"Heh-heh, kau cantik sekali. Kau pantas menjadi biniku, sayang!"
Si kepala
rampok terkekeh, kemudian menundukkan mukanya hendak mencium muka yang cantik
jelita itu. Mayagaluh terkejut dan lupa akan rasa takutnya. Rasa ngeri dan
marah mengaduk hatinya dan kembali ia meronta, tangannya menampar ke atas.
"Plakk!".
Muka perampok itu kena tamparan yang cukup keras sehingga kepala rampok itu
membatalkan niatnya mencium, mukanya berubah merah dan ia marah sekali. Dengan
tangan kirinya, dicekiknya leher Mayagaluh. Sang puteri meronta dan berusaha
melepaskan diri namun sia-sia sehingga ia terengah-engah dan tubuhnya menjadi
lemas. Setelah Mayagaluh pingsan baru kepala rampok itu menghentikan cekikannya
dan terus membalapkan kuda.
Pada saat itu,
sesosok bayangan berkelebat cepat sekali laksana kijang melompat. Bayangan ini
bukan lain adalah Joko Wandiro! Seperti telah kita ketahui, Joko Wandiro
mengejar Ayu Candra yang melarikan diri pergi dari pondoknya bersama Ki Jatoko.
Akan tetapi karena tidak tahu ke mana perginya dara itu, juga tidak dapat
mengira-ngira ke mana gerangan tujuannya, Joko Wandiro mengejar ke jurusan yang
berlawanan. Pemuda ini mengejar ke selatan, terus ke selatan sampal akhirnya ia
tiba di Pegunungan Kidul dan teringatlah ia akan pesan ayah angkatnya bahwa
ayah angkatnya dahulu tinggal di Bayuwismo, di pantai Laut Selatan Karena iapun
tidak mempunyal tujuan tertentu, tidak tahu pula ke mana harus mencari Ayu
Candra, maka ia lalu membelok ke barat, hendak pergi ke Bayuwismo. Di dalam
hutan itu ia tadi mendengar jerit minta tolong. Mendengar jerit wanita minta
tolong ini, hatinya berdebar keras. Jangan-jangan Ayu Candra yang tertimpa
malapetaka, pikirnya sambil meloncat dan mengerahkan aji kesaktian dan lari
bagaikan kijang melompat cepatnya. Sebentar saja ia sudah dapat menyusul dan ia
melihat seorang laki-laki tinggi besar memondong tubuh seorang dara yang tak
bergerak-gerak dan lemas, agaknya pingsan, kemarahannya timbul. Ia tidak
menegur lagi, terus melompat dan tubuhnya menyambar bagaikan seekor elang
rajawali, sambil mulutnya membentak,
"Bedebah!"
Kepala rampok
melihat tiba-tiba ada orang menyambarnya dari atas seperti Raden Gatutkaca
terbang menyambar, kaget setengah mati. Ia melepaskan kendali kuda dan menangkis
dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga. Tentu saja ia bukan seorang
lemah. Tenaganya besar dan ia pandai ilmu silat. Akan tetapi sekali ini ia
bertemu batu. Begitu lengannya bertemu dengan lengan Joko Wandiro, tubuhnya
terguling dan terlempar dari atas punggung kuda, dan entah bagaimana tahu-tahu
tubuh sang puteri telah berpindah tangan, berada di pondongan Joko Wandiro!.
Ada rasa kecewa di hati Joko Wandiro ketika ia melirik dan melihat wanita itu,
walaupun cantik jelita dan muda remaja, ternyata bukan Ayu Candra. Kemarahannya
mereda dan ia berdiri tenang sambil memandang kepala perampok yang kini sudah
meloncat bangun sambil mencabut golok.
"Babo-babo,
si keparat dari manakah berani merampas tawananku? Hayo kembalikan kalau engkau
tidak ingin mampus di tanganku!”
"Kisanak,"
jawab Joko Wandiro tenang,
"namaku
Joko Wandiro. Tadi aku mendengar jerit wanita ini minta tolong, lalu melihat
engkau melarikannya secara paksa. Tadinya aku ragu-ragu dan tidak tahu siapakah
wanita ini dan mengapa kaularikan. Setelah kini aku tahu bahwa dia tawananmu,
tentu saja aku tidak boleh tinggal diam saja. Aku harus menolongnya dan dia
takkan kukembalikan kepadamu."
"Keparat
Joko Wandiro, kalau begitu kau sudah bosan hidup!" bentak si perampok
sambil menerjang maju dengan ayunan goloknya. Melihat gerakan golok yang cepat
dan bertenaga, Joko Wandiro maklum bahwa lawannya ini memiliki kepandaian biasa
saja. Ia mengelak dengan tenang, kakinya menyambar dari samping dan perampok
itu terbanting roboh!
Si perampok
kaget setengah mati. Belum pernah selama hidupnya ia mengalami hal seperti ini.
Ia bergolok. Orang muda itu bertangan kosong. Bukan itu saja, bahkan kedua
tangan orang muda itu memondong tubuh sang puteri, tidak ikut bergerak, hanya
menggunakan kakinya tapi dalam segebrakan saja ia roboh! Rasa kaget dan heran
merubah penasaran dan marah sekali. Kembali ia menerjang setelah meloncat
bangun, kali ini terjangannya lebih ganas daripada tadi dan kembali Joko
Wandiro mengelak sambil mengangkat kaki dan untuk kedua kalinya perampok itu
terbanting roboh, lebih keras daripada tadi. Ia tidak tahu bahwa pemuda sakti
itu merobohkannya dengan meminjam tenaganya, maka makin kuat ia menyerang,
makin keras pula ia terbanting roboh oleh tangannya sendiri. Sampai nanar
kepalanya dan sampai kabur pandang matanya sehingga setelah terbanting roboh,
ia hanya mampu bangkit duduk dan sejenak ia menggoyang-goyangkan kepalanya
untuk rnengusir kepusingan.
Dasar perampok
ini seorang kasar dan bodoh. Ia masih belum kapok dirobohkan dua kali, bahkan
makin penasaran dan marah. Setelah hilang kepusingan kepalanya, ia meloncat
bangun dan sambil mengeluarkan teriakan marah, goloknya diputar-putar, kemudian
sambil menubruk maju ia membacokkan goloknya ke arah....... sang puteri yang
dipondong Joko Wandiro! Pemuda ini terkejut dan marah sekali. Tidak disangkanya
bahwa lawan itu akan menggunakan siasat begini keji.
"Manusia
jahat!" bentaknya, kini tubuhnya bergerak menendang susul-menyusul. Kaki
kanan menendang pergelangan tangan lawan yang memegang golok, kaki kiri
mendugang ke arah dada.
"Bress!
Ngekkk!!" Tubuh perampok itu terlempar sampai tiga meter ke belakang,
goloknya mencelat entah ke mana dan kini ia bangkit duduk sambil terengah-engah
dan memegangi ulu hati. Napasnya sesak, perutnya mulas dan ia tidak dapat
mengeluarkan suara. Kemudian, matanya jelilatan dan tubuhnya mencelat ke atas,
lari ke arah kuda, meloncat ke punggung kuda, dan membalapkan kuda seperti
orang dikejar setan! Joko Wandiro hanya tersenyum-geli melihat tingkah laku
perampok itu. Ia mengira bahwa kuda itu kuda tunggangan si perampok, maka ia
mendiamkannya saja. Wanita muda dalam pondongannya masih pingsan. Joko Wandiro
menduga-duga. Pakaian dara ini amat indah, bukan pakaian sembarang orang. Juga
wajahnya yang cantik jelita itu terpelihara, rambutnya halus mengeluarkan ganda
harum, terhias emas permata. Siapakah gadis ini? Baru saja ia dating dari timur
dan sepanjang pegunungan itu tidak terdapat dusun. Juga di kanan kiri tempat
itu merupakan daerah sunyi dan mati. Tak mungkin gadis ini berasal dari tempat
ini, dan agaknya tidak mungkin pula gadis ini seorang dusun. Tentu seorang
kota, seorang puteri bangsawan. Ia mengingat-ingat dan timbul dugaan bahwa
tempat tinggal gadis ini tentu berada di sebelah barat.
Bayuwismo tak
jauh lagi, juga Selopenangkep. Mungkinkah gadis ini tinggal di Selopenangkep?
Ia tidak tahu lagi siapa gerangan kini yang menguasai Selopenangkep, setelah
keluarga ayahnya tidak menguasai tempat itu lagi. Berpikir sampai di situ, Joko
Wandiro mengambil keputusan untuk membawa gadis ini ke barat, melanjutkan
perjalanan dan kalau perlu mengajaknya ke Bayuwismo atau ke Selopenangkep. Maka
ia lalu mempergunakan ilmu lari cepat, memondong dara ayu itu menuju ke barat.
Matahari telah naik tinggi, hawa mulai panas. Joko Wandiro yang memondong
puteri itu, mulai merasa gerah. Ia tidak lelah, tubuhnya sudah amat kuat
sehingga untuk berlari cepat sehari saja tidak nanti melelahkannya. Akan
tetapi, berlari sambil memondong tubuh orang membuat gerakannya canggung.
Apalagi tubuh itu mengeluarkan hawa yang hangat, ini menurut perasaannya,
ditambah teriknya sinar matahari, membuat peluhnya keluar juga. Berhentilah ia
sebentar di bawah sebatang pohon, lalu menyusutkan muka pada pundak bahunya di
kanan kiri. Sebenarnya, Sang Puteri Mayagaluh sudah sadar semenjak tadi! Puteri
ini tadi sadar dari pingsannya dan segera tahu bahwa ia tidak lagi dibawa lari
di atas kuda, melainkan dipondong dan dibawa lari orang. Ketika ia membuka mata
dan memandang, ia terheran heran. Wajah di atas itu sama sekali bukan wajah
perampok yang kasar, bengis, dan menyeringai menjijikkan. Tubuhnya bukan tubuh
penuh bulu pada dada dan lengan. Wajah ini muda dan tampan sekali, lengannya
yang kuat berkulit halus tidak berbulu. Ketika Joko Wandiro berhenti sebentar untuk
menghapus peluh di mukanya dengan pundak dan pangkal lengan bajunya, Mayagaluh
sudah sadar betul. Ia mengintai muka orang dan jantungnya berdebar. Dapatlah ia
menduga bahwa tadi dalam keadaan pingsan, pemuda ini telah menolong dirinya,
telah mengalahkan perampok kemudian membawanya pergi. Ke manakah kudanya? Dan
siapakah pemuda ini? Melihat cara pemuda ini mendukungnya, kedua lengannya
menyangga bagian punggung, leher dan bawah paha, ia tahu bahwa pemuda ini
seorang yang bersusila, tidak seperti perampok tadi yang memeluknya secara
kurang ajar.
Joko Wandiro
yang sedang mengusap keringatnya, tiba-tiba merasa betapa dada orang yang
dipondongnya berdetak-detak keras. Dalam keadaan terpondong itu, samping dada
gadis itu tentu saja merapat pada dadanya dan kini dari dalam dada gadis itu
timbul detakan-detakan yang seakan-akan memukuli dadanya sendiri. la melirik ke
arah muka orang yang dipondongnya. Joko Wandiro menahan senyumnya. Hemm,
ternyata gadis itu sudah sadar, pikirnya. Hampir ia tertawa melihat betapa dara
jelita itu berpura-pura pingsan, menutup sebelah mata kanan rapat-rapat, akan
tetapi mata kiri bergerak-gerak bulu matanya, agaknya sedang mengintainya dari
balik bulu-bulu mata yang panjang lentik. Hemmm, bukan main cantiknya gadis
ini, pikir Joko Wandiro. Hatinya juga berdebar dan pipinya terasa panas. Timbul
rasa kasihan dan juga suka. Entah bagaimana, perasaan mujijat menguasai hatinya
dan membuat ia perlahan-lahan menundukkan mukanya dan hidung dan bibirnya
menyentuh pipi yang halus dan putih kemerahan itu. Hanya sebentar dan
cepat-cepat Joko Wandiro menjauhkan lagi mukanya sambil memaki diri sendiri
dalam hatinya. Ihh! Benar-benar dia telah gila. Setan telah menguasai hatinya.
Benarkah ia seorang mata keranjang? Seorang yang gila akan wajah jelita? Kalau
tidak demikian, mengapa ia suka sekali kepada gadis ini, suka mendukungnya dan
bahkan ingin sekali berdekatan, ingin sekali menciumnya? Makin berdebar jantung
Joko Wandiro ketika ia merasa betapa dada gadis itu terengah-engah, betapa
detak jantung gadis itu seakan-akan hendak memecahkan rongga dadanya, kemudian
melihat betapa warna kemerahan pada wajah yang berkulit halus putih itu kini
menjadi makin merah seperti udang dipanggang. Tiba-tiba dara itu meronta,
membuka matanya yang lebar dan amat indah, mulutnya menahan isak dan ia
merintih perlahan, lalu berkata,
"Lepaskan
aku.....!”
Joko Wandiro
melepaskan dukungannya. Melihat gadis itu berdiri di depannya dengan wajah
penuh kemarahan, mata itu memancarkan sinar dan kedua tangan kecil terkepal,
Joko Wandiro menundukkan mukanya dan berkata perlahan,
"Maafkan
aku, nona. Aku sudah berani....... berani memondongmu...... karena kau
tadi..... dilarikan perampok dan kau pingsan," kata Joko Wandiro gagap.
Mata gadis itu
tidak sehebat mata Ayu Candra, akan tetapi harus ia akui bahwa tidak banyak ia
bertemu dengan gadis yang bermata seindah ini. Karena tidak berani berterus
terang, Joko Wandiro merasa seperti orang membohong dan mukanya seketika
menjadi merah sekali.
"Engkau
laki-laki lancang! Engkau sudah berani....... hemm........ berbuat kurang ajar
kepadaku. Apakah kau tahu siapa aku? Aku adalah Puteri Mayagaluh, puteri Raja
Jenggala."
Bukan main
kagetnya hati Joko Wandiro. Celaka, pikirnya. Ia telah melakukan dosa besar
sekali. Ia telah berani mencium pipi puteri raja! Dosa yang tak dapat diampuni
lagi. Biarpun gurunya berpesan agar ia membantu Kerajaan Panjalu untuk
menghadapi Jenggala, namun betapapun juga, Kerajaan Jenggala masih bersaudara
dengan Kerajaan Panjalu. Raja Jenggala adalah adik Raja Panjalu, masih
keturunan mendiang Sang Prabu Airlangga. Dan ia telah berani mencium pipi sang
puteri. Wajahnya seketika menjadi pucat, kedua kakinya lemas dan ia sudah
menjatuhkan diri berlutut sambil menundukkan mukanya.
"Karena
hamba tidak tahu, hamba mohon paduka suka memberi ampun," katanya
merendah.
Dan karena ia
tertunduk itulah, ia tidak melihat betapa wajah sang puteri berseri-seri dan
kemerahan, betapa sepasang mata yang jeli itu menatap wajahnya dengan tajam dan
senyum simpul menghias bibir merah.
"Sudahlah,
tidak mengapa. Karena kau tidak tahu, dan juga karena aku sedang pingsan
sehingga aku tidak tahu akan perbuatanmu, biarlah kita jangan bicarakan hal itu
pula. Betapapun juga, engkau sudah menolongku dari tangan perampok jahat. Orang
muda, siapakah namamu?"
Lega rasa hati
Joko Wandiro. Terasa lapang dan kepucatan wajahnya segera terganti warna merah.
Ia tahu betul bahwa sang puteri tadi tidak pingsan lagi ketika ia menciumnya,
tapi kini sang puteri menyatakan bahwa sang puteri dalam keadaan pingsan ketika
ia melakukan "perbuatan" tadi dan menghendaki agar hal itu jangan
dibicarakan lagi. Memang tidak akan ia bicarakan, akan tetapi bagaimana akan
dapat ia lupakan? Ia telah mencium pipi seorang puteri raja! Biarpun puteri ini
puteri Kerajaan Jenggala, namun ternyata baik budi dan mudah mengampuni
kesalahan orang serta menghargai pertolongan orang.
"Nama
hamba Joko Wandiro, gusti puteri."
No comments:
Post a Comment