"Anak manis, kau tinggal bersama siapa di pulau ini? Mana ibumu? Wah,ibumu tentu masih muda dan cantik heh-heh!" Si juling berkata, lagi sambil mendekati.
"Adi
Wirawa, jangan lupakan tugas kita. Kita di sini menyelidik, bukan
bersenang-senang!" Si cambang-bauk menegur.
"Ah,
kakang, bekerja saja tanpa senang-senang, membosankan. Anak ini manis sekali,
ibunya tentu cantik. Biar kugendong dia dan kita ajak dia pulang, siapa tahu di
rumahnya kita bisa bertemu dengan Resi Bhargowo, ha-haha! Hayo, nduk cah ayu,
mari kugendong. Diupah cium, ya?"
Ia mendesak
maju. Endang Patibroto masih mundur-mundur dan tangannya disembunyikan di
belakang tubuh. Ketika si juling itu menubruk maju sambil tertawa-tawa,
tiba-tiba dengan gerakan gesit Endang Patibroto miringkan tubuh, tangan
kanannya menyambar ke depan laksana kilat cepatnya.
"Aduhhhh.....
mati aku..... !!"
Sijuling itu
terjengkang, menggelepar seperti seekor ayam dipotong lehernya, berkelojotan
menggeliat-geliat kemudian tak bergerak lagi, tubuhnya kering dan hangus, mati
seketika! Temannya berdiri terbelalak, matanya yang lebar itu makin lebar lagi
dan kumisnya yang tebal menggetar-getar. Ia memandang anak perempuan itu dengan
heran dan marah. Anak itu paling banyak berusia sepuluh atau sebelas tahun,
dengan sebatang keris di tangan, bagaimana dapat membunuh temannya? Dan mengapa
temannya itu tidak kelihatan terluka, akan tetapi mati sedemikian mengerikan,
bajunya hangus semua, kulitnya juga hangus dan kering? Akan tetapi kemarahannya
meluap-luap dan ia sudah mencabut goloknya yang lebar dan besar.
"Bocah
keparat! Bocah setan ..... !"
Ia menerjang
dengan goloknya, lupa bahwa yang dihadapinya hanyalah seorang anak perempuan
kecil. Namun Endang Patibroto adalah seorang bocah gemblengan yang sejak kecil
sudah melatih diri dengan ilmu silat tinggi. Melihat golok itu berkelebat
menerjangnya, ia cepat trengginas melompat ke samping sambil menggerakkan
tangan kanan menyampok dari kanan.
"Trangggg
..... !!"
Si brewok
menjerit kaget karena goloknya telah patah menjadi empat potong begitu bertemu
dengan keris di tangan anak itu dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, kedua
kakinya sudah lumpuh ketika keris itu mengeluarkan cahaya sehingga ia tidak
mampu bergerak lagi. Sepasang mata yang lebar dari si brewok itu terbelalak
ketakutan, mulutnya terbuka tanpa dapat mengeluarkan suara, hanya kedua
tangannya menolak seolah-olah dengan gerakan itu ia akan dapat melindungi
tubuhnya. Akan tetapi benda bercahaya itu tetap saja datang menyentuh dadanya.
"Aauuughhh!"
Hanya keluhan
ini yang keluar dari mulutnya karena iapun mengalami nasib seperti si juling,
tubuhnya menjadi kering dan hangus, mati seketika! Sejenak Endang Patibroto
berdiri tercengang. Keris pusaka Brojol Luwuk masih berada di tangan kanannya.
Sedikitpun tidak ada tanda darah di ujung keris itu. Anak perempuan yang baru
berusia sepuluh tahun lebih ini sedikitpun tidak merasa ngeri bahwa tangannya
telah membunuh dua orang lagi. Setahun yang lalu, ketika ia dan Joko Wandiro
dihadang perampok-perampok, iapun dengan berani telah melukai dan membunuh dua
orang perampok.
Akan tetapi
sekarang lain lagi. Ia melihat betapa ampuh dan hebatnya keris di tangannya dan
ia tercengang. Keris itu seakan-akan hidup kalau ia berhadapan dengan musuh,
seakan-akan dapat bergerak sendiri dan sedikit menyentuh tubuh lawan saja sudah
cukup membuat lawan roboh tewas dalam keadaan mengerikan, yaitu hangus dan
kering! Di dalam hatinya, Endang Patibroto merasa girang bukan main, akan
tetapi juga khawatir. Ia girang bahwa setelah setahun menerima gemblengan
eyangnya, kini dalam menghadapi dua orang lawan itu gerakannya tidak ragu-ragu
dan ia merasa betapa mudah mengalahkan lawan, girang pula bahwa ia telah
memiliki keris pusaka yang ampuhnya menggiriskan. Geli hatinya kalau teringat
olehnya betapa Joko Wandiro mendapatkan bagian patung kencana. Teringat akan
ini, Endang Patibroto tersenyum geli. Biarlah Joko Wandiro mencari setendang
dan menggendong golek kencana itu dan bertembang meninabobokkan! Alangkah
lucunya! Akan tetapi hatinya khawatir melihat dua orang lawan yang sudah hangus
tubuhnya itu. Eyangnya tentu akan marah bukan main. Kata eyangnya, pusaka itu
adalah pusaka keraton Mataram yang ampuh dan terpuja. Kalau eyangnya melihat ia
menggunakan pusaka itu untuk membunuh dua orang, tentu eyangnya akan marah.
Selain itu, kemana ia dapat menyimpan pusaka keris di tangannya? Pusaka ini
luar biasa ampuhnya dan sekarang tahulah ia bahwa saking ampuhnya, pohon nyiur
tadi seketika menjadi kering dan mati ketika ia hendak mengubur keris itu di
bawah pohon. Ia memandang keris di tangannya itu penuh perhatian. Kalau dilihat
sepintas lalu, keris pusaka ini tidaklah amat aneh. Keris biasa saja berlekuk
tujuh dan berwarna abu-abu. Akan tetapi karena tahu akan keampuhannya yang
sudah terbukti, maka timbul rasa sayang besar sekali dalam hati anak itu dan ia
mendekap keris itu di depan dadanya yang mulai membayangkan bagian menonjol.
"Tidak,"
kata hatinya. "Keris ini tidak akan kutinggalkan, akan kusimpan bersamaku,
kubawa selalu. Aku harus pergi dari sini, kalau eyang marah melihat dua mayat
ini kemudian minta kembali keris pusaka, aku rugi! Lebih baik aku pergi dan
mencari ibu. Ibu tentu akan bangga melihat keris ini!"
Pikiran ini
datang sekonyong-konyong dalam benaknya ketika Endang Patibroto melihat perahu
yang ditumpangi dua orang tadi. Kesempatan baik baginya untuk pergi. Tanpa
ragu-ragu lagi ia menyembunyikan keris pusaka di balik kembennya, kemudian lari
menghampiri perahu dan mendorongnya ke tengah melawan ombak. Semenjak kecil
sudah biasa dia bersama ibunya bermain-main dengan ombak laut yang jauh lebih
besar daripada ombak di pantai pulau ini, dan bermain perahu tentu saja
merupakan permainan sehari-hari baginya. Setelah berhasil melalui buih ombak
yang memecah di pantai, perahunya mulai melaju ke tengah samudera dalam
penyeberangan menuju ke daratan!
"Kakangmas
Pujo ..... !"
Pujo yang
sedang duduk termenung di depan pondoknya, terkejut. Pikirannya sedang sibuk,
hatinya gelisah. Pertemuannya dengan Kartikosari beberapa hari yang lalu mendatangkan
bermacam perasaan kepadanya. Rasa cinta, sesal, duka, dan kecewa, namun ada
juga harapan yang membuatnya gembira. Isterinya masih hidup, masih mencintanya.
Hal ini mudah saja ia duga, karena bukankah cinta kasih itu terpancar jelas
dari pandang matanya? Namun kegembiraan dan harapan untuk kelak dapat bersatu
dengan isterinya terganggu bermacam-macam kenyataan. Musuh besar mereka, si
laknat yang melakukan perbuatan terkutuk terhadap isterinya di malam jahanam di
Guha Siluman itu, belum terbalas. Bahkan mengetahuinya siapapun belum! Bukan
Wisangjiwo Inilah yang membikin hatinya risau dan gelisah. Kalau bukan
Wisangjiwo, berarti dosa putera adipati itu tidaklah sebesar yang disangka
sebelumnya. Dan dia sudah membalas dengan hebat! Sudah menculik puteranya, dan
membuat isterinya gila. Diam-diam rasa sesal menyusupi perasaan hati Pujo.
Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sudah sepekan ini Joko Wandiro
yang ia suruh mencari kuda di dusun belum juga datang! Ia merasa gelisah dan
mengambil keputusan untuk menyusul dan mencarinya kalau hari ini belum juga
pulang anak itu. Anak Wisangjiwo yang diculiknya, akan tetapi anak yang ia
sayang sebagai murid, bahkan seperti telah menjadi puteranya sendiri. Suara
wanita memanggilnya itu benar-benar mengejutkannya, akan tetapi juga sejenak
wajahnya berseri karena timbul harapannya bahwa Kartikosari akhirnya datang
kepadanya!
Akan tetapi
setelah menengok, ia cepat bangkit berdiri dengan wajah terheran-heran. Wanita
memang yang memanggilnya tadi, seorang wanita yang cantik manis, akan tetapi
sama sekali bukanlah isterinya. Bukan Kartikosari! Usianya memang sebaya,
mungkin hanya dua tiga tahun lebih muda daripada Kartikosari. Wajahnya manis,
pandang matanya tajam, tubuhnya ramping padat, akan tetapi pada saat itu air
mata turun mengalir di sepanjang kedua pipinya.
"Anda
siapakah ..... ?" Akhirnya Pujo dapat bertanya sambil melangkah maju.
Wanita itu
terisak, mengusap air mata dengan tangan kirinya. Akan tetapi hanya sebentar
karena ia sudah dapat menguasai perasaannya kembali. Air matanya tidak mengucur
lagi ketika ia mengangkat mukanya yang menjadi kemerahan dan menatap wajah Pujo
dengan pandang mata tajam.
"Kakangmas
Pujo, sepuluh tahun lamanya aku mencari-carimu. Setelah kini bertemu engkau
tidak mengenalku lagi! Alangkah pahitnya kenyataan ini! Kakangmas Pujo,
kelirukah penilaianku dalam hati tentang dirimu? Bukankah engkau seorang
laki-laki jantan yang tidak akan mengingkari semua perbuatanmu, seorang satria
yang berani mempertanggung jawabkan perbuatannya? Kakangmas, lupakah kau
kepadaku, kepada ..... Roro Luhito ..... ?"
Ia terisak
lagi dan beberapa butir air mata bertitik ke atas pipi. Pujo teringat. Pantas
saja tadi serasa pernah ia melihat wanita ini! Akan tetapi mengapa seperti itu
sikapnya dan seperti itu pula bicaranya? Pujo mengerutkan kening dan
menduga-duga akan tetapi tetap tidak dapat mengerti. Ia mengangguk dan berkata,
"Ah,
teringat aku sekarang. Engkau Roro Luhito puteri sang adipati di Selopenangkep
yang dulu ikut pula mengepungku, bukan? Akan tetapi apa artinya semua ucapanmu
tadi?"
Seketika
berhenti tangis wanita itu. Kedua matanya yang masih berkaca-kaca (membasah)
itu terbelalak memandang. Mata yang indah dan bening. Mulut yang mungil itu
bergerak-gerak ketika giginya menggigit-gigit bibir bawah. Bibir yang berkulit
tipis, merah dan penuh. Kedua tangan diangkat ke pinggang, mengepal dan jarinya
meremas remas. Jari-jari kecil meruncing.
"Kau.......
kau pura-pura tidak tahu... ? Pura-pura lupa ? Serendah inikah budimu? Benarkah
engkau begini....... begini....... pengecut??"
Pujo menjadi
makin heran, akan tetapi lapun merasa tak senang disebut pengecut dan rendah
budi.
"Roro
Luhito! Hati-hatilah engkau dengan kata-katamu! Aku tidak akan mengingkari
semua perbuatanku dan aku sama sekali bukanlah seorang pengecut yang rendah
budi. Memang benar, sepuluh tahun yang lalu aku telah menyerbu gedung ayahmu,
melukai ayahmu dan membunuh beberapa orang pengawal. Kemudian aku telah
menculik isteri dan putera kakakmu! Tidak kusangkal bahwa aku kemudian telah meninggalkan
isteri kakakmu di Guha Siluman dan membawa lari putera kakakmu! Nah, aku tidak
menyangkal semua perbuatanku. Habis, kau mau apa? Hendak membalas dendam?"
Akan tetapi
pengakuan Pujo ini sama sekali tidak memuaskan hati Roro Luhito, bahkan membuat
ia makin marah. Hampir berteriak ia ketika berkata,
"Bagus!
Hanya itukah yang kaulakukan? Mengapa engkau tidak menyebut-nyebut perbuatan
yang kaulakukan terhadap aku?"
"Perbuatan
yang kulakukan terhadapmu?" Pujo mengingat-ingat, lalu tertawa.
"Ahh,
ketika engkau ikut mengeroyokku? Dan kau terguling roboh? Hanya untuk perbuatan
itu saja engkau mencari-cariku sampai sepuluh tahun?"
Pujo makin
terheran-heran, apalagi ketika teringat betapa sikap wanita ini tadi amat mesra
memanggilnya, sama sekali bukan sikap seorang yang hendak menuntut balas atas
kekalahannya dahulu. Kini pandang mata Roro Luhito seperti mengeluarkan api
saking marahnya.
"Pujo!
Engkau tidak mengaku tentang perbuatanmu dalam....... dalam ....... bilikku
.......?"
Pujo tertegun.
Wanita ini tidak main-main agaknya. Akan tetapi, ia tak pernah merasa melakukan
sesuatu dalam biliknya! Ia mengingat-ingat keras akan tetapi tidak menemui
jawaban. Gilakah wanita ini? Sayang kalau gila, wanita begini manis. Ia
menggeleng kepala.
"Aku
tidak....... penah memasuki bilikmu "
"Keparat!
Kalau kau menyangkal, berarti kau harus mampus di tanganku!"
Roro Luhito
mengeluarkan pekik menyeramkan, seperti bukan pekik seorang manusia, lebih
mirip pekik seekor monyet betina. Akan tetapi terjangannya hebat sekali, tubuhnya
sudah menyerbu ke depan, kedua tangan mencengkeram, kedua kaki menendang, cepat
dan dahsyat seperti topan mengamuk!
"Haaaiiittt!!"
Pujo terkejut
sekali dan mengeluarkan teriakan ini sambil cepat mengelak dan menggunakan
tangannya menangkis. Alangkah kagetnya ketika lengannya bertemu dengan tangan
Roro Luhito, ia merasa hawa panas menyambar dari tangan itu. Serangan wanita
ini tak boleh dipandang ringan. Di lain fihak Roro Luhito juga terkejut karena
tubuhnya terpental ke belakang ketika lengannya ditangkis. Memang Roro Luhito
yang sekarang berbeda dengan puteri Adipati Selopenangkep sepuluh tahun yang
lalu. Ia telah digembleng oleh gurunya, Resi Telomoyo dan menerima banyak ilmu.
Bukan sembarang ilmu. Aji Sosro Satwo (Seribu Binatang) dan Kapi Dibyo membuat
ia menjadi kuat dan tangkas, memiliki tenaga mujijat yang timbul dari hawa
sakti di dalam tubuh yang sudah dapat dihimpunnya. Namun, menghadapi Pujo ia
kalah latihan dan kalah tenaga. Melihat dengan gerakan yang amat sigap dan
cepat wanita itu sudah hendak menerjangnya lagi, Pujo cepat mengangkat tangan
dan berkata,
"E-ehh
......... setop! Setop dulu!"
No comments:
Post a Comment