"Mau bicara apa lagi?" Roro Luhito membentak marah, akan tetapi sepasang matanya yang bening berair.
"Roro
Luhito, sikapmu membuat orang penasaran dan tidak mengerti. Kalau kau marah dan
hendak membalasku karena perbuatanku seperti yang telah kuceritakan tadi, yaitu
menculik keponakanmu, melukai ayahmu, mengalahkan kau dan membunuh beberapa
orang pengawal ketika aku menyerbu Selopenangkep, aku dapat menerimanya dan
tidak akan menjadi penasaran. Akan tetapi, kau menuduhku melakukan sesuatu
terhadapmu di dalam bilikmu! Nanti dulu!" Pujo menghindar dari sebuah
serangan kilat.
"Dengarkan
dulu! Sungguh mati aku tidak mengerti apa yang kaumaksudkan! Perbuatan apakah
itu?"
Tentu saja
amat sukar bagi seorang gadis seperti Roro Luhito untuk menceritakan peristiwa
sepuluh tahun yang lalu, pada malam hari di dalam biliknya yang gelap ia
menganggap bahwa Pujo ini berpura-pura saja, atau agaknya sengaja hendak
membikin dia malu dan hendak memaksa dia yang mengadakan pengakuan. Hal ini
membuat kemarahannya meluap-luap dan ia segera menerjang setelah membentak,
"Boleh
saja kau pura-pura tidak tahu! Akan tetapi engkau atau aku harus mati untuk
menebus peristiwa jahanam itu!"
Kembali tanpa
memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak bicara, Roro Luhito sudah
menerjang lagi dengan gerakan yang amat cepat, secepat monyet melompat, dan
bukan hanya tangan kirinya yang mencengkeram ke arah muka lawan mengarah kedua
mata, akan tetapi juga tangan kanannya yang sudah mencabut cundrik itu menghantam
ke arah dada dengan tusukan kilat. Bukan main hebatnya serangan ini, dilakukan
selagi tubuhnya masih mencelat di atas udara!
Pujo
benar-benar kaget. Sepuluh tahun yang lalu pernah ia menghadapi gadis ini
ketika ia dikeroyok di Kadipaten Selopenangkep, akan tetapi tidaklah sehebat
ini gerakan gadis itu. Gerakannya sekarang selain tangkas dan kuat, juga amat
aneh, seperti gerakan seekor binatang buas. Dalam keheranannya, Pujo berlaku
hati-hati. Cepat ia menggerakkan tubuh miring ke kanan untuk menghindarkan diri
daripada cengkeraman tangan lawan. Adapun tusukan cundrik itu terpaksa ia
tangkis dengan tamparan jari-jari yang menggunakan Aji Pethit Nogo.
"Plakk!"
"Aduh
......... !"
Cundrik itu
terlepas dari tangan Roro Luhito yang merasa betapa tangan kanannya seakan-akan
remuk semua tulangnya dan menjadi lumpuh. Ia terguling roboh ke atas pasir,
akan tetapi cepat sekali ia sudah meloncat dan tiba-tiba tangan kirinya
menyambar. Pujo berusaha mengelak akan tetapi karena serangan wanita yang sudah
ia robohkan itu benar-benar sama sekali tidak pernah diduganya, sebagian dari
pasir yang disebarkan oleh Roro Luhito itu mengenai matanya. Pujo mengeluh,
kedua matanya pedas dipejamkan dan ia terhuyung ke belakang. Roro Luhito tidak
menyia-nyiakan kesempatan ini dan kakinya menendang, tepat mengenai dada Pujo
yang terjengkang ke belakang dan jatuh terbanting ke atas pasir. Roro Luhito
yang sudah meluap kemarahannya itu menubruk, dengan maksud menghabiskan nyawa
lawannya dengan pukulan-pukulan maut. Tentu saja Pujo juga maklum akan bahaya
ini, biarpun kedua matanya untuk sementara tak dapat ia buka, namun telinganya
dapat menangkap sambaran tubuh dan tangan Roro Luhito yang menubruknya. Ia
menggulingkan tubuh ke kiri sehingga tubrukan Roro Luhito mengenai tempat kosong
dan Pujo yang tahu bahaya ini dengan mata masih terpejam cepat meringkusnya dan
memegang kedua tangannya.
"Lepaskan!
Setan keparat........ lepaskan.......!"
Roro Luhito
menjerit-jerit dan bergumullah kedua orang itu di atas pasir yang halus. Karena
kemarahannya Roro Luhito menjadi ganas dan buas dan dalam usahanya membebaskan
kedua pergelangan tangannya yang terpegang erat-erat oleh tangan Pujo, ia
meronta-ronta, bahkan lalu menggigit! Karena Pujo masih meram dan mereka
bergumul tak teratur dalam ilmu perkelahian lagi, maka pipi kiri Pujo tergigit
.
"Aduhhhhh
!! Adu-du-duhhh lepaskan! Eh, kok mengigit.......... !"
Saking
sakitnya Pujo mengaduh-aduh dan cepat ia mengerahkan tenaganya melemparkan
tubuh Roro Luhito ke depan, lalu cepat meloncat berdiri. Untung, rasa pedas
pada matanya membuat air matanya bercucuran dan air mata inilah yang mencuci
dan membawa keluar pasir yang memasuki matanya sehingga pada saat itu Pujo
sudah mampu membuka mata kirinya.
"Brukkk!"
Tubuh Roro
Luhito terlempar dan terbanting keras. Untung bahwa tempat itu adalah pesisir
laut yang banyak pasirnya sehingga terbanting sekeras itu hanya terasa pedas
dan agak nyarem bagian pinggulnya. Roro Luhito menyumpah-nyumpah ketika bangkit
sambil mengelus pinggulnya. Juga Pujo menyumpah-nyumpah ketika meraba pipi
kirinya yang berdarah. Kini ia berhasil pula membuka mata kanannya. Kedua
matanya merah dan masih berair, akan tetapi sudah terbebas dari pasir. Mereka
kini berdiri berhadapan, dalam jarak tiga meter, saling pandang, penuh
kemarahan.
"Kau
......... perempuan liar!" Pujo memaki, timbul kemarahannya.
"Dan kau
......... laki-laki pengecut !"
Roro Luhito
balas memaki, juga marah sekali karena hatinya telah dikecewakan. Sama sekali
tak disangkanya bahwa Pujo menyangkal perbuatannya sepuluh tahun yang lalu,
perbuatan yang disangkanya benar-benar berlandaskan cinta kasih seperti yang
dibisikkannya sepuluh tahun yang lalu. Betapa kecewa hatinya kini. Sepuluh
tahun ia mengharap-harapkan pertemuan ini, mengharapkan penerimaan Pujo dengan
hati gembira dan perasaan bahagia, mengharapkan dapat menjadi isteri Pujo,
selain untuk menebus aib juga untuk melaksanakan hasrat hatinya yang mencinta.
Siapa kira, Pujo selain menyangkal, juga memakinya dan kini bahkan melawan dan
mengalahkannya. Rasa kecewa membuat ia menjadi nekad dan kini hanya ada satu
harapan di hatinya, yaitu membunuh laki-laki yang ia cinta dan yang
mengecewakan hatinya ini, kemudian membunuh diri sendiri!.
Roro Luhito
yang sudah nekat itu lalu menerjang maju lagi sambil mengeluarkan pekik yang
melengking tinggi seperti pekik tantangan marah seekor monyet betina yang
diganggu anaknya. Ia telah mengeluarkan semua ajinya yang ia peroleh dari
gurunya, Resi Telomoyo. Mendengar pekik yang mengiringi Aji Sosro Satwo ini,
semua binatang buas di dalam hutan tentu akan lari tunggang-langgang. Seekor
harimau yang liar sekalipun akan lari bersembunyi mendengar pekik ini! Tubuh
Roro Luhito melompat ke depan, kaki tangannya melakukan serangan bertubi-tubi
yang sifatnya liar ganas, namun juga amat berbahaya. Pujo maklum bahwa wanita
ini tak boleh dipandang ringan, maka iapun lalu mengerahkan ajinya, Aji Bayu
Tantra yang membuat tubuhnya ringan laksana kapas gesit laksana burung
srikatan, juga ia mengerahkan Aji Pethit Npgo ke dalam sepuluh jari tangannya.
Biarpun ia sama sekali tidak mempunyai niat membunuh wanita ini, namun tanpa
Aji Pethit Nogo, agaknya tidak akan mudah baginya untuk mengatasi kedahsyatan
serangan Roro Luhito. Bukan main cepatnya gerakan kedua orang itu. Ketika Roro
Luhito menerjang dan menyerang bertubi-tubi dan Pujo mengelak ke sana ke mari
mengandalkan ilmunya Bayu Tantra, lenyaplah kedua orang itu, yang tampak hanya
bayangan mereka berkelebatan dan kadang-kadang bergumul menjadi satu. Ketika
mendapat kesempatan menangkis, Pujo mempergunakan jari tangannya untuk
dikipatkan ke arah lengan Roro Luhito. Akan tetapi wanita inipun bukanlah
seorang wanita biasa. Ia cukup cerdik dan maklum bahwa lawannya memiliki
jari-jari tangan yang kuat dan mengeluarkan hawa panas yang bukan main, maka
setiap kali Pujo menangkis, ia selalu menarik kembali tangannya untuk diganti
dengan pukulan lain yang lebih berbahaya dan yang kecepatannya tak mungkin
dapat ditangkis kecuali hanya dielakkan secara cepat pula.
Gerakan Roro
Luhito selain cepat juga aneh dan bertubi-tubi. Kadang-kadang kelihatan seperti
gesitnya seekor Kera, kadang-kadang seperti menyambarnya seekor burung elang,
atau seperti ganasnya harimau menerkam. Memang Ilmu Silat Sosro Satwo ini,
sesuai dengan namanya yang berarti Seribu Binatang, mengambil inti sari
daripada gerakan bermacam-macam binatang hutan. Repot juga Pujo menghadapi ilmu
silat yang aneh itu. Untung ia menang kuat dan tubuhnya kebal, kalau tidak, ia
bisa kalah oleh lawannya. Belum pernah ia berhasil menangkis, malah sudah tiga
kali ia kena tendangan dan pukulan yang cukup membuat matanya berkunang, akan
tetapi tidak cukup kuat untuk membuatnya roboh. Kembali karena bingung
menghadapi serangan Roro Luhito yang gayanya berputaran seperti lagak seekor
ayam jago, lambung kirinya kena di "jalu", yaitu ditendang dengan
gaya seperti seekor ayam jago meneladung (menendang).
"Ngekkk!"
Terasa juga
kali ini. Lambungnya kena digajul keras sekali. Sejenak Pujo terengah, akan
tetapi gerakan Roro Luhito yang menendang sambil meloncat itu membuat rambutnya
yang panjang terurai ke depan. Pujo tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik
ini. Tangan kirinya meraih dan rambut panjang itu dapat dijambaknya dan ditarik
sehingga tubuh Roro Luhito terhuyung.
"Athooooouu!"
Ia menjerit-jerit kesakitan.
"Lepaskan!
Curang kau !".
Akan tetapi
Pujo yang masih mulas perutnya karena lambungnya digajul tadi, sudah menampar
dengan tangannya, ke arah tengkuk.
"Plakkk!"
Tidak keras
tamparan itu, namun karena jari tangannya masih mengandung hawa sakti Aji
Pethit Nogo, cukup membuat tubuh Roro Luhito terpelanting dan tak dapat bangun
kembali. Wanita itu merintih-rintih dan memegangi tengkuknya yang rasanya
seperti patah-patah!
"Heh si
keparat Pujo! Kau tidak menerimanya dengan baik-baik malah berani
merobohkannya? Aku tidak terima!"
Terdengar
suara keras, sesosok bayangan melesat dan menyambar ke arah kepala Pujo dari
atas. Pujo terkejut sekali, cepat ia menggerakkan kaki, tubuh ditekuk ke bawah
sehingga kakinya lurus dengan tanah. Cepat sekali gerakannya mengelak ini,
karena ia tahu akan kehebatan serangan dari atas maka ia menggunakan jurus
kelit Kemul Bantolo (Berselimut Tanah). Akan tetapi sungguh tak disangkanya dan
amat mengejutkan hatinya karena sungguhpun serangan pertama itu dapat ia
elakkan, akan tetapi secara aneh sekali kaki penyerang itu dapat menyeleweng
dan mendupak (menendang) pundaknya dengan kecepatan yang tak mungkin ia elakkan
lagi! Selain terkejut, juga Pujo merasa nyeri pundaknya.
Tendangan itu
tidak mengenai secara tepat, namun cukup membikin nyeri, tanda bahwa ini telah
menggunakan tenaga hebat yang keluar dari hawa sakti!. Pujo membanting diri ke
kiri terus bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan susulan, kemudian
ia melompat dan membalikkan tubuh dengar sigap dan siap dengan kuda-kuda yanj kuat.
Baru sekarang ia dapat melihat lawannya. Kiranya lawannya adalah seorang kakek
yang sudah putih semua rambutnya, akan tetapi kakek itu mukanya buruk sekali,
dahinya nonong, matanya cekung, hidungnya pesek, dagunya menonjol ke depan.
Muka seekor monyet! Dan sungguhpun kaki dan tangannya tidak berbulu seperti
seekor monyet, akan tetapi karena kulitnya agak putih dan rambutnya sudah putih
semua, kakek ini benar-benar mirip dengan seekor kera putih berpakaian! Kakek
yang aneh ini dengar gerakan yang aneh sekali telah menghampiri Roro Luhito dan
beberapa kali mengurut-urut tengkuk gadis itu dan seketika Roro Luhito dapat
bangkit kembali.
"Bapa
resi, dia menyangkal, malah menyerangku!" kata Roro Luhito dengan sikap
dan suara manja.
"Harap
bapa resi suka membunuh dia untuk membalas sakit yang ia datangkan kepada
diriku!"
"Jangan
khawatir, muridku yang denok. Heh, Pujo, kau laki-laki pengecut, berani berbuat
tidak berani bertanggung jawab! Kau telah memperkosa muridku, akan tetapi dia
bersedia memaafkan perbuatanmu bahkan ingin bersuwita (menghamba) kepadamu,
menerima sekalipun menjadi isterimu yang ke dua. Akan tetapi engkau tidak hanya
menyangkal perbuatanmu yang rendah, malah telah merobohkannya. Aku Resi
Telomoyo tidak suka bermusuhan dengan orang muda, akan tetapi sekali ini apa
boleh buat, karena mertuamu Resi Bhargowo tidak ada, aku sendirilah vang akan
memberi hajaran kepadamu!"
Kalau saja
tidak sedang menghadapi keadaan yang gawat dan berbahaya, juga kalau saja Pujo
tidak sedemikian terkejutnya mendengar ia didakwa memperkosa Roro Luhito, tentu
Pujo takkan dapat menahan ketawanya menyaksikan sikap kakek itu yang sambil
bicara panjang lebar tiada hentinya menggaruk-garuk kepala, punggung atau
bebokongnya, persis tingkah laku seekor monyet! Akan tetapi ia terlampau kaget
dan dengan muka merah ia berkata,
"Resi
adalah gelar bagi seorang pertapa yang sidik paninggal (tajam pandangan) dan
tidak hanya mendengarkan fitnah sepihak! Aku tidak pernah merasa melakukan
perbuatan serendah itu, bagaimana aku dapat mempertanggung jawabkannya?"
"Jahanam
keparat! Kalau kau tidak melakukan kekejian itu, apa perlunya aku mencarimu
sampai sepuluh tahun? Apa perlunya aku minggat dari kadipaten? Kau memang
manusia rendah, pengecut yang selain mendatangkan aib dengan keji juga telah
menculik kakak ipar dan keponakanku!"
No comments:
Post a Comment