"Betul, harap kalian berbaik hati menerima muridku sebagai teman. Aku sendiri akan pulang ke Telomoyo, akan tetapi kelak akupun akan menyusul kalian ke Selopenangkep. Nah, muridku Roro Luhito, baik-baiklah engkau menjaga diri. Dua orang ini boleh kaupercaya sepenuhnya, mereka orang-orang baik. Kalau sudah tiba saatnya, aku akan menyusulmu, nak." Roro Luhito segera berlutut menyembah, memberi hormat dan menghaturkan selamat jalan.
Demikian pula
suami isteri itu yang tahu bahwa kakek itu adalah seorang pertapa yang sakti
dan berbudi walaupun wataknya aneh seperti monyet, segera memberi hormat. Tanpa
ragu-ragu lagi mereka menerima Roro Luhito sebagai teman, karena sedikit banyak
terutama Pujo, merasa bersalah terhadap keluarga Wisangjiwo, bersalah telah
menculik Joko Wandiro. Jelas bahwa musuh besar mereka sama orangnya bukan lain
adalah Jokowanengpati, Siapa lagi kalau bukan dia? Selain bukti kelingking kiri
yang buntung, juga semua sepak terjangnya di Selopenangkep membayangkan
pengkhianatan dan penipuan untuk mengadu domba, dan ini saja sudah cukup
menjadi bukti. Betapapun juga, ia tidak mau berlaku gegabah, dan potongan
kelingking kering masih ia simpan. Ia akan mengukurnya dahulu dengan kelingking
kiri Jokowanengpati sebelum menjatuhkan pembalasan. Kalau sekali ini ia keliru
lagi, akibatnya tentu hebat, karena Jokowanengpati adalah murid uwa gurunya,
Empu Bharodo yang sakti mandraguna. Setelah Resi Telomoyo pergi meninggalkan
tempat itu, Kartikosari bertanya kepada Roro Luhito,
"Diajeng,
kalau menurut pikiranmu, ke manakah kita akan dapat mencari musuh kita?"
Roro Luhito
menundukkan mukanya.
"Terserahlah
kepada kalian, aku hanya menurut dan ikut. Kepandaianku tidak seberapa, dan aku
tahu betapa saktinya musuh kita."
"Kita harus
pergi dulu mencari anak kami dan keponakanmu Joko Wandiro. Aku khawatir
kalau-kalau terjadi sesuatu dengan mereka, karena aku melihat lima orang mayat
penjahat di sana."
"Begitupun
baik, aku hanya menurut saja." kata Roro Luhito dan sekilat matanya mengerling
ke arah Pujo lalu menunduk kembali.
Pujo melihat
ini dan teringat akan sikap gadis itu ketika mula-mula bertemu dengannya,
mukanya menjadi merah sekali. Ketika gadis itu menyangka dia orang yang
menggagahinya, gadis ini malah mencarinya dan hendak bersuwita (menghamba)
kepadanya. Kini setelah tahu bahwa bukan dia orangnya, melainkan
Jokowanengpati, mengapa sikapnya berubah dan hendak membalas dendam kepada
Jokowanengpati penuh kebencian? Hanya satu saja jawaban yang mungkin benar,
yaitu bahwa Roro Luhito ini mencintanya!!
Berdebar
jantung Pujo sehingga mukanya menjadi merah. Timbul rasa haru dan iba yang
besar di hatinya. Namun, betapa mungkin. ia mengimbangi perasaan gadis itu? Ia
telah menemukan kembali isterinya, satu-satunya wanita di jagad raya ini yang
dicintainya sepenuh jiwa raganya! Untuk menghilangkan kecanggungan hatinya ia
segera berkata,
"Perjalanan
kita jauh dan sukar, sebaiknya kita ke dusun mencari tiga ekor kuda. Menunggang
kuda akan lebih cepat dan tidak melelahkan."
Dua orang
wanita itu setuju dan berangkatlah mereka ke dusun mencari kuda. Setelah
mendapatkan kuda dari penghuni dusun yang mengenal baik Pujo, berangkatlah
mereka mulai dengan perjalanan yang mempunyai dua tujuan, pertama mencari
Endang Patibroto dan Joko Wandiro, kedua mencari musuh besar mereka,
Jokowanengpati. Di sepanjang perjalanan, terutama di waktu malam ketika mereka
mengaso, Roro Luhito selalu bersunyi diri dan sengaja menjauh, tidak ingin
mengganggu suami isteri itu sungguhpun hal ini membuat hatinya makin merana.
Namun
Kartikosari secara bijaksana tidak mau memperlihatkan diri bermesra-mesraan
dengan suaminya, betapun besar rindu dendam mereka satu sama lain. Bahkan
dengan bisikan, Kartikosari menyatakan bahwa ia tetap dengan pendiriannya,
yaitu tidak hendak "kembali" kepada suaminya memenuhi kewajiban
sebagai isteri yang melayani suami kalau musuh besar mereka belum terbalas dan
tewas di depan kakinya. Pujo sebagai seorang ksatria utama juga memaklumi
perasaan isterinya ini sebagai wanita utama yang dapat menjaga harga diri, dan
iapun merasa lega kalau hal ini malah memurnikan cinta kasih mereka, cinta
kasih yang bukan hanya berdasarkan nafsu berahi semata, melainkan lebih
mendalam. Dan selain ini, juga pembatasan mereka dalam hubungan ini menolong
Roro Luhito dari keadaan tidak enak!
Kita
tinggalkan Pujo, Kartikosari, dan Roro Luhito yang melakukan perjalanan
menunggang kuda untuk mencari musuh besar mereka dan melampiaskan dendam hati
yang sedalam lautan sebesar Gunung Mahameru. Kita mengikuti perjalanan Endang
Patibroto, gadis cilik yang meninggalkan Pulau Sempu setelah membunuh dua orang
yang mengunjungi pulau itu. Telah diceritakan di bagian depan betapa Endang
Patibroto berhasil membunuh mereka dengan amat mudahnya karena ia memegang
pusaka ampuh Brojol Luwuk. Kemudian karena takut kepada eyangnya setelah ia
membunuh orang, pula karena hatinya tidak rela kalau harus berpisah dari keris
pusaka seperti yang diperintahkan eyangnya, yaitu keris ini disuruh
menyembunyikan, maka Endang lalu mempergunakan perahu kedua orang yang
dibunuhnya itu dengan maksud menyeberang ke darat dan mencari ibunya. Sudah
setahun lebih ia berpisah dari ibunya. Anak perempuan yang baru berusia sebelas
tahun ini tidak tahu sama sekali bahwa di suatu daerah dekat Pulau Sempu
merupakan kedung ikan hiu yang buas. Semua nelayan di daerah itu tentu saja
tahu belaka akan hal ini dan mereka itu tidak berani melintasi laut melalui
daerah itu, yakni di sebelah timur pulau, kecuali kalau mereka menunggang
perahu besar yang cukup tinggi dan kuat sehingga tidak akan dapat diganggu
ikan-ikan hiu. Endang Patibroto secara kebetulan mendayung perahunya melalui
daerah itu karena memang ia tadinya berlari ke pantai ujung timur di pulau itu.
Demikianlah, selagi ia enak-enak mendayung dan sudah jauh meninggalkan pulau,
tiba-tiba air laut di sebelah depannya bergelombang keras dan nampaklah
sirip-sirip ikan hiu yang seperti layar-layar kecil meluncur cepat mengarah
perahunya. Di pantai Karang Racuk seringkali Endang melihat sirip-sirip ikan
hiu dan oleh ibunya ia sudah diberi tahu bahwa ikan-ikan hiu merupakan raja
lautan yang amat ganas, seperti harimau di darat.
"Tentu
saja lebih berbahaya daripada harimau," kata ibunya.
"Harimau
berada di darat dan dapat kita lawan dengan kecepatan dan kekuatan, akan tetapi
ikan hiu dalam air, amat sukar untuk dilawan. Maka hati-hatilah kau kalau mandi
di laut."
Dan kini
melihat banyak sekali sirip ikan hiu meluncur ke depan perahu menimbulkan air
bergelombang, hati Endang berdebar. Perahunya amat kecil dan melihat sirip-sirip
itu, dapat diduga bahwa ikan-ikan itu lebih besar dan lebih panjang daripada
perahunya! Akan tetapi pada saat itu, rasa cemasnya kalah oleh rasa heran dan
kaget ketika ia melihat pemandangan yang sukar dipercaya. Jauh dari arah pantai
daratan, ia melihat seorang laki-laki tua meluncur berdiri di atas air dengan
jubah dikembangkan seperti layar! Mana mungkin ada manusia berlari di atas air?
Ia mengucek-ucek matanya, serasa mimpi, akan tetapi ketika membuka kembali
matanya, kakek itu masih tampak! Bahkan kakek itu agaknya tertawa-tawa, karena
suara gelak tawanya terbawa angin dan sampai di telinganya. Suara
terkekeh-kekeh seperti seorang anak kecil yang bergembira dan bermain-main di
air. Saking heran dan kagetnya, sejenak Endang lupa akan sirip-sirip ikan hiu
dan tiba-tiba dayungnya terlepas dari tangannya seperti ada yang merenggutnya.
Ia kaget dan meloncat berdiri. Untung ia sudah meloncat berdiri karena pada
saat itu perahunya tertumbuk dan terdorong dari bawah dengan kekuatan yang amat
luar biasa sehingga perahunya itu terlempar ke atas. Tubuh Endang ikut pula
mencelat ke atas dan untungnya ia berlaku waspada. Menduga bahwa ikan-ikan hiu
yang menjungkirbalikkan perahunya, di atas udara Endang cepat berjungkir balik
sehingga turunnya ke bawah agak melambat. Perahu jatuh ke air dalam keadaan
terbalik dan ia segere turun ke atas perahu terbalik itu. Di kanan kiri perahu,
dekat dengan kakinya mulai tampaklah kepala ikan-ikan hiu yang besar, yang
seakan-akan berlumba hendak menyambarnya!. Endang Patibroto merasa ngeri dan
takut, akan tetapi ia tidak kehilangan akal. Di samping rasa ngeri dan takut,
juga kemarahannya memuncak dan ia cepat-cepat menghunus keris Brojol Luwuk dari
kembennya, lalu memasang kuda-kuda di atas perahu terbalik dengan kedua lutut
ditekuk rendah. Ketika kepala seekor ikan hiu muncul dekat sekali di sebelah
kanan, kerisnya menyambar dan tepat menusuk kepala ikan itu. Ikan itu
kelabakan, mendatangkan ombak sehingga perahunya yang terbalik itu terdorong
agak jauh. Terjadilah pergulatan hebat ketika ikan yang terluka itu diserbu
kawannya sendiri. Akan tetapi beberapa ekor ikan tetap saja masih mengelilingi
perahu dan kini tiba-tiba sekaligus dua ekor ikan menyerbu, mengangkat
kepalanya dan berusaha menyambar kaki Endang Patibroto. Gadis cilik ini makin
marah, keris pusakanya menyambar dengan kecepatan luar biasa dan dua ekor ikan
itupun berkelepakan di dalam air dalam keadaan sekarat, lalu diserbu
kawan-kawannya sehingga perut mereka pecah dan ususnya berantakan. Air di
sekitar perahu menjacji kemerahan. Saking banyaknya ikan hiu yang berkeliaran
di tempat itu, bangkai tiga ekor ikan korban keris pusaka Brojol Luwuk itu
sebentar saja habis dan belum memuaskan kelahapan mereka. Beberapa ekor ikan
masih menyerbu perahu. Endang Patibroto berbesar hati menyaksikan hasilnya, dan
dengan gerakan yang lincah sekali ia berloncatan dari ujung kiri ke ujung kanan
perahunya yang terbalik, mengayun keris pusaka Brojol Luwuk ke kanan kiri dan
setiap kali ada ikan hiu yang berani memperlihatkan kepalanya, biarpun sejauh
satu dua meter dari perahu, Endang melompat ke arah kepala ikan, kedua kaki
hinggap di kepala yang miring dan kerisnya menusuk. Secepat kilat ia melompat
sebelum ikan itu tenggelam, kembali ke atas perahu terbalik atau ke kepala ikan
lain sambil menusukkan kerisnya.
Memang gadis
cilik ini sudah biasa berlatih melompat-lompat di atas batu-batu karang yang
menonjol di permukaan Laut Selatan. Maka kali ini gerakannya amat lincah dan
cekatan dan sebentar saja bangkai ikan hiu memenuhi tempat di sekeliling
perahu!. Dasar masih kanak-kanak, dan pula memang dasarnya Endang memiliki
watak keras hati, tidak mau kalah dan suka mengumbar amarah, melihat banyak
bangkai ikan, ia menjadi makin gembira. Kini ia berloncatan, tidak hanya di
atas perahu, bahkan ia meloncat dari bangkai ke bangkai sambil mencari-cari.
Kalau ada ikan hiu biarpun hanya tampak siripnya meluncur dekat, ia akan
menyerang dengan kerisnya ke sebelah depan sirip. Kerisnya masuk ke dalam air
dan ikan yang tertusuk keris itu pasti berkelojotan dan tewas! Akan tetapi,
perut ikan tidak sama dengan perut perahu, perut ikan ini licin sekali sehingga
ketika Endang meloncat ke sebuah bangkai ikan, tiba-tiba ikan yang di injaknya
itu bergerak! Ternyata ikan itu belum mati dan masih berkelojotan. Tentu saja
Endang tak dapat mempertahankan diri di atas perut ikan yang licin itu dan
terpelesetlah ia, jatuh ke dalam air! Belasan sirip ikan meluncur dari
sekelilingnya, menuju ke arahnya! Ngeri juga hati Endang, karena biarpun ia
pandai berenang, namun dikeliling ikan-ikan buas itu bagaimana ia mampu
melawan?
"Hua-ha-ha-ha,
hebat ....... hebat ....... luar biasa sekali kau!"
Tiba-tiba
terdengar suara ini yang keras sekali dan tahu-tahu Endang merasa tubuhnya
melayang ke atas. Ketika ia melihat, ternyata ia sudah berada di pondongan
tangan kiri seorang laki-laki tua yang tinggi besar, bermata lebar bundar
menciutkan. Teringat akan keris pusakanya yang tidak boleh kelihatan orang
lain, Endang cepat-cepat menyimpannya ke dalam kemben. Ia memperhatikan kakek
tinggi besar yang menakutkan ini. Kulit kakek itu hitam mengkilap, rambutnya
sudah penuh uban, terbungkus kain berwarna ungu kehitaman. Jenggotnya sekepal
sebelah, menutupi sebagian mulutnya yang lebar.
Ketika Endang
memperhatikan, ia dapat menduga bahwa kakek ini adalah orang yang tadi ia lihat
berlari di atas air! Bahkan sekarang juga ia masih berlari di atas air! Kedua
kakinya bergerak ke depan, cepat sekali dan kainnya yang dikembangkan ke kanan
kiri tubuhnya, tertiup angin dari belakang merupakan layar kembar sehingga
kedua kakinya amat laju bergerak ke depan! Benar-benar luar biasa sekali dan
sebagai puteri seorang sakti, Endang Patibroto dapat menduga bahwa kakek yang
aneh dan berwajah menakutkan ini tentulah seorang yang luar biasa saktinya!
Oleh karena ini ia membiarkan saja dirinya dipondong. Hanya saja, hatinya
berdebar ketika ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu meluncur kemhali ke arah
pulau Sempu!
"Hua-ha-ha!
Genduk bocah ayu, kau siapakah?",
Sambil
meluncur cepat di atas air, menggerak-gerakkan kedua kakinya, kakek itu
bertanya, tangan kiri memondong, tangan kanan mengelus-elus kepala
memijit-mijit perlahan dan meraba raba bentuk kepala orang.
Karena
sikapnya halus dan biar suaranya kasar keras akan tetapi menyenangkan,
sekaligus timbul rasa percaya dan suka di hati Endang Patibroto terhadap kakek
ini.
No comments:
Post a Comment