Saking marahnya Pujo sampai tak dapat menjawab dan saat itu dipergunakan oleh Resi Telomoyo yang memang wataknya keras itu untuk menerjangnya lagi. Seperti juga Roro Luhito tadi, dalam penyerangannya ini kakek itu mengeluarkan suara geraman seperti seekor monyet jantan. Akan tetapi sepak terjangnya jauh berbeda dengan muridnya. Kakek ini jauh lebih ampuh gerakannya dan kedua tangan kakinya mendatangkan angin bersiutan tanda bahwa tenaga yang ia keluarkan mengandung hawa sakti yang dahsyat.
Pujo juga
marah, menganggap kakek ini keterlaluan, menjatuhkan tangan besi tanpa
pemeriksaan lebih dulu. Ia bergerak dengan Aji Bayu Tantra, demikian cepatnya
ia bergerak sampai tubuhnya lenyap menjadi bayangan berkelebatan, dan dengan
pengerahan tenaga ia menerjang, kadang-kadang dengan Aji Gelap Musti,
kadang-kadang dengan Aji Pethit Nogo yang ampuh.
"Wah-wah,
kau hebat, orang muda!"
Kakek itu
sambil menghindar ke sana ke mari dengan sigapnya memuji. Dengan kecepatan dan
gerakan aneh, kakek itu meloncat-loncat dan membingungkan Pujo. Tadi menghadapi
Roro Luhito saja ia sudah bingung dan beberapa kali kena dipukul. Apalagi
sekarang. Hanya bedanya, kalau tadi menghadapi Roro Luhito ia segan menurunkan
pukulan maut, kini menghadapi kakek yang ia tahu amat sakti itu ia tidak
segan-segan mengeluarkan semua ajiannya, bahkan mengerahkan tenaga mujijat yang
ia latih selama ini melawan gelombang Laut Selatan.
"Luar
biasa!" seru Resi Telomoyo sambil menggulingkan diri di atas pasir ketika
jari-jari tangan Pujo menyambar dengan Aji Pethit Nogo sehingga mengeluarkan
suara nyaring seperti cambuk menyambar. Sambil bergulingan kakek ini
menggunakan tipu seperti yang dipergunakan Roro Luhito. Pasir berhamburan
menyambar ke muka Pujo. Baiknya Pujo tadi sudah mengalami akibat tipu ini
sehingga ia sudah waspada dan melihat bayangan pasir menyambar, ia sudah
menutup mata dan mengelak. Namun pasir yang hanya merupakan butir-butiran kecil
itu ketika mengenai kulit muka dan leher, terasa seperti jarum-jarum yang
runcing menusuk-nusuk! Ia kaget sekali dan baiknya Pujo dapat menyalurkan hawa
sakti ke bagian yang terserang sehingga kulitnya hanya lecet-lecet saja akan
tetapi pasir tidak dapat menembus.
Dari ini saja
sudah dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga dalam kakek seperti monyet itu.
Orang biasa saja terkena sambaran pasir ini tentu akan tewas karena pasir itu
akan terus menembus kulit daging, bahkan mungkin dapat menembus tulang, tiada
ubahnya seperti peluru-peluru baja!
"Wah-wah,
tidak kecewa kau menjadi murid Resi Bhargowo!" Kembali kakek itu bicara
sambil menerjang terus. "Sayang kau mata keranjang dan pengecut!"
Makin marahlah
Pujo. Ia mencelat ke belakang agak jauh dan tahu-tahu ia sudah mencabut
kerisnya, yaitu pusaka Banuwilis yang mengeluarkan cahaya hijau. Keris berlekuk
sembilan ini mencorong dan hawanya seperti seekor ular hijau berbisa. Namun
Resi Telomoyo tidak gentar, hanya tersenyum mengejek.
"Ha-ha!
Belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, sudah mengeluarkan pusaka!
Ha-ha-ha!"
"Resi Telomoyo!
Entah perbuatan kita yang mana dan kapan yang menghasilkan akibat saat ini. Aku
tidak pernah memusuhi anda dan murid anda, akan tetapi andika agaknya
menghendaki kematianku! Apa boleh buat, kalau memang hendak mengadu nyawa,
silakan!"
Pujo memasang
kuda-kuda dengan keris pusaka di tangannya, siap untuk membunuh atau dibunuh!.
"Ha-ha-ha!
Mengakui dan menyesali perbuatan sendiri memang merupakan perkara yang paling
sulit dilakukan di dunia ini! Betapapun buruk perbuatan sendiri, selalu
dipandang dan dicari segi-segi kebaikannya. Aku tidak ingin membunuhmu, hanya
ingin memaksamu mempertanggung-jawabkan perbuatanmu terhadap muridku. Hayo, kau
boleh gunakan pusakamu, orang muda. Murid sama dengan anak, kalau guru tidak
membela muridnya, orang tua tidak membela anaknya, habis apa gunanya menjadi
guru atau orang tua? Kerahkan semua tenagamu, keluarkan semua aji kesaktianmu
kalau kau mau mengenal Resi Telomoyo!"
Pujo makin
mendongkol hatinya. Agaknya percuma saja bicara dengan dua orang itu.
Menyangkalpun tidak akan ada gunanya karena tidak dipercaya Maka ia lalu
berseru,
"Baik,
hati-hatilah, sang resi. Awas pusakaku!"
Ia menubruk
maju dan menerjang dengan hebat. Bukan main hebatnya serangan Pujo ini.
Kerisnya menyambarnyambar, lenyap ujudnya berubah menjadi segulung sinar hijau.
Sedangkan tangan kirinya dengan pengerahan tenaga dalam mengimbangi terjangan
kerisnya dengan pukulan-pukulan jari Pethit Nogo!.
Baiknya Resi
Telomoyo adalah seorang pertapa sakti yang sudah tinggi sekali tingkat ilmunya.
Ia seorang pemuja dan penyembah tokoh pewayangan Hanuman (Anoman), kera putih
yang terkenal sakti mandraguna di jaman Ramayana, kera putih yang menjadi
senopati dan yang seorang diri berani menyerbu Kerajaan Alengka, mempermainkan
raja denawa Prabu Dasamuka beserta semua perajuritnya. Resi Telomoyo memiliki
aji yang membuat tubuhnya dapat bergerak laksana terbang, ringan seperti kapas,
cepat seperti halilintar menyambar, dan hawa sakti di tubuhnya sudah mencapai
tingkat yang amat tinggi karena ia gentur tapa (tekun bertapa), waspada dan
sakti mandraguna. Hanya sayangnya, yang ia puja adalah seorang tokoh bertubuh
monyet, dan agaknya karena memang ia lebih menyayang monyet daripada manusia,
maka kekasaran, kenakalan, dan kelucuan seekor monyet menular kepadanya. Ia suka
main-main, kadang-kadang kasar dan nakal. Pandang matanya yang waspada
sebetulnya menyadarkan perasaannya bahwa Pujo adalah seorang laki-laki yang
baik dan agaknya tidak melakukan perbuatan hina terhadap muridnya. Akan tetapi
ia juga merasa yakin bahwa muridnya tidak membohong kepadanya. Kalau disuruh
memilih, percaya yang mana, tentu saja tanpa ragu-ragu lagi ia lebih percaya
muridnya! Pula, melihat orang muda itu memiliki kesaktian tinggi juga, timbul
keinginan hatinya untuk melawan dan mengalahkannya!. Pertandingan berlangsung
seru. Baru sekarang Roro Luhito melihat dengan mata sendiri betapa saktinya
Pujo! Tahulah ia kini bahwa tadi Pujo sengaja banyak mengalah terhadapnya.
Kalau tadi Pujo seperti sekarang ini sepak terjangnya, ia harus mengakui bahwa ia
takkan kuat menghadapi Pujo lebih dari dua puluh jurus. Gurunya memang hebat.
Akan tetapi agaknya mengalahkan Pujo yang memegang keris pusaka, bukan
merupakan hal yang mudah. Diam-diam ia merasa kagum kepada Pujo dan mau tidak
mau ia harus mengakui bahwa cinta kasih yang terpendam di hatinya bukan lenyap
oleh kemarahannya, bahkan makin menjadi. Ia menghela napas berulang-ulang
saking pedih hatinya oleh penolakan dan penyangkalan Pujo. Bisikan-bisikan Pujo
di dalam bilik dahulu! Pernyataan cintanya! Masih terngiang di telinganya
bisikan pada peristiwa di malam hari itu, sepuluh tahun yang lalu. Masih terasa
kehangatan lengan yang merangkulnya dan masih bergema bisikan halus,
"Luhito,
aku Pujo, aku tahu, engkau suka kepadaku seperti aku mencintaimu ......... "
Dan sekarang
Pujo menyangkal perbuatannya itu! Berpikir begini, panas lagi hatinya, panas
dan kecewa, maka menangislah ia terisak-isak sambil mendeprok (terduduk) di
atas pasir. Pandang mata Resi Telomoyo amat tajam. Biarpun ia sedang bertanding
seru dengan Pujo, akan tetapi ia dapat melihat muridnya yang menjatuhkan diri
di atas tanah dan menangis terisak-isak dengan sedihnya. Melihat ini,
kemarahannya meluap. Ia harus merobohkan pemuda ini dan memaksanya menerima
muridnya sebagai isteri! Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik yang amat dahsyat.
Pekik yang disertai hawa sakti sedemikian hebatnya sehingga Pujo sendiri hampir
tergetar tubuhnya, dan menggigil tangan yang memegang keris. Saat itu
dipergunakan oleh Resi Telomoyo untuk menendang pergelangan tangan yang
memegang keris. Tendangan yang amat keras sehingga terlepaslah sambungan
pergelangan tangan Pujo. Keris pusakanya terlempar dan sebelum ia tahu apa yang
terjadi, tubuhnya sudah terangkat dan terbanting di atas pasir. Matanya
berkunang, kepalanya pening dan sejenak Pujo tidak mampu bangun.
"Kakangmas
Pujo ......... !"
Jerit ini
disusul berkelebatnya sesosok bayangan yang gerakannya cepat sekali. Tahu-tahu
seorang wanita cantik muncul di depan Resi Telomoyo. Dia ini bukan lain adalah
Kartikosari. Melihat suaminya menggeletak tak berdaya dan kakek yang wajahnya
buruk menyeramkan berdiri di situ sedangkan seorang wanita cantik menangis tak
jauh dari situ, Kartikosari langsung menerjang Resi Telomoyo. Resi ini tadinya
terkesima karena tidak mengenal siapa wanita yang luar biasa cantiknya ini
sehingga ia memandang rendah. Pukulan dari Kartikosari adalah pukulan dengan
Aji Gelap Musti, dilakukan cepat sekali karena selama waktu sepuluh tahun ini
Kartikosari memperdalam ilmunya dan berhasil menciptakan gerakan yang diambil
dari gerakan burung camar di tepi laut.
"Plak!
Desssssss!!"
Resi Telomoyo
yang tidak menyangka-nyangka wanita itu sedemikian hebatnya, kena ditampar
lehernya dan ditonjok perutnya. Ia gelayaran (sempoyongan), jatuh terduduk dan
melongo saking herannya.
"Waduh,
galak dan tangkas !" Ia memuji.
Kartikosari
sejenak melongo juga. Pukulannya tadi adalah pukulan Gelap Musti dan jangankan
perut seorang manusia kalau tidak pecah atau remuk isinya, batu karang
sekalipun terkena hantamannya tadi akan remuk! Akan tetapi kakek aneh itu hanya
jatuh terduduk, dan matanya kethap-kethip seperti orang terheran saja, sama
sekali tidak seperti orang habis dipukul. Maklumlah ia bahwa kakek ini seorang
sakti, maka cepat ia berlutut dekat suaminya yang sudah dapat bangun duduk.
"Bagaimana,
kakangmas ? Kau .... kau terluka.. ?"
Pujo serasa
mimpi. Benar-benar Kartikosari sekarang yang berada di dekatnya, memeluk
pundaknya dan dengan wajah yang gelisah bertanya kalau-kalau ia terluka. Tanda
kasih sayang terbayang jelas di wajahnya yang selalu dirindukannya itu. Tak
dapat lagi ia menahan hasrat hatinya. Dirangkulnya leher isterinya, dibelai dan
hendak diciumnya! Kartikosari membuang muka mengelak.
"Hussshh,
orang lain melihat.... !"
Barulah Pujo
teringat dan sadar cepat ia menarik tubuh Kartikosari bangun dan berdiri. Resi
Telomoyo sudah berdiri pula, memandang dan menyeringai.
"Ho-ho-ho!
Kebetulan sekali! engkau isterinya? Engkau isteri Pujo? Kalau begitu engkau
tentu puteri Resi Bhargowo! Ha-ha, sungguh kebetulan dengarlah engkau akan
kelakuan suamimu yang bagus itu! Dia telah meng ....... "
"Bapa
guru, diam !!!" Tiba-tiba Roro Luhito menjerit meloncat berdiri dan
menubruk gurunya sambil menangis.
"Bapa
guru, haruskah aku menderita malu dan terhina di depan banyak orang lain ?
Biarlah aku yang menghadapi Pujo!"
Roro Luhito
adalah seorang wanita yang berwatak keras. Sebentar saja ia sudah berhasil
menekan perasaannya. Matanya masih merah, akan tetapi tidak ada air mata
mengalir turun. Dengan pandang mata penuh benci dan dendam . Ia memandang Pujo,
dan hanya mengerling sejenak ke arah Kartikosari yang diam-diam ia puji
kecantikannya.
"Pujo,
kau tadi bilang bahwa kau tidak mempunyai permusuhan dengan aku. Sekarang, aku
minta engkau sebagai seorang ksatria jantan, sebagai laki-laki sejati, di depan
isterimu, kau ceritakanlah apa yang terjadi di Kadipaten Selopenangkep sepuluh
tahun yang lalu! Kalau kau menceritakan kesemuanya dan memang tepat, biar aku
mengalah dan pergi. Akan tetapi kalau sebaliknya aku pasti akan mengadu nyawa denganmu!"
"Kakangmas,
siapakah dia ini dan kakek itu? Jangan takut, biarlah kuhadapi mereka!"
Kartikosari hendak melangkah maju, akan tetapi Pujo memegang lengannya dan
berkata halus,
"Jangan,
nimas. Urusan ini adalah urusan salah faham dan fitnah, memang harus dibikin
terang agar jangan menjadi jadi." Pujo melarang isterinya karena ia tahu
bahwa biarpun Kartikosari kini agaknya memperoleh kemajuan pesat dengan
ilmunya, namun belum tentu dapat mengatasi Resi Telomoyo yang demikian
saktinya. Selain itu, ia kini percaya bahwa betul-betul aib yang menimpa diri
Roro Luhito dan bahwa di balik peristiwa ini tentu terselip rahasia yang harus
dipecahkan. Ia melangkah maju dan berdiri berhadapan dengan Resi Telomoyo dan
Roro Luhito, terpisah dua meter saja jauhnya. Kartikosari masih digandengnya.
Kemudian ia menarik napas panjang dan berkata,
"Roro
Luhito dan juga paman Resi Telomoyo, harap suka dengarkan baik-baik
penuturanku. Aku bersumpah demi kehormatanku sebagai satria kepada Hyang Maha
Pamungkas, bahwa apa yang kuceritakan ini adalah yang sebenar-benarnya, tidak
lebih maupun kurang daripada hal-hal yang sebenarnya terjadi."
Ia menarik
napas panjang, mengajak isterinya duduk di atas pasir sambil mempersilakan
kedua orang guru dan murid itu untuk duduk pula. Resi Telomoyo yang memang
yakin bahwa orang muda di depannya ini bukan orang jahat, segera menjatuhkan
diri duduk di pasir seenaknya, sedangkan Roro Luhito melihat tiga orang itu
duduk, biarpun dengan ragu-ragu, akhirnya duduk pula bersimpuh, matanya menatap
wajah Kartikosari yang cantik dan berwibawa. Diam-diam ia merasa iri betapa
kedua suami isteri itu bergandeng tangan dengan sikap mesra, penuh cinta kasih.
No comments:
Post a Comment