jelita. Eh, cah ayu, apakah kau anak peri penjaga
pulau kosong ini?" kata si muka pucat dengan sikap ceriwis sekali.
"Mari
beri pamanmu cium selamat datang, ya?"
"Jangan
main-main, siapa tahu dia itu keluarganya. Eh, genduk (sebutan anak perempuan),
tahukah kau di mana rumah bapa Resi Bhargowo?"
Endang
Patibroto hanya menggeleng dan sepasang matanya yang lebar dan bening itu
memandang tak pernah berkedip. Dua orang itu masing-masing membawa golok besar
yang diselipkan di pinggang dan sikap mereka itu jelas membayangkan watak yang
kasar dan kejam.
No comments:
Post a Comment