Badai Laut Selatan ; Bagian 053


Saking marahnya Pujo sampai tak dapat menjawab dan saat itu dipergunakan oleh Resi Telomoyo yang memang wataknya keras itu untuk menerjangnya lagi. Seperti juga Roro Luhito tadi, dalam penyerangannya ini kakek itu mengeluarkan suara geraman seperti seekor monyet jantan. Akan tetapi sepak terjangnya jauh berbeda dengan muridnya. Kakek ini jauh lebih ampuh gerakannya dan kedua tangan kakinya mendatangkan angin bersiutan tanda bahwa tenaga yang ia keluarkan mengandung hawa sakti yang dahsyat.
Pujo juga marah, menganggap kakek ini keterlaluan, menjatuhkan tangan besi tanpa pemeriksaan lebih dulu. Ia bergerak dengan Aji Bayu Tantra, demikian cepatnya ia bergerak sampai tubuhnya lenyap menjadi bayangan berkelebatan, dan dengan pengerahan tenaga ia menerjang, kadang-kadang dengan Aji Gelap Musti, kadang-kadang dengan Aji Pethit Nogo yang ampuh.
"Wah-wah, kau hebat, orang muda!"
Kakek itu sambil menghindar ke sana ke mari dengan sigapnya memuji. Dengan kecepatan dan gerakan aneh, kakek itu meloncat-loncat dan membingungkan Pujo. Tadi menghadapi Roro Luhito saja ia sudah bingung dan beberapa kali kena dipukul. Apalagi sekarang. Hanya bedanya, kalau tadi menghadapi Roro Luhito ia segan menurunkan pukulan maut, kini menghadapi kakek yang ia tahu amat sakti itu ia tidak segan-segan mengeluarkan semua ajiannya, bahkan mengerahkan tenaga mujijat yang ia latih selama ini melawan gelombang Laut Selatan.
"Luar biasa!" seru Resi Telomoyo sambil menggulingkan diri di atas pasir ketika jari-jari tangan Pujo menyambar dengan Aji Pethit Nogo sehingga mengeluarkan suara nyaring seperti cambuk menyambar. Sambil bergulingan kakek ini menggunakan tipu seperti yang dipergunakan Roro Luhito. Pasir berhamburan menyambar ke muka Pujo. Baiknya Pujo tadi sudah mengalami akibat tipu ini sehingga ia sudah waspada dan melihat bayangan pasir menyambar, ia sudah menutup mata dan mengelak. Namun pasir yang hanya merupakan butir-butiran kecil itu ketika mengenai kulit muka dan leher, terasa seperti jarum-jarum yang runcing menusuk-nusuk! Ia kaget sekali dan baiknya Pujo dapat menyalurkan hawa sakti ke bagian yang terserang sehingga kulitnya hanya lecet-lecet saja akan tetapi pasir tidak dapat menembus.
Dari ini saja sudah dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga dalam kakek seperti monyet itu. Orang biasa saja terkena sambaran pasir ini tentu akan tewas karena pasir itu akan terus menembus kulit daging, bahkan mungkin dapat menembus tulang, tiada ubahnya seperti peluru-peluru baja!
"Wah-wah, tidak kecewa kau menjadi murid Resi Bhargowo!" Kembali kakek itu bicara sambil menerjang terus. "Sayang kau mata keranjang dan pengecut!"
Makin marahlah Pujo. Ia mencelat ke belakang agak jauh dan tahu-tahu ia sudah mencabut kerisnya, yaitu pusaka Banuwilis yang mengeluarkan cahaya hijau. Keris berlekuk sembilan ini mencorong dan hawanya seperti seekor ular hijau berbisa. Namun Resi Telomoyo tidak gentar, hanya tersenyum mengejek.
"Ha-ha! Belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, sudah mengeluarkan pusaka! Ha-ha-ha!"
"Resi Telomoyo! Entah perbuatan kita yang mana dan kapan yang menghasilkan akibat saat ini. Aku tidak pernah memusuhi anda dan murid anda, akan tetapi andika agaknya menghendaki kematianku! Apa boleh buat, kalau memang hendak mengadu nyawa, silakan!"
Pujo memasang kuda-kuda dengan keris pusaka di tangannya, siap untuk membunuh atau dibunuh!.
"Ha-ha-ha! Mengakui dan menyesali perbuatan sendiri memang merupakan perkara yang paling sulit dilakukan di dunia ini! Betapapun buruk perbuatan sendiri, selalu dipandang dan dicari segi-segi kebaikannya. Aku tidak ingin membunuhmu, hanya ingin memaksamu mempertanggung-jawabkan perbuatanmu terhadap muridku. Hayo, kau boleh gunakan pusakamu, orang muda. Murid sama dengan anak, kalau guru tidak membela muridnya, orang tua tidak membela anaknya, habis apa gunanya menjadi guru atau orang tua? Kerahkan semua tenagamu, keluarkan semua aji kesaktianmu kalau kau mau mengenal Resi Telomoyo!"
Pujo makin mendongkol hatinya. Agaknya percuma saja bicara dengan dua orang itu. Menyangkalpun tidak akan ada gunanya karena tidak dipercaya Maka ia lalu berseru,
"Baik, hati-hatilah, sang resi. Awas pusakaku!"
Ia menubruk maju dan menerjang dengan hebat. Bukan main hebatnya serangan Pujo ini. Kerisnya menyambarnyambar, lenyap ujudnya berubah menjadi segulung sinar hijau. Sedangkan tangan kirinya dengan pengerahan tenaga dalam mengimbangi terjangan kerisnya dengan pukulan-pukulan jari Pethit Nogo!.

Baiknya Resi Telomoyo adalah seorang pertapa sakti yang sudah tinggi sekali tingkat ilmunya. Ia seorang pemuja dan penyembah tokoh pewayangan Hanuman (Anoman), kera putih yang terkenal sakti mandraguna di jaman Ramayana, kera putih yang menjadi senopati dan yang seorang diri berani menyerbu Kerajaan Alengka, mempermainkan raja denawa Prabu Dasamuka beserta semua perajuritnya. Resi Telomoyo memiliki aji yang membuat tubuhnya dapat bergerak laksana terbang, ringan seperti kapas, cepat seperti halilintar menyambar, dan hawa sakti di tubuhnya sudah mencapai tingkat yang amat tinggi karena ia gentur tapa (tekun bertapa), waspada dan sakti mandraguna. Hanya sayangnya, yang ia puja adalah seorang tokoh bertubuh monyet, dan agaknya karena memang ia lebih menyayang monyet daripada manusia, maka kekasaran, kenakalan, dan kelucuan seekor monyet menular kepadanya. Ia suka main-main, kadang-kadang kasar dan nakal. Pandang matanya yang waspada sebetulnya menyadarkan perasaannya bahwa Pujo adalah seorang laki-laki yang baik dan agaknya tidak melakukan perbuatan hina terhadap muridnya. Akan tetapi ia juga merasa yakin bahwa muridnya tidak membohong kepadanya. Kalau disuruh memilih, percaya yang mana, tentu saja tanpa ragu-ragu lagi ia lebih percaya muridnya! Pula, melihat orang muda itu memiliki kesaktian tinggi juga, timbul keinginan hatinya untuk melawan dan mengalahkannya!. Pertandingan berlangsung seru. Baru sekarang Roro Luhito melihat dengan mata sendiri betapa saktinya Pujo! Tahulah ia kini bahwa tadi Pujo sengaja banyak mengalah terhadapnya. Kalau tadi Pujo seperti sekarang ini sepak terjangnya, ia harus mengakui bahwa ia takkan kuat menghadapi Pujo lebih dari dua puluh jurus. Gurunya memang hebat. Akan tetapi agaknya mengalahkan Pujo yang memegang keris pusaka, bukan merupakan hal yang mudah. Diam-diam ia merasa kagum kepada Pujo dan mau tidak mau ia harus mengakui bahwa cinta kasih yang terpendam di hatinya bukan lenyap oleh kemarahannya, bahkan makin menjadi. Ia menghela napas berulang-ulang saking pedih hatinya oleh penolakan dan penyangkalan Pujo. Bisikan-bisikan Pujo di dalam bilik dahulu! Pernyataan cintanya! Masih terngiang di telinganya bisikan pada peristiwa di malam hari itu, sepuluh tahun yang lalu. Masih terasa kehangatan lengan yang merangkulnya dan masih bergema bisikan halus,
"Luhito, aku Pujo, aku tahu, engkau suka kepadaku seperti aku mencintaimu ......... "

Dan sekarang Pujo menyangkal perbuatannya itu! Berpikir begini, panas lagi hatinya, panas dan kecewa, maka menangislah ia terisak-isak sambil mendeprok (terduduk) di atas pasir. Pandang mata Resi Telomoyo amat tajam. Biarpun ia sedang bertanding seru dengan Pujo, akan tetapi ia dapat melihat muridnya yang menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis terisak-isak dengan sedihnya. Melihat ini, kemarahannya meluap. Ia harus merobohkan pemuda ini dan memaksanya menerima muridnya sebagai isteri! Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik yang amat dahsyat. Pekik yang disertai hawa sakti sedemikian hebatnya sehingga Pujo sendiri hampir tergetar tubuhnya, dan menggigil tangan yang memegang keris. Saat itu dipergunakan oleh Resi Telomoyo untuk menendang pergelangan tangan yang memegang keris. Tendangan yang amat keras sehingga terlepaslah sambungan pergelangan tangan Pujo. Keris pusakanya terlempar dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, tubuhnya sudah terangkat dan terbanting di atas pasir. Matanya berkunang, kepalanya pening dan sejenak Pujo tidak mampu bangun.
"Kakangmas Pujo ......... !"
Jerit ini disusul berkelebatnya sesosok bayangan yang gerakannya cepat sekali. Tahu-tahu seorang wanita cantik muncul di depan Resi Telomoyo. Dia ini bukan lain adalah Kartikosari. Melihat suaminya menggeletak tak berdaya dan kakek yang wajahnya buruk menyeramkan berdiri di situ sedangkan seorang wanita cantik menangis tak jauh dari situ, Kartikosari langsung menerjang Resi Telomoyo. Resi ini tadinya terkesima karena tidak mengenal siapa wanita yang luar biasa cantiknya ini sehingga ia memandang rendah. Pukulan dari Kartikosari adalah pukulan dengan Aji Gelap Musti, dilakukan cepat sekali karena selama waktu sepuluh tahun ini Kartikosari memperdalam ilmunya dan berhasil menciptakan gerakan yang diambil dari gerakan burung camar di tepi laut.
"Plak! Desssssss!!"
Resi Telomoyo yang tidak menyangka-nyangka wanita itu sedemikian hebatnya, kena ditampar lehernya dan ditonjok perutnya. Ia gelayaran (sempoyongan), jatuh terduduk dan melongo saking herannya.
"Waduh, galak dan tangkas !" Ia memuji.

Kartikosari sejenak melongo juga. Pukulannya tadi adalah pukulan Gelap Musti dan jangankan perut seorang manusia kalau tidak pecah atau remuk isinya, batu karang sekalipun terkena hantamannya tadi akan remuk! Akan tetapi kakek aneh itu hanya jatuh terduduk, dan matanya kethap-kethip seperti orang terheran saja, sama sekali tidak seperti orang habis dipukul. Maklumlah ia bahwa kakek ini seorang sakti, maka cepat ia berlutut dekat suaminya yang sudah dapat bangun duduk.
"Bagaimana, kakangmas ? Kau .... kau terluka.. ?"
Pujo serasa mimpi. Benar-benar Kartikosari sekarang yang berada di dekatnya, memeluk pundaknya dan dengan wajah yang gelisah bertanya kalau-kalau ia terluka. Tanda kasih sayang terbayang jelas di wajahnya yang selalu dirindukannya itu. Tak dapat lagi ia menahan hasrat hatinya. Dirangkulnya leher isterinya, dibelai dan hendak diciumnya! Kartikosari membuang muka mengelak.
"Hussshh, orang lain melihat.... !"
Barulah Pujo teringat dan sadar cepat ia menarik tubuh Kartikosari bangun dan berdiri. Resi Telomoyo sudah berdiri pula, memandang dan menyeringai.
"Ho-ho-ho! Kebetulan sekali! engkau isterinya? Engkau isteri Pujo? Kalau begitu engkau tentu puteri Resi Bhargowo! Ha-ha, sungguh kebetulan dengarlah engkau akan kelakuan suamimu yang bagus itu! Dia telah meng ....... "
"Bapa guru, diam !!!" Tiba-tiba Roro Luhito menjerit meloncat berdiri dan menubruk gurunya sambil menangis.
"Bapa guru, haruskah aku menderita malu dan terhina di depan banyak orang lain ? Biarlah aku yang menghadapi Pujo!"

Roro Luhito adalah seorang wanita yang berwatak keras. Sebentar saja ia sudah berhasil menekan perasaannya. Matanya masih merah, akan tetapi tidak ada air mata mengalir turun. Dengan pandang mata penuh benci dan dendam . Ia memandang Pujo, dan hanya mengerling sejenak ke arah Kartikosari yang diam-diam ia puji kecantikannya.
"Pujo, kau tadi bilang bahwa kau tidak mempunyai permusuhan dengan aku. Sekarang, aku minta engkau sebagai seorang ksatria jantan, sebagai laki-laki sejati, di depan isterimu, kau ceritakanlah apa yang terjadi di Kadipaten Selopenangkep sepuluh tahun yang lalu! Kalau kau menceritakan kesemuanya dan memang tepat, biar aku mengalah dan pergi. Akan tetapi kalau sebaliknya aku pasti akan mengadu nyawa denganmu!"
"Kakangmas, siapakah dia ini dan kakek itu? Jangan takut, biarlah kuhadapi mereka!" Kartikosari hendak melangkah maju, akan tetapi Pujo memegang lengannya dan berkata halus,
"Jangan, nimas. Urusan ini adalah urusan salah faham dan fitnah, memang harus dibikin terang agar jangan menjadi jadi." Pujo melarang isterinya karena ia tahu bahwa biarpun Kartikosari kini agaknya memperoleh kemajuan pesat dengan ilmunya, namun belum tentu dapat mengatasi Resi Telomoyo yang demikian saktinya. Selain itu, ia kini percaya bahwa betul-betul aib yang menimpa diri Roro Luhito dan bahwa di balik peristiwa ini tentu terselip rahasia yang harus dipecahkan. Ia melangkah maju dan berdiri berhadapan dengan Resi Telomoyo dan Roro Luhito, terpisah dua meter saja jauhnya. Kartikosari masih digandengnya. Kemudian ia menarik napas panjang dan berkata,
"Roro Luhito dan juga paman Resi Telomoyo, harap suka dengarkan baik-baik penuturanku. Aku bersumpah demi kehormatanku sebagai satria kepada Hyang Maha Pamungkas, bahwa apa yang kuceritakan ini adalah yang sebenar-benarnya, tidak lebih maupun kurang daripada hal-hal yang sebenarnya terjadi."

Ia menarik napas panjang, mengajak isterinya duduk di atas pasir sambil mempersilakan kedua orang guru dan murid itu untuk duduk pula. Resi Telomoyo yang memang yakin bahwa orang muda di depannya ini bukan orang jahat, segera menjatuhkan diri duduk di pasir seenaknya, sedangkan Roro Luhito melihat tiga orang itu duduk, biarpun dengan ragu-ragu, akhirnya duduk pula bersimpuh, matanya menatap wajah Kartikosari yang cantik dan berwibawa. Diam-diam ia merasa iri betapa kedua suami isteri itu bergandeng tangan dengan sikap mesra, penuh cinta kasih.

<<< Bagian 052                                                                                    Bagian 054 >>>

No comments:

Post a Comment