Badai Laut Selatan ; Bagian 120


"Heh-heh, kau cantik sekali. Kau pantas menjadi biniku, sayang!"
Si kepala rampok terkekeh, kemudian menundukkan mukanya hendak mencium muka yang cantik jelita itu. Mayagaluh terkejut dan lupa akan rasa takutnya. Rasa ngeri dan marah mengaduk hatinya dan kembali ia meronta, tangannya menampar ke atas.
"Plakk!". Muka perampok itu kena tamparan yang cukup keras sehingga kepala rampok itu membatalkan niatnya mencium, mukanya berubah merah dan ia marah sekali. Dengan tangan kirinya, dicekiknya leher Mayagaluh. Sang puteri meronta dan berusaha melepaskan diri namun sia-sia sehingga ia terengah-engah dan tubuhnya menjadi lemas. Setelah Mayagaluh pingsan baru kepala rampok itu menghentikan cekikannya dan terus membalapkan kuda.

Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat cepat sekali laksana kijang melompat. Bayangan ini bukan lain adalah Joko Wandiro! Seperti telah kita ketahui, Joko Wandiro mengejar Ayu Candra yang melarikan diri pergi dari pondoknya bersama Ki Jatoko. Akan tetapi karena tidak tahu ke mana perginya dara itu, juga tidak dapat mengira-ngira ke mana gerangan tujuannya, Joko Wandiro mengejar ke jurusan yang berlawanan. Pemuda ini mengejar ke selatan, terus ke selatan sampal akhirnya ia tiba di Pegunungan Kidul dan teringatlah ia akan pesan ayah angkatnya bahwa ayah angkatnya dahulu tinggal di Bayuwismo, di pantai Laut Selatan Karena iapun tidak mempunyal tujuan tertentu, tidak tahu pula ke mana harus mencari Ayu Candra, maka ia lalu membelok ke barat, hendak pergi ke Bayuwismo. Di dalam hutan itu ia tadi mendengar jerit minta tolong. Mendengar jerit wanita minta tolong ini, hatinya berdebar keras. Jangan-jangan Ayu Candra yang tertimpa malapetaka, pikirnya sambil meloncat dan mengerahkan aji kesaktian dan lari bagaikan kijang melompat cepatnya. Sebentar saja ia sudah dapat menyusul dan ia melihat seorang laki-laki tinggi besar memondong tubuh seorang dara yang tak bergerak-gerak dan lemas, agaknya pingsan, kemarahannya timbul. Ia tidak menegur lagi, terus melompat dan tubuhnya menyambar bagaikan seekor elang rajawali, sambil mulutnya membentak,
"Bedebah!"
Kepala rampok melihat tiba-tiba ada orang menyambarnya dari atas seperti Raden Gatutkaca terbang menyambar, kaget setengah mati. Ia melepaskan kendali kuda dan menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga. Tentu saja ia bukan seorang lemah. Tenaganya besar dan ia pandai ilmu silat. Akan tetapi sekali ini ia bertemu batu. Begitu lengannya bertemu dengan lengan Joko Wandiro, tubuhnya terguling dan terlempar dari atas punggung kuda, dan entah bagaimana tahu-tahu tubuh sang puteri telah berpindah tangan, berada di pondongan Joko Wandiro!. Ada rasa kecewa di hati Joko Wandiro ketika ia melirik dan melihat wanita itu, walaupun cantik jelita dan muda remaja, ternyata bukan Ayu Candra. Kemarahannya mereda dan ia berdiri tenang sambil memandang kepala perampok yang kini sudah meloncat bangun sambil mencabut golok.
"Babo-babo, si keparat dari manakah berani merampas tawananku? Hayo kembalikan kalau engkau tidak ingin mampus di tanganku!”
"Kisanak," jawab Joko Wandiro tenang,
"namaku Joko Wandiro. Tadi aku mendengar jerit wanita ini minta tolong, lalu melihat engkau melarikannya secara paksa. Tadinya aku ragu-ragu dan tidak tahu siapakah wanita ini dan mengapa kaularikan. Setelah kini aku tahu bahwa dia tawananmu, tentu saja aku tidak boleh tinggal diam saja. Aku harus menolongnya dan dia takkan kukembalikan kepadamu."
"Keparat Joko Wandiro, kalau begitu kau sudah bosan hidup!" bentak si perampok sambil menerjang maju dengan ayunan goloknya. Melihat gerakan golok yang cepat dan bertenaga, Joko Wandiro maklum bahwa lawannya ini memiliki kepandaian biasa saja. Ia mengelak dengan tenang, kakinya menyambar dari samping dan perampok itu terbanting roboh!
Si perampok kaget setengah mati. Belum pernah selama hidupnya ia mengalami hal seperti ini. Ia bergolok. Orang muda itu bertangan kosong. Bukan itu saja, bahkan kedua tangan orang muda itu memondong tubuh sang puteri, tidak ikut bergerak, hanya menggunakan kakinya tapi dalam segebrakan saja ia roboh! Rasa kaget dan heran merubah penasaran dan marah sekali. Kembali ia menerjang setelah meloncat bangun, kali ini terjangannya lebih ganas daripada tadi dan kembali Joko Wandiro mengelak sambil mengangkat kaki dan untuk kedua kalinya perampok itu terbanting roboh, lebih keras daripada tadi. Ia tidak tahu bahwa pemuda sakti itu merobohkannya dengan meminjam tenaganya, maka makin kuat ia menyerang, makin keras pula ia terbanting roboh oleh tangannya sendiri. Sampai nanar kepalanya dan sampai kabur pandang matanya sehingga setelah terbanting roboh, ia hanya mampu bangkit duduk dan sejenak ia menggoyang-goyangkan kepalanya untuk rnengusir kepusingan.

Dasar perampok ini seorang kasar dan bodoh. Ia masih belum kapok dirobohkan dua kali, bahkan makin penasaran dan marah. Setelah hilang kepusingan kepalanya, ia meloncat bangun dan sambil mengeluarkan teriakan marah, goloknya diputar-putar, kemudian sambil menubruk maju ia membacokkan goloknya ke arah....... sang puteri yang dipondong Joko Wandiro! Pemuda ini terkejut dan marah sekali. Tidak disangkanya bahwa lawan itu akan menggunakan siasat begini keji.
"Manusia jahat!" bentaknya, kini tubuhnya bergerak menendang susul-menyusul. Kaki kanan menendang pergelangan tangan lawan yang memegang golok, kaki kiri mendugang ke arah dada.
"Bress! Ngekkk!!" Tubuh perampok itu terlempar sampai tiga meter ke belakang, goloknya mencelat entah ke mana dan kini ia bangkit duduk sambil terengah-engah dan memegangi ulu hati. Napasnya sesak, perutnya mulas dan ia tidak dapat mengeluarkan suara. Kemudian, matanya jelilatan dan tubuhnya mencelat ke atas, lari ke arah kuda, meloncat ke punggung kuda, dan membalapkan kuda seperti orang dikejar setan! Joko Wandiro hanya tersenyum-geli melihat tingkah laku perampok itu. Ia mengira bahwa kuda itu kuda tunggangan si perampok, maka ia mendiamkannya saja. Wanita muda dalam pondongannya masih pingsan. Joko Wandiro menduga-duga. Pakaian dara ini amat indah, bukan pakaian sembarang orang. Juga wajahnya yang cantik jelita itu terpelihara, rambutnya halus mengeluarkan ganda harum, terhias emas permata. Siapakah gadis ini? Baru saja ia dating dari timur dan sepanjang pegunungan itu tidak terdapat dusun. Juga di kanan kiri tempat itu merupakan daerah sunyi dan mati. Tak mungkin gadis ini berasal dari tempat ini, dan agaknya tidak mungkin pula gadis ini seorang dusun. Tentu seorang kota, seorang puteri bangsawan. Ia mengingat-ingat dan timbul dugaan bahwa tempat tinggal gadis ini tentu berada di sebelah barat.

Bayuwismo tak jauh lagi, juga Selopenangkep. Mungkinkah gadis ini tinggal di Selopenangkep? Ia tidak tahu lagi siapa gerangan kini yang menguasai Selopenangkep, setelah keluarga ayahnya tidak menguasai tempat itu lagi. Berpikir sampai di situ, Joko Wandiro mengambil keputusan untuk membawa gadis ini ke barat, melanjutkan perjalanan dan kalau perlu mengajaknya ke Bayuwismo atau ke Selopenangkep. Maka ia lalu mempergunakan ilmu lari cepat, memondong dara ayu itu menuju ke barat. Matahari telah naik tinggi, hawa mulai panas. Joko Wandiro yang memondong puteri itu, mulai merasa gerah. Ia tidak lelah, tubuhnya sudah amat kuat sehingga untuk berlari cepat sehari saja tidak nanti melelahkannya. Akan tetapi, berlari sambil memondong tubuh orang membuat gerakannya canggung. Apalagi tubuh itu mengeluarkan hawa yang hangat, ini menurut perasaannya, ditambah teriknya sinar matahari, membuat peluhnya keluar juga. Berhentilah ia sebentar di bawah sebatang pohon, lalu menyusutkan muka pada pundak bahunya di kanan kiri. Sebenarnya, Sang Puteri Mayagaluh sudah sadar semenjak tadi! Puteri ini tadi sadar dari pingsannya dan segera tahu bahwa ia tidak lagi dibawa lari di atas kuda, melainkan dipondong dan dibawa lari orang. Ketika ia membuka mata dan memandang, ia terheran heran. Wajah di atas itu sama sekali bukan wajah perampok yang kasar, bengis, dan menyeringai menjijikkan. Tubuhnya bukan tubuh penuh bulu pada dada dan lengan. Wajah ini muda dan tampan sekali, lengannya yang kuat berkulit halus tidak berbulu. Ketika Joko Wandiro berhenti sebentar untuk menghapus peluh di mukanya dengan pundak dan pangkal lengan bajunya, Mayagaluh sudah sadar betul. Ia mengintai muka orang dan jantungnya berdebar. Dapatlah ia menduga bahwa tadi dalam keadaan pingsan, pemuda ini telah menolong dirinya, telah mengalahkan perampok kemudian membawanya pergi. Ke manakah kudanya? Dan siapakah pemuda ini? Melihat cara pemuda ini mendukungnya, kedua lengannya menyangga bagian punggung, leher dan bawah paha, ia tahu bahwa pemuda ini seorang yang bersusila, tidak seperti perampok tadi yang memeluknya secara kurang ajar.

Joko Wandiro yang sedang mengusap keringatnya, tiba-tiba merasa betapa dada orang yang dipondongnya berdetak-detak keras. Dalam keadaan terpondong itu, samping dada gadis itu tentu saja merapat pada dadanya dan kini dari dalam dada gadis itu timbul detakan-detakan yang seakan-akan memukuli dadanya sendiri. la melirik ke arah muka orang yang dipondongnya. Joko Wandiro menahan senyumnya. Hemm, ternyata gadis itu sudah sadar, pikirnya. Hampir ia tertawa melihat betapa dara jelita itu berpura-pura pingsan, menutup sebelah mata kanan rapat-rapat, akan tetapi mata kiri bergerak-gerak bulu matanya, agaknya sedang mengintainya dari balik bulu-bulu mata yang panjang lentik. Hemmm, bukan main cantiknya gadis ini, pikir Joko Wandiro. Hatinya juga berdebar dan pipinya terasa panas. Timbul rasa kasihan dan juga suka. Entah bagaimana, perasaan mujijat menguasai hatinya dan membuat ia perlahan-lahan menundukkan mukanya dan hidung dan bibirnya menyentuh pipi yang halus dan putih kemerahan itu. Hanya sebentar dan cepat-cepat Joko Wandiro menjauhkan lagi mukanya sambil memaki diri sendiri dalam hatinya. Ihh! Benar-benar dia telah gila. Setan telah menguasai hatinya. Benarkah ia seorang mata keranjang? Seorang yang gila akan wajah jelita? Kalau tidak demikian, mengapa ia suka sekali kepada gadis ini, suka mendukungnya dan bahkan ingin sekali berdekatan, ingin sekali menciumnya? Makin berdebar jantung Joko Wandiro ketika ia merasa betapa dada gadis itu terengah-engah, betapa detak jantung gadis itu seakan-akan hendak memecahkan rongga dadanya, kemudian melihat betapa warna kemerahan pada wajah yang berkulit halus putih itu kini menjadi makin merah seperti udang dipanggang. Tiba-tiba dara itu meronta, membuka matanya yang lebar dan amat indah, mulutnya menahan isak dan ia merintih perlahan, lalu berkata,
"Lepaskan aku.....!”
Joko Wandiro melepaskan dukungannya. Melihat gadis itu berdiri di depannya dengan wajah penuh kemarahan, mata itu memancarkan sinar dan kedua tangan kecil terkepal, Joko Wandiro menundukkan mukanya dan berkata perlahan,
"Maafkan aku, nona. Aku sudah berani....... berani memondongmu...... karena kau tadi..... dilarikan perampok dan kau pingsan," kata Joko Wandiro gagap.
Mata gadis itu tidak sehebat mata Ayu Candra, akan tetapi harus ia akui bahwa tidak banyak ia bertemu dengan gadis yang bermata seindah ini. Karena tidak berani berterus terang, Joko Wandiro merasa seperti orang membohong dan mukanya seketika menjadi merah sekali.
"Engkau laki-laki lancang! Engkau sudah berani....... hemm........ berbuat kurang ajar kepadaku. Apakah kau tahu siapa aku? Aku adalah Puteri Mayagaluh, puteri Raja Jenggala."

Bukan main kagetnya hati Joko Wandiro. Celaka, pikirnya. Ia telah melakukan dosa besar sekali. Ia telah berani mencium pipi puteri raja! Dosa yang tak dapat diampuni lagi. Biarpun gurunya berpesan agar ia membantu Kerajaan Panjalu untuk menghadapi Jenggala, namun betapapun juga, Kerajaan Jenggala masih bersaudara dengan Kerajaan Panjalu. Raja Jenggala adalah adik Raja Panjalu, masih keturunan mendiang Sang Prabu Airlangga. Dan ia telah berani mencium pipi sang puteri. Wajahnya seketika menjadi pucat, kedua kakinya lemas dan ia sudah menjatuhkan diri berlutut sambil menundukkan mukanya.
"Karena hamba tidak tahu, hamba mohon paduka suka memberi ampun," katanya merendah.
Dan karena ia tertunduk itulah, ia tidak melihat betapa wajah sang puteri berseri-seri dan kemerahan, betapa sepasang mata yang jeli itu menatap wajahnya dengan tajam dan senyum simpul menghias bibir merah.
"Sudahlah, tidak mengapa. Karena kau tidak tahu, dan juga karena aku sedang pingsan sehingga aku tidak tahu akan perbuatanmu, biarlah kita jangan bicarakan hal itu pula. Betapapun juga, engkau sudah menolongku dari tangan perampok jahat. Orang muda, siapakah namamu?"
Lega rasa hati Joko Wandiro. Terasa lapang dan kepucatan wajahnya segera terganti warna merah. Ia tahu betul bahwa sang puteri tadi tidak pingsan lagi ketika ia menciumnya, tapi kini sang puteri menyatakan bahwa sang puteri dalam keadaan pingsan ketika ia melakukan "perbuatan" tadi dan menghendaki agar hal itu jangan dibicarakan lagi. Memang tidak akan ia bicarakan, akan tetapi bagaimana akan dapat ia lupakan? Ia telah mencium pipi seorang puteri raja! Biarpun puteri ini puteri Kerajaan Jenggala, namun ternyata baik budi dan mudah mengampuni kesalahan orang serta menghargai pertolongan orang.
"Nama hamba Joko Wandiro, gusti puteri."

<<< Bagian 119                                                                                      Bagian 121 >>>

No comments:

Post a Comment