Badai Laut Selatan ; Bagian 118


Ki Jatoko mengangguk-angguk.
"Ya, selain dia....... sendiri........ sakti mandraguna, si keparat itu masih mempunyai dua orang isteri yang juga tinggi ilmunya. Karena itu tidaklah mudah bagimu untuk membalas dendam. Akan tetapi kalau engkau percaya kepadaku, aku dapat membawamu. Asal saja engkau tidak bicara kepada siapapun juga, jangan pula kepada orang muda temanmu itu."
Kini lenyaplah semua syak wasangka di hati Ayu Candra, namun ia masih bertanya lagi,
"Paman Jatoko, bagaimana paman tahu akan hal itu semua?"
"Ayu Candra, engkau masih tidak percaya kepadaku? Aku adalah seorang penduduk Kadipaten Selopenangkep, tentu saja peristiwa yang menimpa keluarga Selopenangkep itu kuketahui jelas. Sekarang, hendak kutanya kepadamu. Apakah kau tidak ingin membalaskan kematian ayah bundamu?"
Ayu Candra bangkit berdiri, mengepal kedua tangannya.
"Tentu saja!" jawabnya penuh kemarahan dan dendam.
"Bagus! Kalau begitu, hayo kita berangkat sekarang juga."
"Beri tahu saya, paman. Siapa musuhku itu dan di mana dia?"
Ki Jatoko menggeleng kepalanya.
"Tidak bisa. Mereka itu berpindah-pindah, hanya aku yang akan dapat mencari mereka. Akupun menaruh dendam, akan tetapi aku sudah cacat, sudah buntung. Aku mengharapkan engkau akan dapat membalas mereka, dan aku harus menyaksikannya dan membantumu. Marilah!"
Tanpa disadarinya, Ayu Candra menoleh ke arah telaga. Hatinya berdebar keras. Girang bahwa ia kini mendapat jalan untuk membalaskan sakit hati ayah bundanya. Akan tetapi teringat kepada Joko Wandiro, ia bersangsi.
"Aku akan memberitahu lebih dahulu kepadanya"
"Apa?? Kepada pemuda itu? Kau keliru, rahasia pribadi yang begini penting tidak boleh sekali-kali diberitahukan orang lain."
"Paman Jatoko, hal yang ajaib telah terjadi. Engkau tidak tahu. Kaukira siapakah pemuda itu? Dialah Joko Wandiro....... kakak kandungku Dialah putera........ ibuku."

Tidak dapat ditahan lagi, ucapan yang menusuk perasaannya ini kembali mendorong keluar air matanya. Ki Jatoko benar-benar kaget dan tanpa disadarinya lagi ia lupa bahwa ia sedang bersandiwara, pura-pura menjadi orang tapadaksa yang lemah. Tubuhnya mencelat ke atas, tinggi sekali lalu melayang turun bagaikan seekor burung garuda, kedua kaki buntungnya hinggap kembali di atas tanah tanpa mengeluarkan suara, tubuhnya ringan dan gerakannya tadi cepat. Karena ia menggunakan aji meringankan tubuh Bayu Sakti, tentu saja hebat sekali sehingga Ayu Candra yang tidak menduganya semula, memandang dengan bengong.
"Wah, kiranya engkau berkepandaian hebat, paman Jatoko!" serunya terheran-heran.
Ki Jatoko menyesal mengapa ia tidak dapat menguasai dirinya sehingga membuka rahasianya sendiri. Ia menghela napas. Sungguh mengagetkan sekali kenyataan bahwa pemuda yang gerak-geriknya tangkas itu adalah Joko Wandiro, putera Wisangjiwo yang dahulu lenyap diculik Pujo.
"Aku mengerti sedikit ilmu, karenanya aku akan membantumu dalam menghadapi musuh kita, Ayu Candra. Akan tetapi, setelah sekarang aku tahu bahwa pemuda itu adalah Joko Wandiro, lebih-lebih lagi kau tidak boleh bicara tentang membalas dendam kepada musuh kita itu kepadanya!"
"Eh, mengapa, paman? Bukankah musuhku berarti musuhnya pula? Pembunuh ibuku berarti pembunuh ibunya pula?"
"Engkau tidak tahu, Ayu Candra. Seperti sudah kuceritakan tadi, ketika ibumu diculik oleh musuh besar keluarganya, Joko Wandiro baru berusia setahun. Kemudian ibumu dibebaskan oleh musuhnya, akan tetapi Joko Wandiro tidak dibebaskan bahkan diambil sebagai murid! Nah, pemuda itu semenjak kecil dipelihara dan dididik oleh musuh besar keluarganya. Sudah tentu hatinya lebih berat kepada gurunya daripada kepada ibunya yang semenjak ia berusia satu tahun tidak pernah dilihatnya. Kalau sekarang kau mengatakan bahwa kau dan aku hendak membalas dendam kepada gurunya, kalau dia tidak melawan kita, tentu ia akan memberi tahu kepada gurunya supaya musuh besar kita itu menyembunyikan diri!"
Berkerut kening Ayu Candra. Teringat ia betapa tadi Joko Wandiro juga mengeluarkan kata-kata mencegah ia membalas dendam kepada musuh! Tentu saja Joko Wandiro sudah dapat menduga bahwa yang membunuh ibunya adalah gurunya sendiri, guru yang semenjak ia berusia setahun telah memelihara dan mendidiknyal Kekecewaan hatinya karena laki-laki yang dicintanya itu ternyata saudara sekandung, kini berubah menjadi kemarahan.
"Hemm, dia murid musuh besarku......... ?" Ia bersungut-sungut.
"Betul, nini. Kalau saja dia itu bukan putera ibumu sendiri, tentu sekarang juga kuajak engkau menyerangnya!"
Ayu Candra termenung, kemudian ia mengambil keputusan tetap,
"Paman Jàtoko, aku ikut bersamamu!"
Demikianlah, tak lama kemudian sambil membawa buntalan pakaiannya, Ayu Candra pergi bersama Ki Jatoko yang kini tidak lagi menyembunyikan kepandaiannya sehingga Ayu Candra makin terkejut dan kagum karena laki-laki itu ternyata dapat berlari lebih cepat daripadanya!

Di antara para pangeran dan puteri Kerajaan Jenggala, yang paling suka dan akrab dengan Endang Patibroto hanyalah kakak beradik, putera dan puteri sri baginda dari selir yang ke lima. Pangeran Panjirawit dan adiknya, Puteri Mayagaluh segera menjadi sahabat baik Endang Patibroto setelah dara perkasa ini menjadi kepala pengawal istana Jenggala. Yang menarik kedua orang muda bangsawan itu adalah karena Endang Patibroto seorang yang sakti mandraguna. Di antara putera dan puteri raja, hanya mereka berdua inilah yang suka akan olah keperwiraan dan ketangkasan. Ibu mereka yang menjadi selir ke lima sri baginda adalah seorang bekas prajurit wanita, puteri seorang senopati Kahuripan, maka tidak mengherankan apabila puteri tunggalnya suka pula akan ilmu keprajuritan. Kesukaan akan ilmu ini agaknya menurun pula kepada Pangeran Panjirawit dan adiknya sehingga semenjak kecil dua orang putera dan puteri ini suka mempelajari ilmu silat. Di samping kesukaan akan aji kedigdayaan, juga kakak beradik bangsawan ini memiliki watak yang periang, ramah dan tidak sombong seperti putera-putera raja lainnya. Agaknya hal ini yang membuat Endang Patibroto suka pula kepadanya dan ia tidak menolak ketika mereka menariknya sebagai sahabat dan sering pula ia memberi petunjuk kepada mereka tentang ilmu ketangkasan.
Semenjak dua orang muda bangsawan itu menjadi sahabat baik Endang Patibroto mereka bertiga seringkali keluar dari istana, menunggang kuda dan pergi ke hutan berburu binatang hutan. Akan tetapi selalu Endang Patibroto yang menjadi pimpinan dan kakak beradik bangsawan itu hanya menurut saja ke mana Endang Patibroto pergi. Mereka tidak pula menolak ketika pada suatu hari Endang Patibroto mengajak mereka pergi merantau jauh ke barat sampai ke Telaga Sarangan. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dalam perjalanan ini, ketika lewat dekat Sarangan, kuda Endang Patibroto terkejut oleh suara gerengan harimau yang bertanding melawan Joko Wandiro. Endang Patibroto marah dan turun dari kudanya, terus berkelebat lenyap memasuki hutan sampai ke pinggir telaga. Ia membunuh harimau dan melukai Ayu Candra yang dianggapnya kurang ajar kepadanya.

Ketika ia bertemu pandang dengan Joko Wandiro, ia merasa seperti kenal pemuda itu, akan tetapi ia lupa lagi dan ia kagum melihat pemuda itu berhasil menghindarkan diri dari serangan anak panahnya. Padahal biasanya anak panahnya itu seratus kali lepas tiada satupun luput. Namun ia sudah puas melihat dara cantik itu terkena anak panahnya, karena yang kurang ajar kepadanya hanya dara cantik itu saja, maka ia lalu pergi melanjutkan perjalanannya bersama Pangeran Panjirawit dan Puteri Mayagaluh. Tiga orang muda ini usianya hampir sebaya. Pangeran Panjirawit berusia dua puluh satu tahun, Endang Patibroto berusia delapan belas tahun, dan Puteri Mayagaluh tujuh belas tahun. Mendengar mereka bercakap-cakap dan bersenda-gurau secara bebas sungguh sukar diduga bahwa yang dua adalah putera Raja Jenggala sedangkan yang seorang, wanita lagi, adalah seorang hamba sungguhpun pangkatnya cukup tinggi, yaitu kepala pengawal dalam istana Jenggala. Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda-kuda pilihan, namun harus diakui bahwa di antara mereka bertiga, Endang Patibroto yang paling tangkas dan pandai menunggang kuda. Hal ini adalah berkat kesaktiannya yang jauh berada di atas tingkat putera-puteri raja itu. Tentu saja kalau bicara tentang latihan, Endang Patibroto kalah terlatih. Putera dan puteri itu sejak kecil sudah biasa menunggang kuda yang besar, sedangkan Endang Patibroto sendiri baru saja, belum genap setahun, melatih ilmu menunggang kuda. Akan tetapi, karena hawa sakti di tubuhnya yang luar biasa, sebentar saja ia menguasai ilmu ini dan malah lebih mahir daripada yang sudah berlatih puluhan tahun. Setiap gerak kedua kakinya, setiap hentakan kendali, demikian bertenaga dan antep. Hal ini terasa oleh kuda yang ditungganginya sehingga kuda itu menjadi penurut sekali.
Tujuan perjalanan Endang Patibroto kali ini adalah Bayuwismo di Sungapan! Sudah bertahun-tahun ia rindu kepada ibunya. Ketika ia berada di Pulau Iblis bersama gurunya, Dibyo Marnangkoro ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mencari ibunya. Bahkan ia tak pernah menyebut-nyebut tentang ibunya di depan gurunya. Sekarang, setelah ia hidup bebas bahkan menduduki pangkat tinggi di Jenggala, ia banyak menganggur dan teringatlah ia kepada ibunya. Kesempatan berburu binatang dengan dua orang muda bangsawan itu ia pergunakan untuk terus pergi ke barat, mencari ibunya. Ibunya pernah mengatakan dahulu bahwa kampung halaman ibunya adalah Bayuwismo di Sungapan, di pantai Laut Selatan. Makin dekat dengan Bayuwismo, makin gembira hati Endang Patibroto. Ketika melewati Pegunungan Seribu dan mendengar keterangan dari seorang penduduk bahwa Bayuwismo tidak jauh lagi, ia lalu berkata kepada kedua orang sahabatnya,
"Gusti pangeran dan gusti puteri, tempat tinggal ibuku tidak jauh lagi. Jalan ini terus ke selatan sampai di pantai laut, di sanalah tempat tinggal ibuku. Mari kita berlomba!" Tanpa menanti jawaban, Endang Patibroto membalapkan kudanya menuju ke selatan.
"Jangan tergesa-gesa..... " Pangeran Panjirawit menegur, akan tetapi melihat Endang Patibroto tidak memperdulikannya, ia menoleh kepada adlknya.
"Mari kita kejar dia!"

Tiga ekor kuda itu membalaplah. Mereka melalui jalan-jalan yang cukup sukar karena Pegunungan Seribu belum juga habis. Selain jalan-jalan sukar juga mereka melalui hutan-hutan kecil yang cukup lebat. Makin lama Endang Patibroto makin jauh meninggalkan dua orang sahabatnya. Pangeran Panjirawit yang sudah berbulan-bulan jatuh hati kepada Endang Patibroto, tidak mau tertinggal jauh, lalu membalapkan kudanya mengejar. Puteri Mayagaluh tentu saja masih kalah oleh kakaknya. Betapapun ia membedal kudanya, la maslh tertinggal dan akhirnya bayangan kakaknyapun lenyap dan derap kaki kuda hanya terdengar jauh di depan. Namun, karena puteri itu bukan seorang lemah, bukan pula penakut dan memiliki jiwa satria, dia menggigit bibir, membedal kudanya, menjepit perut kuda dengan kedua betisnya yang halus dan putih, terus berusaha mengejar. Pangeran Panjirawit tetap tak bisa menyusul Endang Patibroto dan akhirnya ia teringat kepada adiknya. la menahan kudanya dan melihat adiknya membalap dengan cepat sekali. Ia tersenyum, membiarkan adiknya lewat kemudian ia yang mengejar dari belakang. Biarpun ia menang mahir dalam hal menunggang kuda, namun ia harus mengakui bahwa kuda yang ditunggangi adiknya itu lebih baik daripada kudanya sendiri. Tidak lama kemudian, kuda tunggangan Pangeran Panjirawit terhuyung-huyung. Pangeran itu terkejut lalu menahan kudanya, dan membiarkan kudanya membereskan napasnya yang sudah hampir putus itu. Ketika napas kudanya mereda dan ia mengejar lagi, ia sudah tidak melihat bayangan adiknya.
Ternyata Bayuwismo yang dikatakan oleh penduduk gunung disebut dekat itu sama sekali tidak dekat. Setelah naik turun gunung dan melalui hutan-hutan, belum juga Pangeran Panjirawit melihat pantai. Mulailah hatinya menjadi gelisah. Ia mengejar terus dan seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika ia berhasil tiba di Bayuwismo setelah berputaran mencari adiknya dan tersesat ke sana-sini, ia tetap tidak bertemu dengan Puteri Mayagaluh. Adiknya itu telah lenyap tidak meninggalkan jejak!
Ke manakah perginya Puteri Mayagaluh? Ia memang tersesat seperti juga kakaknya dan lebih daripada itu, ia tertimpa bencana! Sebagai seorang puteri, biarpun ia seringkali pergi berburu, akan tetapi biasanya ia berteman dan hutan yang didatanginya adalah hutan yang sudah dikenalnya. Kini untuk pertama kalinya ia berkuda seorang diri melalui pegunungan yang asing, ditambah banyak hutan-hutan liar sehingga tanpa disadarinya, ia bukannya membalapkan kuda menuju ke selatan lagi, melainkan ke arah barat! Karena makin lama hutan itu makin lebat dan ia masih juga belum mampu menyusul Endang Patibroto, setelah agak lama timbul kekhawatiran hatinya. Ia memperlambat jalannya kuda untuk menanti kakaknya. Akan tetapi alangkah cemas hatinya ketika ditunggu-tunggu, kakaknya belum juga muncul, bahkan derap kaki kuda kakaknya juga tidak terdengar sama sekali!

Puteri ini memang berhati tabah, akan tetapi setelah malam tiba, hatinya penuh rasa takut juga.

<<< Bagian 117                                                                                       Bagian 119 >>>

No comments:

Post a Comment