Badai Laut Selatan ; Bagian 054


"Sepuluh tahun yang lalu, aku mempunyai dendam sedalam lautan terhadap Wisangjiwo, dendam yang hanya dapat diselesaikan dengan menyabung nyawa. Oleh karena dendam itu semata maka pada malam hari itu aku menyerbu Kadipaten Selopenangkep. Maksud hatiku hendak mencari Wisangjiwo dan membunuhnya. Akan tetapi sayang sekali, Wisangjiwo tidak berada di kadipaten dan karena mata gelap saking besarnya rasa dendam kesumat, aku mengamuk, membunuh beberapa orang pengawal, melukai Adipati Joyowiseso, akan tetapi akhirnya aku tertangkap. Aku tetap tidak mau mengaku dendam apa yang kurasakan terhadap Wisangjiwo. Aku disiksa dan akhirnya dihukum perapat."
"Ohhh.......!"
Kartikosari yang belum mendengar cerita ini berseru kaget dan jari-jari tangannya yang halus mencengkeram tangan suaminya. Pujo menoleh kepadanya dan mengangguk-angguk, mengerling kepada Roro Luhito dan Resi Telomoyo lalu berkata,
"Lihat, isteriku sendiripun baru sekarang dapat mendengarkan ceritaku karena akibat perbuatan Wisangjiwo itu telah membuat kami suami isteri berpisah pula sampai sepuluh tahun!"
"Hemmm.......!"
Resi Telomoyo mengangguk-angguk dan menggaruk-garuk punggung serta kepalanya. Sejak tadi Kartikosari memperhatikan gerak-gerik Resi Telomoyo ini dan di dalam hatinya ia merasa geli dan baru sekarang ia melihat betapa kakek ini mirip benar, baik muka maupun gerak-gerik, dengan seekor kera putih yang besar!
"Hukuman perapat tidak berhasil membunuhku dan akhirnya muncullah Jokowanengpati yang pada malam hari itu turun tangan dan membuat aku tertangkap."
"Jokowanengpati murid uwa guru Empu Bharodo?" Kartikosari tercengang Pujo mengangguk.
"Dia menjadi tamu kadipaten ketika itu dan membantu kadipaten sehingga aku tertangkap. Akan tetapi ketika hukum perapat dijalankan dan tidak berhasil membunuhku, kakang Jokowanengpati datang dan membawaku kembali ke dalam tahanan. Ternyata dia bermaksud baik terhadap aku, mengingat kita masih saudara seperguruan. Dia membalik terhadap kadipaten, malam itu ia membebaskan aku, malah dia pula yang membantu menculik isteri Wisangjiwo dan puteranya, membantu aku keluar dari kadipaten dan setelah jauh baru dia menyuruhku cepat-cepat pergi membawa isteri Wisangjiwo dan puteranya."
"Ahhh, kau lakukan hal itu ??"
Suara Kartikosari benar-benar membayangkan hati kaget dan heran. Pujo menepuk-nepuk lengan isterinya, menyabarkan hatinya.
"Karena tidak berhasil mendapatkan Wisangjiwo, aku seperti kemasukan iblis saking kecewa dan marahku, maka kuculik isteri dan puteranya. Akan tetapi jangan salah sangka, demi Dewata Yang Agung, aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar susila terhadap wanita itu, nimas."

Kemudian Pujo menoleh kepada dua orang bekas lawannya. Ia melihat betapa sepasang mata Roro Luhito terbelalak, pandang matanya liar dan sepasang alis yang hitam kecil itu berkerut-kerut.
"Lalu bagaimana ....... ? Lalu bagaimana ....... ??" desak Roro Luhito, dadanya yang membusung tertutup kemben itu bergelombang turun-naik, napasnya agak terengah tanda bahwa di dalam hatinya timbul perasaan yang tegang.
"Kubawa mereka ke Guha Siluman, kutinggalkan isteri Wisangjiwo di dalam guha akan tetapi kubawa lari puteranya yang selanjutnya kujadikan muridku dan kuanggap anak sendiri....... "
"Dia Joko Wandiro ....... ??"
Kini Kartikosari yang memegang lengan suaminya, bertanya, suaranya gugup.
"Benar. Eh, bagaimana kau bisa tahu, nimas?" tanya Pujo heran, menoleh kepada isterinya.
Akan tetapi, sebelum Kartikosari menjawab, Roro Luhito sudah melompat berdiri dengan gerakan cepat. Pujo, Kartikosari, dan juga Resi Telomoyo memandang kaget. Wajah gadis itu pucat sekali, matanya bergerak-gerak liar, hidungnya kembang-kempis, dadanya terengah-engah.
"Pujo........ Pujo....... kau bersumpahlah sekali lagi........ bahwa apa yang kauceritakan semua itu tadi adalah yang sebenarnya terjadi?"
"Aku bersumpah demi Dewata Agung!"
"Dan bukannya engkau terlepas karena bantuan gurumu Resi Bhargowo, kemudian gurumu membantumu menculik isteri dan putera kangmas Wisangjiwo dan engkau sendiri memasuki....... bilikku?"
"Tidak sama sekali! Dari mana datangnya fitnah itu?!?" Pujo melompat berdiri, juga Kartikosari dan Resi Telomoyo. Mereka sama-sama menjadi tegang.
"Kata kakangmas Jokowanengpati engkau memasuki bilikku....... dan kau dibantu Resi Bhargowo maka dia tidak berdaya dan..... aduh Jagad Dewa Batara.......! Tahulah aku sekarang! Dialah orangnya! Dia si keparat Jokowanengpati........ , ya Dewa....... Gusti Maha Agung, cabut sajalah nyawaku....... bapa guru ..!"
Roro Luhito menubruk gurunya dan rebah pingsan dalam pelukan Resi TeHomoyo. Resi Telomoyo memandang Pujo bingung, bertanya,
"Anakmas, apa sebenarnya yang terjadi?"
Pujo menggeleng kepala.
"Aku sendiri bingung, paman. Bawalah dia ke pondok, dia perlu istirahat dan menenangkan perasaannya yang terguncang hebat."
Kakek itu mengangguk, memondong tubuh muridnya dan membawanya memasuki pondok Pujo. Pujo dan isterinya memandang sampai kakek itu lenyap di balik pintu pondok.
"Kakangmas! Jadi putera Wisangjiwokah yang bernama Joko Wandiro?"
"Betul, nimas. Tadinya hendak kudidik dia agar kelak memusuhi ayahnya sendiri. Bagaimana kau bisa tahu?"
"Ah, kakangmas....... celaka! Aku khawatir sekali. Dia dan....... anak kita telah lenyap......."
Saking kagetnya Pujo melepaskan tangan Kartikosari yang memegang lengannya sambil melompat mundur sejauh lima meter lebih. Benar-benar kaget sekali dan tadi ia meloncat seperti menghindarkan diri dari serangan maut! Kini matanya terbelalak, kakinya bergerak lambat-lambat maju, bibirnya gemetar ketika ia bertanya,
"Anak....... anak....... kita....... ?? "
Kartikosari tak dapat menahan diri lagi. Ia menjatuhkan dirinya bersimpuh di atas pasir, mengangguk-angguk sambil menangis, lalu keluar kata-katanya tersendat-sendat,
"Ketika....... kita berpisah....... aku...... aku sudah mengandung aku....... lari dan bersembunyi ke Karang Racuk....... memelihara dan mendidiknya di sana ....... "
Pujo melompat dan menubruk isterinya, mendekapnya dan air mata membanjir di pipinya,
"Aduh Gusti....... terima kasih! Nimas Sari, di mana anak kita.......? Laki-laki atau perempuankah? Siapa namanya?"
"Kunamakan dia Endang Patibroto....."
Pujo terharu sekali mendengar nama ini, dipandangnya wajah isterinya, lalu didekapnya kepala itu ke dadanya, diciumnya.
"Ampunkan aku, Sari kau ampunkan aku yang bermata namun tak dapat melihat betapa engkau sesungguhnya seorang wanita sesuci-sucinya, seorang puteri yang patut menjadi tauladan. Aku bodoh bebal dan pengecut. Kauampunkan aku, nimas...,..." Pujo lalu berlutut dan hendak meraih dan mencium jari kaki Kartikosari.
Naik sedu-sedan dari dada wanita itu dan cepat ia merangkul leher suaminya, melarang suaminya melakukan perbuatan itu.
"Jangan, kakangmas! Tak baik seorang suami merendahkan diri macam ini! Aku tetap isterimu, aku selamanya tetap mencinta dan setia kepadamu, kakangmas."
Mereka berdekapan, merasa seakan-akan diterbangkan angin, terapung-apung di angkasa raya, penuh bahagia, menemukan kembali kehilangan yang sepuluh tahun membuat mereka merana.
"Di mana dia, nimas. Di mana Endang Patibroto anakku?"
Kartikosari tersentak kaget, lalu melepaskan diri dari pelukan.
"Inilah sebabnya mengapa aku datang ke sini kakangrnas. Ketika beberapa hari yang lalu aku bertemu Joko Wandiro dan mendengar tentang kau, aku lari ke sini, meninggalkan Joko Wandiro dan Endang Patibroto yang kusuruh kembali ke pantai. Akan tetapi ketika aku kembali ke sana, mereka tidak ada. Mereka lenyap dan kulihat ada lima orang penjahat sudah menggeletak menjadi mayat. Aku gelisah sekali, kakangrnas......entah di mana adanya mereka berdua...."
Pujo termenung dan juga cemas, Kiranya Joko Wandiro yang disuruhnya mencari kuda itu bertemu dengan Kartikosari. Pantas sampai kini belum pulang. Dan sekarang anak itu, bersama-sama anak kandungnya sendiri, mereka telah lenyap tak meninggalkan bekas! Ia bertemu isterinya akan tetapi berbareng kehilangan muridnya yang terkasih dan anak kandungnya yang belum pernah ia lihat!

Pada saat itu, Resi Telomoyo keluar dari pondok bersama Roro Luhito. Wanita itu tidak menangis lagi dan wajahnya amat pucat, rambutnya kusut, matanya sayu. Ia melangkah mendekati Pujo dan Kartikosari yang sudah bangkit berdiri, lalu berkata kepada Pujo,
"Kakangmas Pujo, harap kau ampunkan kesalahanku yang telah menuduhmu. Aku mengerti sekarang. Jokowanengpati yang telah melakukan hal itu kemudian menjatuhkan fitnah kepadamu. Agar tiada awan gelap lagi mengeruhkan pikiran kita, bolehkah aku mengetahui, apa yang telah dilakukan oleh kakangmas Wisangjiwo maka engkau begitu membencinya?"
Pujo memandang isterinya yang juga menatapnya, kemudian Kartikosari yang menjawab,
"Diajeng Roro Luhito, memang ada permusuhan antara kakakmu dengan kami suami isteri. Malah beberapa hari yang lalu kami telah berhasil menangkapnya. Akan tetapi ternyata kami telah salah duga. Sungguhpun kakakmu itu pernah memusuhi kami, akan tetapi bukan dialah orang yang sebenarnya kami cari. Kami juga telah salah duga, seperti engkau salah menduga suamiku tadi. Tidak ada urusan apa-apa lagi antara keluargamu dengan kami, diajeng. Bahkan keponakanmu, Joko Wandiro, juga dididik baik-baik oleh suamiku, malah menjadi muridnya. Sekarang dia bersama anak kami yang kusuruh menanti di Karang Racuk, telah lenyap entah ke mana. Kami sedang bingung memikirkannya dan hendak berusaha mencari mereka."
"Kalau begitu, kakakkupun terkena fitnah! Bagaimana kalian baru bisa tahu bahwa bukan kakangmas Wisangjiwo yang kalian cari? Ataukah inipun rahasia?" Roro Luhito bertanya.
"Yang kami cari adalah seorang laki-laki yang buntung kelingking tangan kirinya, sedangkan Wisangjiwo masih lengkap jari tangannya."
"Buntung kelingking kirinya???" Roro Luhito bertanya setengah menjerit. "Hyang Maha Agung yang menguasai jagad! Si keparat Jokowanengpati buntung kelingking kirinya!"
Tiba-tiba Pujo meloncat dan menampar kepalanya sendiri.
"Ahhhhh....... ! Alangkah tolol aku! Benar....... kelingking tangan kirinya buntung!"

Suami isteri itu saling pandang, mata mereka bersinar-sinar penuh kemarahan dan hampir berbareng mereka berseru,
"Jokowanengpati iblis keparat!"
"Tahu aku sekarang!" Roro Luhito ikut bicara.
"Kalau kalian mencari orangnya yang melakukan fitnah terhadap kakangmas Wisangjiwo kepada kalian, tentulah si Jokowanengpati. Pantas saja dia bertindak seperti ular kepala dua di kadipaten! Dia membantu ayah menangkapmu kakangmas Pujo, kemudian dia membantumu membebaskan diri dan menculik isteri dan putera kakakku, kemudian dia membohongi ayah dan menyatakan bahwa kau kabur menculik serta melakukan perbuatan keji di kadipaten atas bantuan gurumu, Resi Bhargowo!"
"Tobat-tobat ....... ! Ada manusia sejahat itu? Dia hendak mengadu domba antara Resi Bhargowo semuridnya dengan Kadipaten Selopenangkep! Dan aku pernah bertemu dengan manusia iblis itu. Sayang yang kucari adalah Pujo dan Resi Bhargowo, kalau aku tahu dia orangnya yang bersalah, tentu sudah kubekuk dia!" Secara singkat Resi Telomoyo menceritakan pertemuan dan pertandingannya melawan Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo beserta pasukannya.
Pujo mengangguk-angguk,
"Tahulah aku sekarang! Pantas gusti patih sendiri menuduh aku dan ayah mertuaku sebagai pemberontak-pemberontak! Kiranya itulah siasat si jahanam Jokowanengpati. Nimas Sari, jelas sekarang siapa musuh kita. Hemm, agaknya dahulu itu dia berada di sebelah dalam guha, dan dia menggunakan kesempatan munculnya Wisangjiwo untuk melakukan perbuatan biadab mempergunakan nama Wisangjiwo!"
Wajah Kartikosari menjadi merah saking malu dan marah, namun matanya memancarkan cahaya berapi-api.
"Agaknya begitulah. Pantas kau roboh olehnya ketika itu, karena kau sudah terluka. Wisangjiwo yang sudah terluka pula agaknya tak mungkin dapat merobohkanmu. bodoh kita, kita berangkat dan mencarinya!".
“Akan tetapi bagaimana dengan anak kita dan muridmu? Kita harus mencarinya."
"Kakangmas Pujo dan kakang mbok, kalau diperkenankan biarlah aku menemani kalian. Musuh kita ternyata sama orangnya!" kata Roro Luhito.

<<< Bagian 053                                                                                    Bagian 055 >>>

No comments:

Post a Comment