Untung baginya, semenjak ia seringkali berburu binatang bersama Endang Patibroto, ia memperoleh banyak pengalaman sehingga ia memberanikan diri naik ke pohon untuk melewatkan malam itu, sedangkan kudanya ia cancang di bawah. Pada keesokan harinya, ia melanjutkan usaha mencari Endang Patibroto atau rakandanya, akan tetapi makin lama ia tersesat makin jauh. Puteri raja ini berkeliaran seorang diri di dalam hutan. Dapat dibayangkan betapa bingung dan gelisah hatinya setelah berhari-hari ia tidak dapat bertemu dengan dua orang yang dicari-carinya itu, bahkan tidak pernah bertemu dengan seorang manusiapun. Daerah Pegunungan Kidul adalah daerah pegunungan batu kapur yang tidak subur dan tandus sehingga orang-orang tidak suka tinggal di daerah ini. Itulah sebabnya mengapa Puteri Mayagaluh tak pernah melihat pedusunan. Ia menunggang kudanya, kadang-kadang menuntunnya, berkeliaran, tak tahu bahwa beberapa kali ia kembali ke tempat yang itu-itu juga karena tidak mengenal jalan. Dalam waktu beberapa hari saja, wajah puteri itu menjadi pucat, tubuhnya kurus dan rambutnya kusut. la hanya makan kalau terlalu lapar saja, makan seadanya sekedar menyambung hidup. Masih untung baginya, banyak pohon kelapa di daerah ini, dan ada pula beberapa ekor binatang seperti kelinci dan kijang yang ia robohkan dengan anak panah dan ia panggang dagingnya. Setelah kurang lebih sepuluh hari ia berkeliaran di dalam hutan-hutan di daerah Pegunungan Kidul ini, akhirnya Puteri Mayagaluh mengambil keputusan untuk pulang sendiri ke Jenggala, meninggalkan Endang Patibroto dan Pangeran Panjirawit yang tak diketahuinya berada dimana itu. Ia hanya tahu bahwa Jenggala berada jauh di sebelah timur, karena ketika melakukan perjalanan dari kerajaan, mereka bertiga terus pergi ke barat. Karena inilah, maka setelah bermalam lagi dalam hutan, pada keesokan harinya sang puteri menjalankan kudanya menuju ke arah matahari terbit, yaitu ke timur. Kalau aku terus menuju ke timur, akhirnya tentu sampai ke Jenggala, pikirnya. Di tengah jalan ia dapat bertanya kepada orang yang dijumpainya. Ia samà sekali tidak tahu bahwa Pegunungan Kidul merupakan sebaris pegunungan yang tiada putusnya, pegunungan yang seakan-akan merupakan tanggul yang membendung laut Selatan di sepanjang pantai selatan. Pegunungan Kidul ini terus berbaris sepanjang pantai selatan sampai jauh di sebelah timur, bahkan sambung-menyambung sampai di pegunungan sebelah selatan Kerajaan Jenggala sendiri! Karena sang puteri mengambil jalan langsung ke timur dari pegunungan, tentu saja la tidak pernah terbebas dari daerah pegunungan sehingga berhari-hari ia terus menerus naik turun gunung kecil, melakukan perjalanan yang amat sukar dan lambat.
Selama tiga
hari ia melakukan perjalanan dan gunung-gunung itu belum juga habis, dusun
belum juga ditemukan!. Pada hari ke empatnya, ketika pagi pagi ia sudah
menuntun kudanya pada jalan sempit yang amat sukar, tiba-tiba terdengar
bentakan orang.
"Orang
yang lewat, tinggalkan kuda dan pakaian!"
Dari balik
semak-semak belukar meloncat keluar lima orang laki-laki tinggi besar yang
berdiri menghadang di depan. Mayagaluh kaget sekali sehingga mukanya berubah
pucat akan tetapi kelima orang itu lebih kaget dan heran ketika sekarang
melihat penuntun kuda yang mereka cegat itu kiranya seorang dara muda yang amat
cantik jelita dan berpakaian serba indah! Tentu saja perampok-perampok ini
menjadi girang sekali. Kuda itu amat bagus dan tentu mahal harganya. Pakaian
wanita itupun amat mewah dan halus, apalagi perhiasan perhiasan emas permata
itu. Disamping ini, wanita itu sendiri amat cantik menarik, seperti dewi
kahyangan. Puteri Mayagaluh memandang dengan mata tcrbelalak. Lima orang itu
bertubuh tinggi besar dan berwajah galak, terutama sekali orang yang paling
muda di antara mereka yang pakaiannya agak berbeda dan agaknya menjadi kepala,
bertubuh seperti raksasa dan memandang kepadanya seperti seorang kelaparan
nasi. Ia maklum bahwa mereka adalah perampok-perampok, maka ia segera berkata
dengan sikap agung seorang putri raja,
"Jangan
kalian mengganggu aku! Aku puteri Raja Jenggala yang kehilangan jalan dan
hendak pulang ke Jenggala. Kalau kalian suka, boleh kuhadiahkan gelang dan
kalungku." Sambil berkata demikian, sang puteri meloloskan kedua
gelangnya.
Akan tetapi,
lima orang itu adalah perampok-perampok kasar. Keadaan hidup mereka membuat
mereka seakan-akan menjadi raja dalam hutan, tentu saja mendengar disebutnya
Raja Jenggala, mereka tidak menjadi takut. Akan tetapi pemimpin mereka bukan
seorang bodoh. Ia tahu bahwa seorang puteri bangsawan, apalagi puteri raja
seperti ini, kalau pergi tentu ada banyak pengawal yang mengantarkannya. Kini
sang puteri sesat jalan, tentu sedang dicari-cari. Kalau para pengawal muncul,
mereka bisa celaka karena ia mendengar bahwa para pengawal memiliki ilmu
kepandaian yang hebat.
"Rampas
dulu kudanya," katanya kepada anak buahnya.
Dua orang anak
buah perampok yang bernafsu sekali untuk segera merampas kuda dan perhiasan
serba mahal itu, melompat maju dan dengan kasar bertindak merenggut kendali
kuda dari tangan Puteri Mayagaluh.
"Berani
kalian merampas kudaku" sang puteri membentak marah, kedua kakinya
melakukan gerakan menendang bergantian amat cepatnya, mengarah bawah pusar
lawan. Itulah ilmu tendangan yang amat keji dan ganas, begitu tepat mengenai
sasaran tentu akan menewaskan lawan. Ilmu tendangan ini adalah satu di antara
banyak ilmu yang ia pelajari dari Endang Patibroto.
Terdengar
jerit mengerikan dan dua orang perampok itu terpelanting roboh, berkelojotan
dan tak mungkin dapat hidup lebih lama lagi karena anggota tubuh di bawah pusar
pecah terkena tendangan tadi!. Biarpun semenjak kecil mempelajari ilmu silat,
akan tetapi selama hidupnya belum pernah Mayagaluh membunuh orang. Kini
menyaksikan betapa dua orang yang ditendangnya itu berkelojotan sekarat, ia
merasa ngeri.
"Pergilah..........!
Jangan ganggu aku.......!!" katanya setengah memohon, wajahnya sudah pucat
dan tubuhnya menggigil.
Melihat sikap
ini, tiga orang perampok itu mengira bahwa tentu tendangan tadi secara
kebetulan saja mengenai bagian tubuh yang paling lemah dari kedua kawannya.
Kalau gadis itu memang berilmu, tentu tidak ketakutan seperti itu. Kepala
rampok yang muda itu lalu membentak kepada dua orang temannya.
"Tangkap
kudanya. Masa tidak mampu ?" Dua orang perampok maju bersama.
Mayagaluh yang
ketakutan itu kini terpaksa menghunus kerisnya, keris kecil yang biasa dipakai
para puteri. Kini dua orang perampok itu agak terkejut. Cara puteri itu
mencabut dan memegang gagang keris jelas membayangkan bahwa puteri ini mengerti
ilmu silat, mahir dalam tata tempur menggunakan keris. Maka mereka bersikap
hati-hati dan menubruk dari kanan kiri untuk merampas kendali kuda yang
dipegang tangan kiri Mayagaluh.
Puteri ini
cepat menggerakkan kerisnya, menerima perampok dari kanan dengan tusukan,
sedangkan perampok yang menubruk dari kiri ia sambut dengan sebuah tendangan
kilat, kini agak tinggi mengarah lambung. Dua orang perampok yang mati
tertendang tadi sebetulnya juga bukan orang lemah, melainkan orang-orang kasar
yang biasa berkelahi. Tadi mereka sekali tendang roboh oleh Mayagaluh karena
mereka memandang rendah dan tidak menduga-duga.
Kini, dua
orang lagi perampok yang sudah berhati-hati, cepat mengelak dan mengurungkan
niatnya merampas kendali kuda ketika melihat sambutan wanita muda itu. Maklum
bahwa wanita itu bukan seorang lemah, dua orang perampok ini lalu bergerak
menyerang, seorang mencengkeram ke arah pergelangan tangan kanan yang memegang
keris, orang ke dua menubruk untuk mencengkeram pundak dan menangkapnya!
Sebetulnya dua orang perampok ini hanya orang-orang kasar yang lebih banyak
mengandalkan tenaga dan keberanian daripada mengandalkan gerakan ilmu silat.
Mayagaluh dapat melihat dengap jelas dan maklum bahwa sebetulnya ia tidak perlu
takut melawan mereka. Akan tetapi dasar kurang pengalaman, melihat dua orang
laki-laki menerjang dengan muka beringas, mulut menyeringai, mata melotot
lebar, ia merasa serem dan muak oleh bau keringat mereka. Karena jijik ia
menjadi gugup, menyelinap untuk menjauhkan diri, akan tetapi perasaan jijik dan
ngeri membuat ia ingin cepat-cepat mengakhiri ancaman ini maka kerisnya
bergerak cepat sekali ke arah lambung perampok ke dua ketika ia menghindar.
"Capp.......!"
Ketika gadis
bangsawan ini meloncat sambil mencabut keris, darah muncrat-muncrat dari perut
perampok itu yang mendekap perutnya sambil berkaok-kaok seperti kerbau
disembelih, lalu roboh dan berkelojotan. Melihat darah muncrat-muncrat ini,
hampir saja Mayagaluh pingsan.
"Aduh!
Kuminta kepada kalian pergilah, bawa kuda dan perhiasanku semua!" ia
mengeluh sambil memandang korbannya dengan mata terbelalak ngeri.
Akan tetapi
perampok yang melihat kawannya roboh menjadi marah sekali. Ia mencabut goloknya
yang besar dan tajam lalu mengayun golok itu, menyerang dengan kemarahan
meluap.
'Genjul,
jangan bunuh dia!"
Kepala
perampok yang muda itu menegur anak buahnya yang tinggal seorang. Akan tetapi
si Genjul, perampok itu yang melihat tiga orang kawannya sudah tewas, tak dapat
menahan kemarahannya lagi. Goloknya menyambar ganas ke arah leher Mayagaluh.
Puteri ini terkejut, cepat ia menekuk lutut miringkan tubuh sehingga golok
lawan lewat di atas kepalanya mengeluarkan bunyi "swingggg!!"
menyeramkan sekali. Ia maklum bahwa kalau ia tidak cepat-cepat merobohkan orang
ini, keselamatannya sendiri terancam. Maka melihat lawan membuka lengan ketika
membacok, dari bawah kerisnya meluncur pula menusuk lambung. Perampok bernama
Genjul ini sudah siap-siap, maka cepat ia meloncat mundur sambil mengayun golok
ke bawah. Mayagaluh menarik kembali kerisnya, tidak mau membiarkan kerisnya dihantam
golok yang berat. Ketika perampok itu menerjang lagi, kini membabat pinggang,
Mayagaluh sudah mendahului meloncat ke atas sehingga babatan golok itu lewat di
bawah kakinya. Dari atas, Mayagaluh yang sudah menaksir bahwa golok itu tentu
akan lewat di bawah kakinya, menggunakan kakinya menendang ke depan, tepat
mengenai pergelangan tangan yang memegang golok.
"Aduhh........!"
Perampok itu
berseru keras, goloknya terlepas dari pegangan. Dan pada saat itu dari atas,
tubuh Mayagaluh sudah meluncur dengan didahului kerisnya yang menusuk ke arah
leher lawan. Perampok bernama Genjul itu terkejut sekali dan timbul rasa
takutnya yang hebat. Ketakutannya membuat Genjul menjadi nekat dan ia segera
mengembangkan kedua lengannya, terus menubruk ke depan, ke arah tubuh puteri
yang meluncur turun itu, langsung memeluk pinggang yang ramping! Kalau saja
Mayagaluh melanjutkan tusukannya, tentu akan berhasil dan kerisnya akan
menembus leher. Akan tetapi melihat betapa laki-laki kasar itu mengembangkan
lengannya, Mayagaluh merasa ngeri dan jijik sehingga tangan yang memegang keris
seketika menjadi lemas. Ia menjerit ketika merasa betapa pinggangnya dirangkul
dan tubuhnya merapat pada tubuh yang tinggi besar dan keras. Hampir saja ia
pingsan. Sambil menggigit bibir dan menjauhkan mukanya agar hidungnya tidak
dekat dada yang penuh bulu dan keringat, ia menggerakkan tangan kanannya
dan.....
"ceppp......!!"
kerisnya sudah menancap di dada kiri lawannya.
Seketika
Genjul seperti disambar halilintar, pelukannya terlepas, mulutnya mengeluarkan
suara rintihan, tubuhnya lemas dan berkelojotan. Mayagaluh yang berusaha
mencabut kerisnya, tidak berhasil. Keris itu menancap dan menyangkut di antara
tulang iga sehingga sukar dicabut. Kalau saja puteri ini tidak hampir pingsan
oleh rasa jijik dan ngeri, tentu ia akan dapat mencabut kerisnya. Kini ia
meloncat ke belakang, melepaskan gagang keris, takut kalau-kalau darah lawan
akan muncrat membasahi tubuh dan mukanya.
Tubuh Genjul
berkelojotan dan roboh terlentang, kerongkongannya mengorok dan matanya
mendelik. Mayagaluh mengkirik. Pada saat itulah, kepala rampok sudah
menerjangnya dari belakangnya dan sebuah pukulan dengan tangan miring tepat
menghantam tengkuk Puteri Mayagaluh. Puteri ini mengeluh dan tubuhnya menjadi
lemas, matanya meram. la pingsan! Kepala rampok yang berhasil merobohkan
Mayagaluh, segera memondong puteri itu dan meloncat ke atas punggung kuda sang
puteri, terus membedal kuda membalap karena khawatir kalau-kalau para pengawal
sang puteri akan menyusul ke tempat itu. Guncangan-guncangan dan tiupan angin
menyadarkan Mayagaluh. Ia membuka mata dan alangkah kaget hatinya ketika ia
mendapat kenyataan bahwa dia berada dalam pondongan kepala perampok, dilarikan
di atas kuda.
"Tolooongggg.....
Toloooongggg......!!” ia menjerit dua kali, akan tetapi lalu tak dapat
mengeluarkan teriakan lagi karena mulutnya didekap tangan kasar dan kepala
rampok itu mengancam,
"Sekali
lagi kau berteriak, golokku akan memenggal lehermu!"
Seluruh tubuh
Mayagaluh menggigil penuh kengerian. Ia berusaha meronta-ronta dan
membentak-bentak,
"Lepaskan
aku! Lepaskan! Lepaskan!!"
Namun sia-sia
saja dan akhirnya ia tidak berani lagi meronta karena kudanya lari cepat sekali
dan apabila ia dapat melepaskan diri, tentu ia akan terbanting dan terseret,
mungkin akan terinjak kaki kuda.
No comments:
Post a Comment