Badai Laut Selatan ; Bagian 119


Untung baginya, semenjak ia seringkali berburu binatang bersama Endang Patibroto, ia memperoleh banyak pengalaman sehingga ia memberanikan diri naik ke pohon untuk melewatkan malam itu, sedangkan kudanya ia cancang di bawah. Pada keesokan harinya, ia melanjutkan usaha mencari Endang Patibroto atau rakandanya, akan tetapi makin lama ia tersesat makin jauh. Puteri raja ini berkeliaran seorang diri di dalam hutan. Dapat dibayangkan betapa bingung dan gelisah hatinya setelah berhari-hari ia tidak dapat bertemu dengan dua orang yang dicari-carinya itu, bahkan tidak pernah bertemu dengan seorang manusiapun. Daerah Pegunungan Kidul adalah daerah pegunungan batu kapur yang tidak subur dan tandus sehingga orang-orang tidak suka tinggal di daerah ini. Itulah sebabnya mengapa Puteri Mayagaluh tak pernah melihat pedusunan. Ia menunggang kudanya, kadang-kadang menuntunnya, berkeliaran, tak tahu bahwa beberapa kali ia kembali ke tempat yang itu-itu juga karena tidak mengenal jalan. Dalam waktu beberapa hari saja, wajah puteri itu menjadi pucat, tubuhnya kurus dan rambutnya kusut. la hanya makan kalau terlalu lapar saja, makan seadanya sekedar menyambung hidup. Masih untung baginya, banyak pohon kelapa di daerah ini, dan ada pula beberapa ekor binatang seperti kelinci dan kijang yang ia robohkan dengan anak panah dan ia panggang dagingnya. Setelah kurang lebih sepuluh hari ia berkeliaran di dalam hutan-hutan di daerah Pegunungan Kidul ini, akhirnya Puteri Mayagaluh mengambil keputusan untuk pulang sendiri ke Jenggala, meninggalkan Endang Patibroto dan Pangeran Panjirawit yang tak diketahuinya berada dimana itu. Ia hanya tahu bahwa Jenggala berada jauh di sebelah timur, karena ketika melakukan perjalanan dari kerajaan, mereka bertiga terus pergi ke barat. Karena inilah, maka setelah bermalam lagi dalam hutan, pada keesokan harinya sang puteri menjalankan kudanya menuju ke arah matahari terbit, yaitu ke timur. Kalau aku terus menuju ke timur, akhirnya tentu sampai ke Jenggala, pikirnya. Di tengah jalan ia dapat bertanya kepada orang yang dijumpainya. Ia samà sekali tidak tahu bahwa Pegunungan Kidul merupakan sebaris pegunungan yang tiada putusnya, pegunungan yang seakan-akan merupakan tanggul yang membendung laut Selatan di sepanjang pantai selatan. Pegunungan Kidul ini terus berbaris sepanjang pantai selatan sampai jauh di sebelah timur, bahkan sambung-menyambung sampai di pegunungan sebelah selatan Kerajaan Jenggala sendiri! Karena sang puteri mengambil jalan langsung ke timur dari pegunungan, tentu saja la tidak pernah terbebas dari daerah pegunungan sehingga berhari-hari ia terus menerus naik turun gunung kecil, melakukan perjalanan yang amat sukar dan lambat.

Selama tiga hari ia melakukan perjalanan dan gunung-gunung itu belum juga habis, dusun belum juga ditemukan!. Pada hari ke empatnya, ketika pagi pagi ia sudah menuntun kudanya pada jalan sempit yang amat sukar, tiba-tiba terdengar bentakan orang.
"Orang yang lewat, tinggalkan kuda dan pakaian!"
Dari balik semak-semak belukar meloncat keluar lima orang laki-laki tinggi besar yang berdiri menghadang di depan. Mayagaluh kaget sekali sehingga mukanya berubah pucat akan tetapi kelima orang itu lebih kaget dan heran ketika sekarang melihat penuntun kuda yang mereka cegat itu kiranya seorang dara muda yang amat cantik jelita dan berpakaian serba indah! Tentu saja perampok-perampok ini menjadi girang sekali. Kuda itu amat bagus dan tentu mahal harganya. Pakaian wanita itupun amat mewah dan halus, apalagi perhiasan perhiasan emas permata itu. Disamping ini, wanita itu sendiri amat cantik menarik, seperti dewi kahyangan. Puteri Mayagaluh memandang dengan mata tcrbelalak. Lima orang itu bertubuh tinggi besar dan berwajah galak, terutama sekali orang yang paling muda di antara mereka yang pakaiannya agak berbeda dan agaknya menjadi kepala, bertubuh seperti raksasa dan memandang kepadanya seperti seorang kelaparan nasi. Ia maklum bahwa mereka adalah perampok-perampok, maka ia segera berkata dengan sikap agung seorang putri raja,
"Jangan kalian mengganggu aku! Aku puteri Raja Jenggala yang kehilangan jalan dan hendak pulang ke Jenggala. Kalau kalian suka, boleh kuhadiahkan gelang dan kalungku." Sambil berkata demikian, sang puteri meloloskan kedua gelangnya.
Akan tetapi, lima orang itu adalah perampok-perampok kasar. Keadaan hidup mereka membuat mereka seakan-akan menjadi raja dalam hutan, tentu saja mendengar disebutnya Raja Jenggala, mereka tidak menjadi takut. Akan tetapi pemimpin mereka bukan seorang bodoh. Ia tahu bahwa seorang puteri bangsawan, apalagi puteri raja seperti ini, kalau pergi tentu ada banyak pengawal yang mengantarkannya. Kini sang puteri sesat jalan, tentu sedang dicari-cari. Kalau para pengawal muncul, mereka bisa celaka karena ia mendengar bahwa para pengawal memiliki ilmu kepandaian yang hebat.
"Rampas dulu kudanya," katanya kepada anak buahnya.
Dua orang anak buah perampok yang bernafsu sekali untuk segera merampas kuda dan perhiasan serba mahal itu, melompat maju dan dengan kasar bertindak merenggut kendali kuda dari tangan Puteri Mayagaluh.
"Berani kalian merampas kudaku" sang puteri membentak marah, kedua kakinya melakukan gerakan menendang bergantian amat cepatnya, mengarah bawah pusar lawan. Itulah ilmu tendangan yang amat keji dan ganas, begitu tepat mengenai sasaran tentu akan menewaskan lawan. Ilmu tendangan ini adalah satu di antara banyak ilmu yang ia pelajari dari Endang Patibroto.

Terdengar jerit mengerikan dan dua orang perampok itu terpelanting roboh, berkelojotan dan tak mungkin dapat hidup lebih lama lagi karena anggota tubuh di bawah pusar pecah terkena tendangan tadi!. Biarpun semenjak kecil mempelajari ilmu silat, akan tetapi selama hidupnya belum pernah Mayagaluh membunuh orang. Kini menyaksikan betapa dua orang yang ditendangnya itu berkelojotan sekarat, ia merasa ngeri.
"Pergilah..........! Jangan ganggu aku.......!!" katanya setengah memohon, wajahnya sudah pucat dan tubuhnya menggigil.
Melihat sikap ini, tiga orang perampok itu mengira bahwa tentu tendangan tadi secara kebetulan saja mengenai bagian tubuh yang paling lemah dari kedua kawannya. Kalau gadis itu memang berilmu, tentu tidak ketakutan seperti itu. Kepala rampok yang muda itu lalu membentak kepada dua orang temannya.
"Tangkap kudanya. Masa tidak mampu ?" Dua orang perampok maju bersama.
Mayagaluh yang ketakutan itu kini terpaksa menghunus kerisnya, keris kecil yang biasa dipakai para puteri. Kini dua orang perampok itu agak terkejut. Cara puteri itu mencabut dan memegang gagang keris jelas membayangkan bahwa puteri ini mengerti ilmu silat, mahir dalam tata tempur menggunakan keris. Maka mereka bersikap hati-hati dan menubruk dari kanan kiri untuk merampas kendali kuda yang dipegang tangan kiri Mayagaluh.
Puteri ini cepat menggerakkan kerisnya, menerima perampok dari kanan dengan tusukan, sedangkan perampok yang menubruk dari kiri ia sambut dengan sebuah tendangan kilat, kini agak tinggi mengarah lambung. Dua orang perampok yang mati tertendang tadi sebetulnya juga bukan orang lemah, melainkan orang-orang kasar yang biasa berkelahi. Tadi mereka sekali tendang roboh oleh Mayagaluh karena mereka memandang rendah dan tidak menduga-duga.
Kini, dua orang lagi perampok yang sudah berhati-hati, cepat mengelak dan mengurungkan niatnya merampas kendali kuda ketika melihat sambutan wanita muda itu. Maklum bahwa wanita itu bukan seorang lemah, dua orang perampok ini lalu bergerak menyerang, seorang mencengkeram ke arah pergelangan tangan kanan yang memegang keris, orang ke dua menubruk untuk mencengkeram pundak dan menangkapnya! Sebetulnya dua orang perampok ini hanya orang-orang kasar yang lebih banyak mengandalkan tenaga dan keberanian daripada mengandalkan gerakan ilmu silat. Mayagaluh dapat melihat dengap jelas dan maklum bahwa sebetulnya ia tidak perlu takut melawan mereka. Akan tetapi dasar kurang pengalaman, melihat dua orang laki-laki menerjang dengan muka beringas, mulut menyeringai, mata melotot lebar, ia merasa serem dan muak oleh bau keringat mereka. Karena jijik ia menjadi gugup, menyelinap untuk menjauhkan diri, akan tetapi perasaan jijik dan ngeri membuat ia ingin cepat-cepat mengakhiri ancaman ini maka kerisnya bergerak cepat sekali ke arah lambung perampok ke dua ketika ia menghindar.
"Capp.......!"
Ketika gadis bangsawan ini meloncat sambil mencabut keris, darah muncrat-muncrat dari perut perampok itu yang mendekap perutnya sambil berkaok-kaok seperti kerbau disembelih, lalu roboh dan berkelojotan. Melihat darah muncrat-muncrat ini, hampir saja Mayagaluh pingsan.
"Aduh! Kuminta kepada kalian pergilah, bawa kuda dan perhiasanku semua!" ia mengeluh sambil memandang korbannya dengan mata terbelalak ngeri.

Akan tetapi perampok yang melihat kawannya roboh menjadi marah sekali. Ia mencabut goloknya yang besar dan tajam lalu mengayun golok itu, menyerang dengan kemarahan meluap.
'Genjul, jangan bunuh dia!"
Kepala perampok yang muda itu menegur anak buahnya yang tinggal seorang. Akan tetapi si Genjul, perampok itu yang melihat tiga orang kawannya sudah tewas, tak dapat menahan kemarahannya lagi. Goloknya menyambar ganas ke arah leher Mayagaluh. Puteri ini terkejut, cepat ia menekuk lutut miringkan tubuh sehingga golok lawan lewat di atas kepalanya mengeluarkan bunyi "swingggg!!" menyeramkan sekali. Ia maklum bahwa kalau ia tidak cepat-cepat merobohkan orang ini, keselamatannya sendiri terancam. Maka melihat lawan membuka lengan ketika membacok, dari bawah kerisnya meluncur pula menusuk lambung. Perampok bernama Genjul ini sudah siap-siap, maka cepat ia meloncat mundur sambil mengayun golok ke bawah. Mayagaluh menarik kembali kerisnya, tidak mau membiarkan kerisnya dihantam golok yang berat. Ketika perampok itu menerjang lagi, kini membabat pinggang, Mayagaluh sudah mendahului meloncat ke atas sehingga babatan golok itu lewat di bawah kakinya. Dari atas, Mayagaluh yang sudah menaksir bahwa golok itu tentu akan lewat di bawah kakinya, menggunakan kakinya menendang ke depan, tepat mengenai pergelangan tangan yang memegang golok.
"Aduhh........!"
Perampok itu berseru keras, goloknya terlepas dari pegangan. Dan pada saat itu dari atas, tubuh Mayagaluh sudah meluncur dengan didahului kerisnya yang menusuk ke arah leher lawan. Perampok bernama Genjul itu terkejut sekali dan timbul rasa takutnya yang hebat. Ketakutannya membuat Genjul menjadi nekat dan ia segera mengembangkan kedua lengannya, terus menubruk ke depan, ke arah tubuh puteri yang meluncur turun itu, langsung memeluk pinggang yang ramping! Kalau saja Mayagaluh melanjutkan tusukannya, tentu akan berhasil dan kerisnya akan menembus leher. Akan tetapi melihat betapa laki-laki kasar itu mengembangkan lengannya, Mayagaluh merasa ngeri dan jijik sehingga tangan yang memegang keris seketika menjadi lemas. Ia menjerit ketika merasa betapa pinggangnya dirangkul dan tubuhnya merapat pada tubuh yang tinggi besar dan keras. Hampir saja ia pingsan. Sambil menggigit bibir dan menjauhkan mukanya agar hidungnya tidak dekat dada yang penuh bulu dan keringat, ia menggerakkan tangan kanannya dan.....
"ceppp......!!" kerisnya sudah menancap di dada kiri lawannya.
Seketika Genjul seperti disambar halilintar, pelukannya terlepas, mulutnya mengeluarkan suara rintihan, tubuhnya lemas dan berkelojotan. Mayagaluh yang berusaha mencabut kerisnya, tidak berhasil. Keris itu menancap dan menyangkut di antara tulang iga sehingga sukar dicabut. Kalau saja puteri ini tidak hampir pingsan oleh rasa jijik dan ngeri, tentu ia akan dapat mencabut kerisnya. Kini ia meloncat ke belakang, melepaskan gagang keris, takut kalau-kalau darah lawan akan muncrat membasahi tubuh dan mukanya.
Tubuh Genjul berkelojotan dan roboh terlentang, kerongkongannya mengorok dan matanya mendelik. Mayagaluh mengkirik. Pada saat itulah, kepala rampok sudah menerjangnya dari belakangnya dan sebuah pukulan dengan tangan miring tepat menghantam tengkuk Puteri Mayagaluh. Puteri ini mengeluh dan tubuhnya menjadi lemas, matanya meram. la pingsan! Kepala rampok yang berhasil merobohkan Mayagaluh, segera memondong puteri itu dan meloncat ke atas punggung kuda sang puteri, terus membedal kuda membalap karena khawatir kalau-kalau para pengawal sang puteri akan menyusul ke tempat itu. Guncangan-guncangan dan tiupan angin menyadarkan Mayagaluh. Ia membuka mata dan alangkah kaget hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa dia berada dalam pondongan kepala perampok, dilarikan di atas kuda.
"Tolooongggg..... Toloooongggg......!!” ia menjerit dua kali, akan tetapi lalu tak dapat mengeluarkan teriakan lagi karena mulutnya didekap tangan kasar dan kepala rampok itu mengancam,
"Sekali lagi kau berteriak, golokku akan memenggal lehermu!"
Seluruh tubuh Mayagaluh menggigil penuh kengerian. Ia berusaha meronta-ronta dan membentak-bentak,
"Lepaskan aku! Lepaskan! Lepaskan!!"
Namun sia-sia saja dan akhirnya ia tidak berani lagi meronta karena kudanya lari cepat sekali dan apabila ia dapat melepaskan diri, tentu ia akan terbanting dan terseret, mungkin akan terinjak kaki kuda.

<<< Bagian 118                                                                                     Bagian 120 >>>

No comments:

Post a Comment