Badai Laut Selatan ; Bagian 051


"Anak manis, kau tinggal bersama siapa di pulau ini? Mana ibumu? Wah,ibumu tentu masih muda dan cantik heh-heh!" Si juling berkata, lagi sambil mendekati.
"Adi Wirawa, jangan lupakan tugas kita. Kita di sini menyelidik, bukan bersenang-senang!" Si cambang-bauk menegur.
"Ah, kakang, bekerja saja tanpa senang-senang, membosankan. Anak ini manis sekali, ibunya tentu cantik. Biar kugendong dia dan kita ajak dia pulang, siapa tahu di rumahnya kita bisa bertemu dengan Resi Bhargowo, ha-haha! Hayo, nduk cah ayu, mari kugendong. Diupah cium, ya?"
Ia mendesak maju. Endang Patibroto masih mundur-mundur dan tangannya disembunyikan di belakang tubuh. Ketika si juling itu menubruk maju sambil tertawa-tawa, tiba-tiba dengan gerakan gesit Endang Patibroto miringkan tubuh, tangan kanannya menyambar ke depan laksana kilat cepatnya.
"Aduhhhh..... mati aku..... !!"
Sijuling itu terjengkang, menggelepar seperti seekor ayam dipotong lehernya, berkelojotan menggeliat-geliat kemudian tak bergerak lagi, tubuhnya kering dan hangus, mati seketika! Temannya berdiri terbelalak, matanya yang lebar itu makin lebar lagi dan kumisnya yang tebal menggetar-getar. Ia memandang anak perempuan itu dengan heran dan marah. Anak itu paling banyak berusia sepuluh atau sebelas tahun, dengan sebatang keris di tangan, bagaimana dapat membunuh temannya? Dan mengapa temannya itu tidak kelihatan terluka, akan tetapi mati sedemikian mengerikan, bajunya hangus semua, kulitnya juga hangus dan kering? Akan tetapi kemarahannya meluap-luap dan ia sudah mencabut goloknya yang lebar dan besar.
"Bocah keparat! Bocah setan ..... !"
Ia menerjang dengan goloknya, lupa bahwa yang dihadapinya hanyalah seorang anak perempuan kecil. Namun Endang Patibroto adalah seorang bocah gemblengan yang sejak kecil sudah melatih diri dengan ilmu silat tinggi. Melihat golok itu berkelebat menerjangnya, ia cepat trengginas melompat ke samping sambil menggerakkan tangan kanan menyampok dari kanan.
"Trangggg ..... !!"

Si brewok menjerit kaget karena goloknya telah patah menjadi empat potong begitu bertemu dengan keris di tangan anak itu dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, kedua kakinya sudah lumpuh ketika keris itu mengeluarkan cahaya sehingga ia tidak mampu bergerak lagi. Sepasang mata yang lebar dari si brewok itu terbelalak ketakutan, mulutnya terbuka tanpa dapat mengeluarkan suara, hanya kedua tangannya menolak seolah-olah dengan gerakan itu ia akan dapat melindungi tubuhnya. Akan tetapi benda bercahaya itu tetap saja datang menyentuh dadanya.
"Aauuughhh!"
Hanya keluhan ini yang keluar dari mulutnya karena iapun mengalami nasib seperti si juling, tubuhnya menjadi kering dan hangus, mati seketika! Sejenak Endang Patibroto berdiri tercengang. Keris pusaka Brojol Luwuk masih berada di tangan kanannya. Sedikitpun tidak ada tanda darah di ujung keris itu. Anak perempuan yang baru berusia sepuluh tahun lebih ini sedikitpun tidak merasa ngeri bahwa tangannya telah membunuh dua orang lagi. Setahun yang lalu, ketika ia dan Joko Wandiro dihadang perampok-perampok, iapun dengan berani telah melukai dan membunuh dua orang perampok.

Akan tetapi sekarang lain lagi. Ia melihat betapa ampuh dan hebatnya keris di tangannya dan ia tercengang. Keris itu seakan-akan hidup kalau ia berhadapan dengan musuh, seakan-akan dapat bergerak sendiri dan sedikit menyentuh tubuh lawan saja sudah cukup membuat lawan roboh tewas dalam keadaan mengerikan, yaitu hangus dan kering! Di dalam hatinya, Endang Patibroto merasa girang bukan main, akan tetapi juga khawatir. Ia girang bahwa setelah setahun menerima gemblengan eyangnya, kini dalam menghadapi dua orang lawan itu gerakannya tidak ragu-ragu dan ia merasa betapa mudah mengalahkan lawan, girang pula bahwa ia telah memiliki keris pusaka yang ampuhnya menggiriskan. Geli hatinya kalau teringat olehnya betapa Joko Wandiro mendapatkan bagian patung kencana. Teringat akan ini, Endang Patibroto tersenyum geli. Biarlah Joko Wandiro mencari setendang dan menggendong golek kencana itu dan bertembang meninabobokkan! Alangkah lucunya! Akan tetapi hatinya khawatir melihat dua orang lawan yang sudah hangus tubuhnya itu. Eyangnya tentu akan marah bukan main. Kata eyangnya, pusaka itu adalah pusaka keraton Mataram yang ampuh dan terpuja. Kalau eyangnya melihat ia menggunakan pusaka itu untuk membunuh dua orang, tentu eyangnya akan marah. Selain itu, kemana ia dapat menyimpan pusaka keris di tangannya? Pusaka ini luar biasa ampuhnya dan sekarang tahulah ia bahwa saking ampuhnya, pohon nyiur tadi seketika menjadi kering dan mati ketika ia hendak mengubur keris itu di bawah pohon. Ia memandang keris di tangannya itu penuh perhatian. Kalau dilihat sepintas lalu, keris pusaka ini tidaklah amat aneh. Keris biasa saja berlekuk tujuh dan berwarna abu-abu. Akan tetapi karena tahu akan keampuhannya yang sudah terbukti, maka timbul rasa sayang besar sekali dalam hati anak itu dan ia mendekap keris itu di depan dadanya yang mulai membayangkan bagian menonjol.
"Tidak," kata hatinya. "Keris ini tidak akan kutinggalkan, akan kusimpan bersamaku, kubawa selalu. Aku harus pergi dari sini, kalau eyang marah melihat dua mayat ini kemudian minta kembali keris pusaka, aku rugi! Lebih baik aku pergi dan mencari ibu. Ibu tentu akan bangga melihat keris ini!"
Pikiran ini datang sekonyong-konyong dalam benaknya ketika Endang Patibroto melihat perahu yang ditumpangi dua orang tadi. Kesempatan baik baginya untuk pergi. Tanpa ragu-ragu lagi ia menyembunyikan keris pusaka di balik kembennya, kemudian lari menghampiri perahu dan mendorongnya ke tengah melawan ombak. Semenjak kecil sudah biasa dia bersama ibunya bermain-main dengan ombak laut yang jauh lebih besar daripada ombak di pantai pulau ini, dan bermain perahu tentu saja merupakan permainan sehari-hari baginya. Setelah berhasil melalui buih ombak yang memecah di pantai, perahunya mulai melaju ke tengah samudera dalam penyeberangan menuju ke daratan!

"Kakangmas Pujo ..... !"
Pujo yang sedang duduk termenung di depan pondoknya, terkejut. Pikirannya sedang sibuk, hatinya gelisah. Pertemuannya dengan Kartikosari beberapa hari yang lalu mendatangkan bermacam perasaan kepadanya. Rasa cinta, sesal, duka, dan kecewa, namun ada juga harapan yang membuatnya gembira. Isterinya masih hidup, masih mencintanya. Hal ini mudah saja ia duga, karena bukankah cinta kasih itu terpancar jelas dari pandang matanya? Namun kegembiraan dan harapan untuk kelak dapat bersatu dengan isterinya terganggu bermacam-macam kenyataan. Musuh besar mereka, si laknat yang melakukan perbuatan terkutuk terhadap isterinya di malam jahanam di Guha Siluman itu, belum terbalas. Bahkan mengetahuinya siapapun belum! Bukan Wisangjiwo Inilah yang membikin hatinya risau dan gelisah. Kalau bukan Wisangjiwo, berarti dosa putera adipati itu tidaklah sebesar yang disangka sebelumnya. Dan dia sudah membalas dengan hebat! Sudah menculik puteranya, dan membuat isterinya gila. Diam-diam rasa sesal menyusupi perasaan hati Pujo. Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sudah sepekan ini Joko Wandiro yang ia suruh mencari kuda di dusun belum juga datang! Ia merasa gelisah dan mengambil keputusan untuk menyusul dan mencarinya kalau hari ini belum juga pulang anak itu. Anak Wisangjiwo yang diculiknya, akan tetapi anak yang ia sayang sebagai murid, bahkan seperti telah menjadi puteranya sendiri. Suara wanita memanggilnya itu benar-benar mengejutkannya, akan tetapi juga sejenak wajahnya berseri karena timbul harapannya bahwa Kartikosari akhirnya datang kepadanya!
Akan tetapi setelah menengok, ia cepat bangkit berdiri dengan wajah terheran-heran. Wanita memang yang memanggilnya tadi, seorang wanita yang cantik manis, akan tetapi sama sekali bukanlah isterinya. Bukan Kartikosari! Usianya memang sebaya, mungkin hanya dua tiga tahun lebih muda daripada Kartikosari. Wajahnya manis, pandang matanya tajam, tubuhnya ramping padat, akan tetapi pada saat itu air mata turun mengalir di sepanjang kedua pipinya.
"Anda siapakah ..... ?" Akhirnya Pujo dapat bertanya sambil melangkah maju.

Wanita itu terisak, mengusap air mata dengan tangan kirinya. Akan tetapi hanya sebentar karena ia sudah dapat menguasai perasaannya kembali. Air matanya tidak mengucur lagi ketika ia mengangkat mukanya yang menjadi kemerahan dan menatap wajah Pujo dengan pandang mata tajam.
"Kakangmas Pujo, sepuluh tahun lamanya aku mencari-carimu. Setelah kini bertemu engkau tidak mengenalku lagi! Alangkah pahitnya kenyataan ini! Kakangmas Pujo, kelirukah penilaianku dalam hati tentang dirimu? Bukankah engkau seorang laki-laki jantan yang tidak akan mengingkari semua perbuatanmu, seorang satria yang berani mempertanggung jawabkan perbuatannya? Kakangmas, lupakah kau kepadaku, kepada ..... Roro Luhito ..... ?"
Ia terisak lagi dan beberapa butir air mata bertitik ke atas pipi. Pujo teringat. Pantas saja tadi serasa pernah ia melihat wanita ini! Akan tetapi mengapa seperti itu sikapnya dan seperti itu pula bicaranya? Pujo mengerutkan kening dan menduga-duga akan tetapi tetap tidak dapat mengerti. Ia mengangguk dan berkata,
"Ah, teringat aku sekarang. Engkau Roro Luhito puteri sang adipati di Selopenangkep yang dulu ikut pula mengepungku, bukan? Akan tetapi apa artinya semua ucapanmu tadi?"
Seketika berhenti tangis wanita itu. Kedua matanya yang masih berkaca-kaca (membasah) itu terbelalak memandang. Mata yang indah dan bening. Mulut yang mungil itu bergerak-gerak ketika giginya menggigit-gigit bibir bawah. Bibir yang berkulit tipis, merah dan penuh. Kedua tangan diangkat ke pinggang, mengepal dan jarinya meremas remas. Jari-jari kecil meruncing.
"Kau....... kau pura-pura tidak tahu... ? Pura-pura lupa ? Serendah inikah budimu? Benarkah engkau begini....... begini....... pengecut??"
Pujo menjadi makin heran, akan tetapi lapun merasa tak senang disebut pengecut dan rendah budi.
"Roro Luhito! Hati-hatilah engkau dengan kata-katamu! Aku tidak akan mengingkari semua perbuatanku dan aku sama sekali bukanlah seorang pengecut yang rendah budi. Memang benar, sepuluh tahun yang lalu aku telah menyerbu gedung ayahmu, melukai ayahmu dan membunuh beberapa orang pengawal. Kemudian aku telah menculik isteri dan putera kakakmu! Tidak kusangkal bahwa aku kemudian telah meninggalkan isteri kakakmu di Guha Siluman dan membawa lari putera kakakmu! Nah, aku tidak menyangkal semua perbuatanku. Habis, kau mau apa? Hendak membalas dendam?"
Akan tetapi pengakuan Pujo ini sama sekali tidak memuaskan hati Roro Luhito, bahkan membuat ia makin marah. Hampir berteriak ia ketika berkata,
"Bagus! Hanya itukah yang kaulakukan? Mengapa engkau tidak menyebut-nyebut perbuatan yang kaulakukan terhadap aku?"
"Perbuatan yang kulakukan terhadapmu?" Pujo mengingat-ingat, lalu tertawa.
"Ahh, ketika engkau ikut mengeroyokku? Dan kau terguling roboh? Hanya untuk perbuatan itu saja engkau mencari-cariku sampai sepuluh tahun?"

Pujo makin terheran-heran, apalagi ketika teringat betapa sikap wanita ini tadi amat mesra memanggilnya, sama sekali bukan sikap seorang yang hendak menuntut balas atas kekalahannya dahulu. Kini pandang mata Roro Luhito seperti mengeluarkan api saking marahnya.
"Pujo! Engkau tidak mengaku tentang perbuatanmu dalam....... dalam ....... bilikku .......?"
Pujo tertegun. Wanita ini tidak main-main agaknya. Akan tetapi, ia tak pernah merasa melakukan sesuatu dalam biliknya! Ia mengingat-ingat keras akan tetapi tidak menemui jawaban. Gilakah wanita ini? Sayang kalau gila, wanita begini manis. Ia menggeleng kepala.
"Aku tidak....... penah memasuki bilikmu "
"Keparat! Kalau kau menyangkal, berarti kau harus mampus di tanganku!"
Roro Luhito mengeluarkan pekik menyeramkan, seperti bukan pekik seorang manusia, lebih mirip pekik seekor monyet betina. Akan tetapi terjangannya hebat sekali, tubuhnya sudah menyerbu ke depan, kedua tangan mencengkeram, kedua kaki menendang, cepat dan dahsyat seperti topan mengamuk!
"Haaaiiittt!!"
Pujo terkejut sekali dan mengeluarkan teriakan ini sambil cepat mengelak dan menggunakan tangannya menangkis. Alangkah kagetnya ketika lengannya bertemu dengan tangan Roro Luhito, ia merasa hawa panas menyambar dari tangan itu. Serangan wanita ini tak boleh dipandang ringan. Di lain fihak Roro Luhito juga terkejut karena tubuhnya terpental ke belakang ketika lengannya ditangkis. Memang Roro Luhito yang sekarang berbeda dengan puteri Adipati Selopenangkep sepuluh tahun yang lalu. Ia telah digembleng oleh gurunya, Resi Telomoyo dan menerima banyak ilmu. Bukan sembarang ilmu. Aji Sosro Satwo (Seribu Binatang) dan Kapi Dibyo membuat ia menjadi kuat dan tangkas, memiliki tenaga mujijat yang timbul dari hawa sakti di dalam tubuh yang sudah dapat dihimpunnya. Namun, menghadapi Pujo ia kalah latihan dan kalah tenaga. Melihat dengan gerakan yang amat sigap dan cepat wanita itu sudah hendak menerjangnya lagi, Pujo cepat mengangkat tangan dan berkata,
"E-ehh ......... setop! Setop dulu!"

<<< Bagian 050                                                                                    Bagian 052 >>>

No comments:

Post a Comment