Badai Laut Selatan ; Bagian 055


"Betul, harap kalian berbaik hati menerima muridku sebagai teman. Aku sendiri akan pulang ke Telomoyo, akan tetapi kelak akupun akan menyusul kalian ke Selopenangkep. Nah, muridku Roro Luhito, baik-baiklah engkau menjaga diri. Dua orang ini boleh kaupercaya sepenuhnya, mereka orang-orang baik. Kalau sudah tiba saatnya, aku akan menyusulmu, nak." Roro Luhito segera berlutut menyembah, memberi hormat dan menghaturkan selamat jalan.

Demikian pula suami isteri itu yang tahu bahwa kakek itu adalah seorang pertapa yang sakti dan berbudi walaupun wataknya aneh seperti monyet, segera memberi hormat. Tanpa ragu-ragu lagi mereka menerima Roro Luhito sebagai teman, karena sedikit banyak terutama Pujo, merasa bersalah terhadap keluarga Wisangjiwo, bersalah telah menculik Joko Wandiro. Jelas bahwa musuh besar mereka sama orangnya bukan lain adalah Jokowanengpati, Siapa lagi kalau bukan dia? Selain bukti kelingking kiri yang buntung, juga semua sepak terjangnya di Selopenangkep membayangkan pengkhianatan dan penipuan untuk mengadu domba, dan ini saja sudah cukup menjadi bukti. Betapapun juga, ia tidak mau berlaku gegabah, dan potongan kelingking kering masih ia simpan. Ia akan mengukurnya dahulu dengan kelingking kiri Jokowanengpati sebelum menjatuhkan pembalasan. Kalau sekali ini ia keliru lagi, akibatnya tentu hebat, karena Jokowanengpati adalah murid uwa gurunya, Empu Bharodo yang sakti mandraguna. Setelah Resi Telomoyo pergi meninggalkan tempat itu, Kartikosari bertanya kepada Roro Luhito,
"Diajeng, kalau menurut pikiranmu, ke manakah kita akan dapat mencari musuh kita?"
Roro Luhito menundukkan mukanya.
"Terserahlah kepada kalian, aku hanya menurut dan ikut. Kepandaianku tidak seberapa, dan aku tahu betapa saktinya musuh kita."
"Kita harus pergi dulu mencari anak kami dan keponakanmu Joko Wandiro. Aku khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu dengan mereka, karena aku melihat lima orang mayat penjahat di sana."
"Begitupun baik, aku hanya menurut saja." kata Roro Luhito dan sekilat matanya mengerling ke arah Pujo lalu menunduk kembali.
Pujo melihat ini dan teringat akan sikap gadis itu ketika mula-mula bertemu dengannya, mukanya menjadi merah sekali. Ketika gadis itu menyangka dia orang yang menggagahinya, gadis ini malah mencarinya dan hendak bersuwita (menghamba) kepadanya. Kini setelah tahu bahwa bukan dia orangnya, melainkan Jokowanengpati, mengapa sikapnya berubah dan hendak membalas dendam kepada Jokowanengpati penuh kebencian? Hanya satu saja jawaban yang mungkin benar, yaitu bahwa Roro Luhito ini mencintanya!!

Berdebar jantung Pujo sehingga mukanya menjadi merah. Timbul rasa haru dan iba yang besar di hatinya. Namun, betapa mungkin. ia mengimbangi perasaan gadis itu? Ia telah menemukan kembali isterinya, satu-satunya wanita di jagad raya ini yang dicintainya sepenuh jiwa raganya! Untuk menghilangkan kecanggungan hatinya ia segera berkata,
"Perjalanan kita jauh dan sukar, sebaiknya kita ke dusun mencari tiga ekor kuda. Menunggang kuda akan lebih cepat dan tidak melelahkan."
Dua orang wanita itu setuju dan berangkatlah mereka ke dusun mencari kuda. Setelah mendapatkan kuda dari penghuni dusun yang mengenal baik Pujo, berangkatlah mereka mulai dengan perjalanan yang mempunyai dua tujuan, pertama mencari Endang Patibroto dan Joko Wandiro, kedua mencari musuh besar mereka, Jokowanengpati. Di sepanjang perjalanan, terutama di waktu malam ketika mereka mengaso, Roro Luhito selalu bersunyi diri dan sengaja menjauh, tidak ingin mengganggu suami isteri itu sungguhpun hal ini membuat hatinya makin merana.
Namun Kartikosari secara bijaksana tidak mau memperlihatkan diri bermesra-mesraan dengan suaminya, betapun besar rindu dendam mereka satu sama lain. Bahkan dengan bisikan, Kartikosari menyatakan bahwa ia tetap dengan pendiriannya, yaitu tidak hendak "kembali" kepada suaminya memenuhi kewajiban sebagai isteri yang melayani suami kalau musuh besar mereka belum terbalas dan tewas di depan kakinya. Pujo sebagai seorang ksatria utama juga memaklumi perasaan isterinya ini sebagai wanita utama yang dapat menjaga harga diri, dan iapun merasa lega kalau hal ini malah memurnikan cinta kasih mereka, cinta kasih yang bukan hanya berdasarkan nafsu berahi semata, melainkan lebih mendalam. Dan selain ini, juga pembatasan mereka dalam hubungan ini menolong Roro Luhito dari keadaan tidak enak!

Kita tinggalkan Pujo, Kartikosari, dan Roro Luhito yang melakukan perjalanan menunggang kuda untuk mencari musuh besar mereka dan melampiaskan dendam hati yang sedalam lautan sebesar Gunung Mahameru. Kita mengikuti perjalanan Endang Patibroto, gadis cilik yang meninggalkan Pulau Sempu setelah membunuh dua orang yang mengunjungi pulau itu. Telah diceritakan di bagian depan betapa Endang Patibroto berhasil membunuh mereka dengan amat mudahnya karena ia memegang pusaka ampuh Brojol Luwuk. Kemudian karena takut kepada eyangnya setelah ia membunuh orang, pula karena hatinya tidak rela kalau harus berpisah dari keris pusaka seperti yang diperintahkan eyangnya, yaitu keris ini disuruh menyembunyikan, maka Endang lalu mempergunakan perahu kedua orang yang dibunuhnya itu dengan maksud menyeberang ke darat dan mencari ibunya. Sudah setahun lebih ia berpisah dari ibunya. Anak perempuan yang baru berusia sebelas tahun ini tidak tahu sama sekali bahwa di suatu daerah dekat Pulau Sempu merupakan kedung ikan hiu yang buas. Semua nelayan di daerah itu tentu saja tahu belaka akan hal ini dan mereka itu tidak berani melintasi laut melalui daerah itu, yakni di sebelah timur pulau, kecuali kalau mereka menunggang perahu besar yang cukup tinggi dan kuat sehingga tidak akan dapat diganggu ikan-ikan hiu. Endang Patibroto secara kebetulan mendayung perahunya melalui daerah itu karena memang ia tadinya berlari ke pantai ujung timur di pulau itu. Demikianlah, selagi ia enak-enak mendayung dan sudah jauh meninggalkan pulau, tiba-tiba air laut di sebelah depannya bergelombang keras dan nampaklah sirip-sirip ikan hiu yang seperti layar-layar kecil meluncur cepat mengarah perahunya. Di pantai Karang Racuk seringkali Endang melihat sirip-sirip ikan hiu dan oleh ibunya ia sudah diberi tahu bahwa ikan-ikan hiu merupakan raja lautan yang amat ganas, seperti harimau di darat.
"Tentu saja lebih berbahaya daripada harimau," kata ibunya.
"Harimau berada di darat dan dapat kita lawan dengan kecepatan dan kekuatan, akan tetapi ikan hiu dalam air, amat sukar untuk dilawan. Maka hati-hatilah kau kalau mandi di laut."

Dan kini melihat banyak sekali sirip ikan hiu meluncur ke depan perahu menimbulkan air bergelombang, hati Endang berdebar. Perahunya amat kecil dan melihat sirip-sirip itu, dapat diduga bahwa ikan-ikan itu lebih besar dan lebih panjang daripada perahunya! Akan tetapi pada saat itu, rasa cemasnya kalah oleh rasa heran dan kaget ketika ia melihat pemandangan yang sukar dipercaya. Jauh dari arah pantai daratan, ia melihat seorang laki-laki tua meluncur berdiri di atas air dengan jubah dikembangkan seperti layar! Mana mungkin ada manusia berlari di atas air? Ia mengucek-ucek matanya, serasa mimpi, akan tetapi ketika membuka kembali matanya, kakek itu masih tampak! Bahkan kakek itu agaknya tertawa-tawa, karena suara gelak tawanya terbawa angin dan sampai di telinganya. Suara terkekeh-kekeh seperti seorang anak kecil yang bergembira dan bermain-main di air. Saking heran dan kagetnya, sejenak Endang lupa akan sirip-sirip ikan hiu dan tiba-tiba dayungnya terlepas dari tangannya seperti ada yang merenggutnya. Ia kaget dan meloncat berdiri. Untung ia sudah meloncat berdiri karena pada saat itu perahunya tertumbuk dan terdorong dari bawah dengan kekuatan yang amat luar biasa sehingga perahunya itu terlempar ke atas. Tubuh Endang ikut pula mencelat ke atas dan untungnya ia berlaku waspada. Menduga bahwa ikan-ikan hiu yang menjungkirbalikkan perahunya, di atas udara Endang cepat berjungkir balik sehingga turunnya ke bawah agak melambat. Perahu jatuh ke air dalam keadaan terbalik dan ia segere turun ke atas perahu terbalik itu. Di kanan kiri perahu, dekat dengan kakinya mulai tampaklah kepala ikan-ikan hiu yang besar, yang seakan-akan berlumba hendak menyambarnya!. Endang Patibroto merasa ngeri dan takut, akan tetapi ia tidak kehilangan akal. Di samping rasa ngeri dan takut, juga kemarahannya memuncak dan ia cepat-cepat menghunus keris Brojol Luwuk dari kembennya, lalu memasang kuda-kuda di atas perahu terbalik dengan kedua lutut ditekuk rendah. Ketika kepala seekor ikan hiu muncul dekat sekali di sebelah kanan, kerisnya menyambar dan tepat menusuk kepala ikan itu. Ikan itu kelabakan, mendatangkan ombak sehingga perahunya yang terbalik itu terdorong agak jauh. Terjadilah pergulatan hebat ketika ikan yang terluka itu diserbu kawannya sendiri. Akan tetapi beberapa ekor ikan tetap saja masih mengelilingi perahu dan kini tiba-tiba sekaligus dua ekor ikan menyerbu, mengangkat kepalanya dan berusaha menyambar kaki Endang Patibroto. Gadis cilik ini makin marah, keris pusakanya menyambar dengan kecepatan luar biasa dan dua ekor ikan itupun berkelepakan di dalam air dalam keadaan sekarat, lalu diserbu kawan-kawannya sehingga perut mereka pecah dan ususnya berantakan. Air di sekitar perahu menjacji kemerahan. Saking banyaknya ikan hiu yang berkeliaran di tempat itu, bangkai tiga ekor ikan korban keris pusaka Brojol Luwuk itu sebentar saja habis dan belum memuaskan kelahapan mereka. Beberapa ekor ikan masih menyerbu perahu. Endang Patibroto berbesar hati menyaksikan hasilnya, dan dengan gerakan yang lincah sekali ia berloncatan dari ujung kiri ke ujung kanan perahunya yang terbalik, mengayun keris pusaka Brojol Luwuk ke kanan kiri dan setiap kali ada ikan hiu yang berani memperlihatkan kepalanya, biarpun sejauh satu dua meter dari perahu, Endang melompat ke arah kepala ikan, kedua kaki hinggap di kepala yang miring dan kerisnya menusuk. Secepat kilat ia melompat sebelum ikan itu tenggelam, kembali ke atas perahu terbalik atau ke kepala ikan lain sambil menusukkan kerisnya.

Memang gadis cilik ini sudah biasa berlatih melompat-lompat di atas batu-batu karang yang menonjol di permukaan Laut Selatan. Maka kali ini gerakannya amat lincah dan cekatan dan sebentar saja bangkai ikan hiu memenuhi tempat di sekeliling perahu!. Dasar masih kanak-kanak, dan pula memang dasarnya Endang memiliki watak keras hati, tidak mau kalah dan suka mengumbar amarah, melihat banyak bangkai ikan, ia menjadi makin gembira. Kini ia berloncatan, tidak hanya di atas perahu, bahkan ia meloncat dari bangkai ke bangkai sambil mencari-cari. Kalau ada ikan hiu biarpun hanya tampak siripnya meluncur dekat, ia akan menyerang dengan kerisnya ke sebelah depan sirip. Kerisnya masuk ke dalam air dan ikan yang tertusuk keris itu pasti berkelojotan dan tewas! Akan tetapi, perut ikan tidak sama dengan perut perahu, perut ikan ini licin sekali sehingga ketika Endang meloncat ke sebuah bangkai ikan, tiba-tiba ikan yang di injaknya itu bergerak! Ternyata ikan itu belum mati dan masih berkelojotan. Tentu saja Endang tak dapat mempertahankan diri di atas perut ikan yang licin itu dan terpelesetlah ia, jatuh ke dalam air! Belasan sirip ikan meluncur dari sekelilingnya, menuju ke arahnya! Ngeri juga hati Endang, karena biarpun ia pandai berenang, namun dikeliling ikan-ikan buas itu bagaimana ia mampu melawan?
"Hua-ha-ha-ha, hebat ....... hebat ....... luar biasa sekali kau!"
Tiba-tiba terdengar suara ini yang keras sekali dan tahu-tahu Endang merasa tubuhnya melayang ke atas. Ketika ia melihat, ternyata ia sudah berada di pondongan tangan kiri seorang laki-laki tua yang tinggi besar, bermata lebar bundar menciutkan. Teringat akan keris pusakanya yang tidak boleh kelihatan orang lain, Endang cepat-cepat menyimpannya ke dalam kemben. Ia memperhatikan kakek tinggi besar yang menakutkan ini. Kulit kakek itu hitam mengkilap, rambutnya sudah penuh uban, terbungkus kain berwarna ungu kehitaman. Jenggotnya sekepal sebelah, menutupi sebagian mulutnya yang lebar.

Ketika Endang memperhatikan, ia dapat menduga bahwa kakek ini adalah orang yang tadi ia lihat berlari di atas air! Bahkan sekarang juga ia masih berlari di atas air! Kedua kakinya bergerak ke depan, cepat sekali dan kainnya yang dikembangkan ke kanan kiri tubuhnya, tertiup angin dari belakang merupakan layar kembar sehingga kedua kakinya amat laju bergerak ke depan! Benar-benar luar biasa sekali dan sebagai puteri seorang sakti, Endang Patibroto dapat menduga bahwa kakek yang aneh dan berwajah menakutkan ini tentulah seorang yang luar biasa saktinya! Oleh karena ini ia membiarkan saja dirinya dipondong. Hanya saja, hatinya berdebar ketika ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu meluncur kemhali ke arah pulau Sempu!
"Hua-ha-ha! Genduk bocah ayu, kau siapakah?",
Sambil meluncur cepat di atas air, menggerak-gerakkan kedua kakinya, kakek itu bertanya, tangan kiri memondong, tangan kanan mengelus-elus kepala memijit-mijit perlahan dan meraba raba bentuk kepala orang.
Karena sikapnya halus dan biar suaranya kasar keras akan tetapi menyenangkan, sekaligus timbul rasa percaya dan suka di hati Endang Patibroto terhadap kakek ini.

<<< Bagian 054                                                                                    Bagian 056 >>>

No comments:

Post a Comment