Ki Jatoko mengangguk-angguk.
"Ya,
selain dia....... sendiri........ sakti mandraguna, si keparat itu masih
mempunyai dua orang isteri yang juga tinggi ilmunya. Karena itu tidaklah mudah
bagimu untuk membalas dendam. Akan tetapi kalau engkau percaya kepadaku, aku
dapat membawamu. Asal saja engkau tidak bicara kepada siapapun juga, jangan
pula kepada orang muda temanmu itu."
Kini lenyaplah
semua syak wasangka di hati Ayu Candra, namun ia masih bertanya lagi,
"Paman
Jatoko, bagaimana paman tahu akan hal itu semua?"
"Ayu
Candra, engkau masih tidak percaya kepadaku? Aku adalah seorang penduduk
Kadipaten Selopenangkep, tentu saja peristiwa yang menimpa keluarga
Selopenangkep itu kuketahui jelas. Sekarang, hendak kutanya kepadamu. Apakah
kau tidak ingin membalaskan kematian ayah bundamu?"
Ayu Candra
bangkit berdiri, mengepal kedua tangannya.
"Tentu
saja!" jawabnya penuh kemarahan dan dendam.
"Bagus!
Kalau begitu, hayo kita berangkat sekarang juga."
"Beri
tahu saya, paman. Siapa musuhku itu dan di mana dia?"
Ki Jatoko
menggeleng kepalanya.
"Tidak
bisa. Mereka itu berpindah-pindah, hanya aku yang akan dapat mencari mereka.
Akupun menaruh dendam, akan tetapi aku sudah cacat, sudah buntung. Aku
mengharapkan engkau akan dapat membalas mereka, dan aku harus menyaksikannya
dan membantumu. Marilah!"
Tanpa
disadarinya, Ayu Candra menoleh ke arah telaga. Hatinya berdebar keras. Girang
bahwa ia kini mendapat jalan untuk membalaskan sakit hati ayah bundanya. Akan
tetapi teringat kepada Joko Wandiro, ia bersangsi.
"Aku akan
memberitahu lebih dahulu kepadanya"
"Apa??
Kepada pemuda itu? Kau keliru, rahasia pribadi yang begini penting tidak boleh
sekali-kali diberitahukan orang lain."
"Paman
Jatoko, hal yang ajaib telah terjadi. Engkau tidak tahu. Kaukira siapakah
pemuda itu? Dialah Joko Wandiro....... kakak kandungku Dialah putera........
ibuku."
Tidak dapat
ditahan lagi, ucapan yang menusuk perasaannya ini kembali mendorong keluar air
matanya. Ki Jatoko benar-benar kaget dan tanpa disadarinya lagi ia lupa bahwa
ia sedang bersandiwara, pura-pura menjadi orang tapadaksa yang lemah. Tubuhnya
mencelat ke atas, tinggi sekali lalu melayang turun bagaikan seekor burung
garuda, kedua kaki buntungnya hinggap kembali di atas tanah tanpa mengeluarkan
suara, tubuhnya ringan dan gerakannya tadi cepat. Karena ia menggunakan aji
meringankan tubuh Bayu Sakti, tentu saja hebat sekali sehingga Ayu Candra yang
tidak menduganya semula, memandang dengan bengong.
"Wah,
kiranya engkau berkepandaian hebat, paman Jatoko!" serunya terheran-heran.
Ki Jatoko
menyesal mengapa ia tidak dapat menguasai dirinya sehingga membuka rahasianya
sendiri. Ia menghela napas. Sungguh mengagetkan sekali kenyataan bahwa pemuda
yang gerak-geriknya tangkas itu adalah Joko Wandiro, putera Wisangjiwo yang
dahulu lenyap diculik Pujo.
"Aku
mengerti sedikit ilmu, karenanya aku akan membantumu dalam menghadapi musuh
kita, Ayu Candra. Akan tetapi, setelah sekarang aku tahu bahwa pemuda itu
adalah Joko Wandiro, lebih-lebih lagi kau tidak boleh bicara tentang membalas
dendam kepada musuh kita itu kepadanya!"
"Eh,
mengapa, paman? Bukankah musuhku berarti musuhnya pula? Pembunuh ibuku berarti
pembunuh ibunya pula?"
"Engkau
tidak tahu, Ayu Candra. Seperti sudah kuceritakan tadi, ketika ibumu diculik
oleh musuh besar keluarganya, Joko Wandiro baru berusia setahun. Kemudian ibumu
dibebaskan oleh musuhnya, akan tetapi Joko Wandiro tidak dibebaskan bahkan
diambil sebagai murid! Nah, pemuda itu semenjak kecil dipelihara dan dididik
oleh musuh besar keluarganya. Sudah tentu hatinya lebih berat kepada gurunya
daripada kepada ibunya yang semenjak ia berusia satu tahun tidak pernah
dilihatnya. Kalau sekarang kau mengatakan bahwa kau dan aku hendak membalas
dendam kepada gurunya, kalau dia tidak melawan kita, tentu ia akan memberi tahu
kepada gurunya supaya musuh besar kita itu menyembunyikan diri!"
Berkerut
kening Ayu Candra. Teringat ia betapa tadi Joko Wandiro juga mengeluarkan
kata-kata mencegah ia membalas dendam kepada musuh! Tentu saja Joko Wandiro
sudah dapat menduga bahwa yang membunuh ibunya adalah gurunya sendiri, guru
yang semenjak ia berusia setahun telah memelihara dan mendidiknyal Kekecewaan
hatinya karena laki-laki yang dicintanya itu ternyata saudara sekandung, kini
berubah menjadi kemarahan.
"Hemm,
dia murid musuh besarku......... ?" Ia bersungut-sungut.
"Betul,
nini. Kalau saja dia itu bukan putera ibumu sendiri, tentu sekarang juga kuajak
engkau menyerangnya!"
Ayu Candra
termenung, kemudian ia mengambil keputusan tetap,
"Paman
Jàtoko, aku ikut bersamamu!"
Demikianlah,
tak lama kemudian sambil membawa buntalan pakaiannya, Ayu Candra pergi bersama
Ki Jatoko yang kini tidak lagi menyembunyikan kepandaiannya sehingga Ayu Candra
makin terkejut dan kagum karena laki-laki itu ternyata dapat berlari lebih
cepat daripadanya!
Di antara para
pangeran dan puteri Kerajaan Jenggala, yang paling suka dan akrab dengan Endang
Patibroto hanyalah kakak beradik, putera dan puteri sri baginda dari selir yang
ke lima. Pangeran Panjirawit dan adiknya, Puteri Mayagaluh segera menjadi
sahabat baik Endang Patibroto setelah dara perkasa ini menjadi kepala pengawal
istana Jenggala. Yang menarik kedua orang muda bangsawan itu adalah karena
Endang Patibroto seorang yang sakti mandraguna. Di antara putera dan puteri
raja, hanya mereka berdua inilah yang suka akan olah keperwiraan dan
ketangkasan. Ibu mereka yang menjadi selir ke lima sri baginda adalah seorang
bekas prajurit wanita, puteri seorang senopati Kahuripan, maka tidak
mengherankan apabila puteri tunggalnya suka pula akan ilmu keprajuritan.
Kesukaan akan ilmu ini agaknya menurun pula kepada Pangeran Panjirawit dan
adiknya sehingga semenjak kecil dua orang putera dan puteri ini suka
mempelajari ilmu silat. Di samping kesukaan akan aji kedigdayaan, juga kakak
beradik bangsawan ini memiliki watak yang periang, ramah dan tidak sombong
seperti putera-putera raja lainnya. Agaknya hal ini yang membuat Endang
Patibroto suka pula kepadanya dan ia tidak menolak ketika mereka menariknya
sebagai sahabat dan sering pula ia memberi petunjuk kepada mereka tentang ilmu
ketangkasan.
Semenjak dua
orang muda bangsawan itu menjadi sahabat baik Endang Patibroto mereka bertiga
seringkali keluar dari istana, menunggang kuda dan pergi ke hutan berburu
binatang hutan. Akan tetapi selalu Endang Patibroto yang menjadi pimpinan dan
kakak beradik bangsawan itu hanya menurut saja ke mana Endang Patibroto pergi.
Mereka tidak pula menolak ketika pada suatu hari Endang Patibroto mengajak
mereka pergi merantau jauh ke barat sampai ke Telaga Sarangan. Seperti telah diceritakan
di bagian depan, dalam perjalanan ini, ketika lewat dekat Sarangan, kuda Endang
Patibroto terkejut oleh suara gerengan harimau yang bertanding melawan Joko
Wandiro. Endang Patibroto marah dan turun dari kudanya, terus berkelebat lenyap
memasuki hutan sampai ke pinggir telaga. Ia membunuh harimau dan melukai Ayu
Candra yang dianggapnya kurang ajar kepadanya.
Ketika ia
bertemu pandang dengan Joko Wandiro, ia merasa seperti kenal pemuda itu, akan
tetapi ia lupa lagi dan ia kagum melihat pemuda itu berhasil menghindarkan diri
dari serangan anak panahnya. Padahal biasanya anak panahnya itu seratus kali
lepas tiada satupun luput. Namun ia sudah puas melihat dara cantik itu terkena
anak panahnya, karena yang kurang ajar kepadanya hanya dara cantik itu saja,
maka ia lalu pergi melanjutkan perjalanannya bersama Pangeran Panjirawit dan
Puteri Mayagaluh. Tiga orang muda ini usianya hampir sebaya. Pangeran
Panjirawit berusia dua puluh satu tahun, Endang Patibroto berusia delapan belas
tahun, dan Puteri Mayagaluh tujuh belas tahun. Mendengar mereka bercakap-cakap
dan bersenda-gurau secara bebas sungguh sukar diduga bahwa yang dua adalah
putera Raja Jenggala sedangkan yang seorang, wanita lagi, adalah seorang hamba
sungguhpun pangkatnya cukup tinggi, yaitu kepala pengawal dalam istana
Jenggala. Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda-kuda pilihan, namun harus
diakui bahwa di antara mereka bertiga, Endang Patibroto yang paling tangkas dan
pandai menunggang kuda. Hal ini adalah berkat kesaktiannya yang jauh berada di
atas tingkat putera-puteri raja itu. Tentu saja kalau bicara tentang latihan,
Endang Patibroto kalah terlatih. Putera dan puteri itu sejak kecil sudah biasa
menunggang kuda yang besar, sedangkan Endang Patibroto sendiri baru saja, belum
genap setahun, melatih ilmu menunggang kuda. Akan tetapi, karena hawa sakti di
tubuhnya yang luar biasa, sebentar saja ia menguasai ilmu ini dan malah lebih
mahir daripada yang sudah berlatih puluhan tahun. Setiap gerak kedua kakinya,
setiap hentakan kendali, demikian bertenaga dan antep. Hal ini terasa oleh kuda
yang ditungganginya sehingga kuda itu menjadi penurut sekali.
Tujuan
perjalanan Endang Patibroto kali ini adalah Bayuwismo di Sungapan! Sudah
bertahun-tahun ia rindu kepada ibunya. Ketika ia berada di Pulau Iblis bersama
gurunya, Dibyo Marnangkoro ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk
mencari ibunya. Bahkan ia tak pernah menyebut-nyebut tentang ibunya di depan
gurunya. Sekarang, setelah ia hidup bebas bahkan menduduki pangkat tinggi di
Jenggala, ia banyak menganggur dan teringatlah ia kepada ibunya. Kesempatan
berburu binatang dengan dua orang muda bangsawan itu ia pergunakan untuk terus
pergi ke barat, mencari ibunya. Ibunya pernah mengatakan dahulu bahwa kampung
halaman ibunya adalah Bayuwismo di Sungapan, di pantai Laut Selatan. Makin
dekat dengan Bayuwismo, makin gembira hati Endang Patibroto. Ketika melewati
Pegunungan Seribu dan mendengar keterangan dari seorang penduduk bahwa
Bayuwismo tidak jauh lagi, ia lalu berkata kepada kedua orang sahabatnya,
"Gusti
pangeran dan gusti puteri, tempat tinggal ibuku tidak jauh lagi. Jalan ini
terus ke selatan sampai di pantai laut, di sanalah tempat tinggal ibuku. Mari
kita berlomba!" Tanpa menanti jawaban, Endang Patibroto membalapkan
kudanya menuju ke selatan.
"Jangan
tergesa-gesa..... " Pangeran Panjirawit menegur, akan tetapi melihat
Endang Patibroto tidak memperdulikannya, ia menoleh kepada adlknya.
"Mari
kita kejar dia!"
Tiga ekor kuda
itu membalaplah. Mereka melalui jalan-jalan yang cukup sukar karena Pegunungan
Seribu belum juga habis. Selain jalan-jalan sukar juga mereka melalui
hutan-hutan kecil yang cukup lebat. Makin lama Endang Patibroto makin jauh
meninggalkan dua orang sahabatnya. Pangeran Panjirawit yang sudah
berbulan-bulan jatuh hati kepada Endang Patibroto, tidak mau tertinggal jauh,
lalu membalapkan kudanya mengejar. Puteri Mayagaluh tentu saja masih kalah oleh
kakaknya. Betapapun ia membedal kudanya, la maslh tertinggal dan akhirnya
bayangan kakaknyapun lenyap dan derap kaki kuda hanya terdengar jauh di depan.
Namun, karena puteri itu bukan seorang lemah, bukan pula penakut dan memiliki
jiwa satria, dia menggigit bibir, membedal kudanya, menjepit perut kuda dengan
kedua betisnya yang halus dan putih, terus berusaha mengejar. Pangeran
Panjirawit tetap tak bisa menyusul Endang Patibroto dan akhirnya ia teringat
kepada adiknya. la menahan kudanya dan melihat adiknya membalap dengan cepat
sekali. Ia tersenyum, membiarkan adiknya lewat kemudian ia yang mengejar dari
belakang. Biarpun ia menang mahir dalam hal menunggang kuda, namun ia harus
mengakui bahwa kuda yang ditunggangi adiknya itu lebih baik daripada kudanya
sendiri. Tidak lama kemudian, kuda tunggangan Pangeran Panjirawit
terhuyung-huyung. Pangeran itu terkejut lalu menahan kudanya, dan membiarkan kudanya
membereskan napasnya yang sudah hampir putus itu. Ketika napas kudanya mereda
dan ia mengejar lagi, ia sudah tidak melihat bayangan adiknya.
Ternyata
Bayuwismo yang dikatakan oleh penduduk gunung disebut dekat itu sama sekali
tidak dekat. Setelah naik turun gunung dan melalui hutan-hutan, belum juga
Pangeran Panjirawit melihat pantai. Mulailah hatinya menjadi gelisah. Ia
mengejar terus dan seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika ia
berhasil tiba di Bayuwismo setelah berputaran mencari adiknya dan tersesat ke
sana-sini, ia tetap tidak bertemu dengan Puteri Mayagaluh. Adiknya itu telah
lenyap tidak meninggalkan jejak!
Ke manakah
perginya Puteri Mayagaluh? Ia memang tersesat seperti juga kakaknya dan lebih
daripada itu, ia tertimpa bencana! Sebagai seorang puteri, biarpun ia
seringkali pergi berburu, akan tetapi biasanya ia berteman dan hutan yang
didatanginya adalah hutan yang sudah dikenalnya. Kini untuk pertama kalinya ia
berkuda seorang diri melalui pegunungan yang asing, ditambah banyak hutan-hutan
liar sehingga tanpa disadarinya, ia bukannya membalapkan kuda menuju ke selatan
lagi, melainkan ke arah barat! Karena makin lama hutan itu makin lebat dan ia
masih juga belum mampu menyusul Endang Patibroto, setelah agak lama timbul
kekhawatiran hatinya. Ia memperlambat jalannya kuda untuk menanti kakaknya.
Akan tetapi alangkah cemas hatinya ketika ditunggu-tunggu, kakaknya belum juga
muncul, bahkan derap kaki kuda kakaknya juga tidak terdengar sama sekali!
Puteri ini
memang berhati tabah, akan tetapi setelah malam tiba, hatinya penuh rasa takut
juga.
No comments:
Post a Comment