Badai Laut Selatan ; Bagian 122


Memang sesungguhnya demikianlah. Gerakan lima orang itu tangkas dan cepat sekali dan biarpun mereka berlima bergerak berbareng mengurung Joko Wandiro, namun gerakan mereka tidak kacau dan dapat saling membantu. Lima orang perwira ini adalah perwira-perwira setengah tua yang sudah banyak pengalaman. Mereka tidak sembrono seperti perwira berangasan tadi. Mereka tahu bahwa pemuda ini pernah mengalahkan pengeroyokan Ni Durgogini dan Ni Nogoginl yang membuktikan bahwa pemuda ini seorang sakti mandraguna. Oleh karena itulah kini mereka mengeroyok dengan gerakan hati-hati. Kalau saja mereka tidak sudah tahu bahwa Joko Wandiro adalah seorang yang memiliki ilmu kesaktian tinggi, tentu saja sebagai perwira-perwira Panjalu mereka akan merasa malu untuk mengeroyok. Keris pertama yang menyerangnya dengan tusukan kilat ke arah pusar adalah keris perwira tinggi besar. Joko Wandiro menggeser kaki miringkan tubuh. Pada detik berikutnya, dua batang keris perwira lain menyambarnya dari kanan kiri, mengarah leher dan lambung. Ia merendahkan tubuh mengelak dari tusukan keris di leher sambil memutar tubuh dan mencengkeram lengan yang memegang keris menusuk lambung sehingga si pemegang keris cepat-repat menarik kembali kerisnya. Namun pada saat itu, kembali ada dua batang keris menyerangnya dengan gerakan cepat sekali, dari depan dan helakang. Terpaksa Joko Wandiro meloncat ke kanan dan menggerakkan kakinya menendang ke arah pergelangan tangan lawan yang berada di belakang, namun tendangannya juga luput karena perwira itu sudah menarik kembali kerisnya sambil meloncat mundur. Joko Wandiro terus didesak, dihujani serangan dari lima penjuru, serangan yang cepat, kuat, dan susul-menyusul. Dengan Aji Bayu Sakti, Joko Wandiro seenaknya mengelak ke sana ke mari. Jangankan baru dikeroyok lima, biarpun ditambah sepuluh orang lagi kalau ia menggunakan aji ini, tak mungkin tubuhnya akan dapat dicium senjata lawan. Lima orang perwira itu menjadi pusing dan mata mereka berkunang ketika tubuh lawan yang dikeroyok bergerak-gerak amat cepatnya sehingga lenyap bentuk tubuhnya, hanya tampak bayangan yang tentu saja sukar sekali untuk diserang. Sementara itu, perwira berkumis panjang yang tidak ikut mengeroyok, cepat-cepat membujuk dengan kata-kata mengandung ancaman. Karena tidak ingin diperlakukan kasar dan dipaksa naik kuda, terpaksa sekali Sang Puteri Mayagaluh meloncat ke atas punggung kuda itu, diikuti oleh perwira berkumis panjang yang meloncat ke atas seekor kuda lain. Mayagaluh menoleh dan melempar pandang terakhir ke arah Joko Wandiro yang masih sibuk menghadapi lima orang pengeroyoknya, kemudian kudanya dicambuk dari belakang oleh perwira berkumis sehingga kuda itu meloncat ke depan dan berlari cepat.

Joko Wandiro mendengar derap kaki kuda cepat menengok. Alangkah kaget dan mendongkol hatinya melihat sang puteri sudah dilarikan seekor kuda, diikuti si perwira berkumis. Tadinya ia tidak berniat merobohkan lima orang perwira ini karena ia masih merasa segan untuk bermusuhan dengan mereka. Akan tetapi melihat sang puteri dibawa pergi dan menduga bahwa betapapun juga, puteri seorang musuh tentu takkan mendapat perlayanan baik kalau terjatuh di tangan musuh, timbul kekhawatirannya. Sekali ia berseru keras, kedua tangannya bergerak dan dua orang pengeroyok tak dapat mempertahankan diri terhadap dorongan kedua tangan Joko Wandiro yang mengandung hawa pukulan luar biasa panasnya itu. Mereka berteriak kaget dan terdorong roboh, keris mereka mencelat entah ke mana. Menggunakan kesempatan ini, Joko Wandiro meloncat jauh melakukan pengejaran. Biarpun kuda yang membawa lari puteri itu membalap, namun Joko Wandiro yang mengerahkan Aji Bayu Sakti, sebentar saja sudah hampir dapat menyusulnya. Namun tiga orang perwira yang belum roboh, juga sudah mencemplak kuda dan mengejar sambil berteriak-teriak. Tiga orang perwira itu adalah ahli-ahli dalam hal menunggang kuda, maka sebelum Joko Wandiro dapat turun tangan merampas kembali Puteri Mayagaluh, ia sudah tersusul dan kembali mereka menerjang dan mengurungnya sambil melompat dari atas kuda masing-masing. Gerakan mereka cukup gesit dan tangkas dan sekali lagi Joko Wandiro terpaksa menggunakan Aji Bayu Sakti untuk menghindarkan diri dari hujan tikaman keris.
Melihat sang puteri makin jauh, Joko Wandiro panas hatinya.
"Kalian ini benar-benar tak tahu diri!" bentaknya dan mulailah ia menggerakkan kaki tangan untuk menangkis dan balas menyerang. Pada saat itu, dua orang perwira yang tadi hanya roboh oleh tenaga dorongan dahsyat dan tidak terluka, kini sudah datang pula menyerbu sambil melompat turun dari atas kuda masing-masing. Kembali lima orang perwira mengeroyok Joko Wandiro. Dua orang perwira yang kehilangan keris, kini malah menggunakan tombak yang tadinya terselip di punggung kuda. Dari jauh tampak perwira ke enam yang patah tulang lengannya, berjalan perlahan karena kudanya ditunggangi oleh sang puteri. Tentu saja setelah tulang lengannya patah, ia tidak dapat membantu teman-temannya. Tadi ketika Joko Wandiro hanya menggunakan kegesitannya berlandaskan Aji Bayu Sakti untuk mengelak ke sana ke sini, lima orang itu sudah tak berdaya dan sama sekali tidak mampu menyentuh ujung bajunya. Sekarang, dengan menggunakan Aji Kukilo Sakti yaitu gerak silat tangan kosong yang amat lincah dan hebat, tubuh Joko Wandiro menyambar-nyambar seperti seekor burung garuda dan kocar-kacirlah lima orang pengeroyoknya. Terdengar teriak-teriakan kaget, keris terlempar dan tubuh terbantmg. Dalam beberapa menit saja, lima orang itu sudah roboh tanpa memegang senjata lagi dan biarpun mereka tidak menderita luka parah, namun tamparan tangan Joko Wandiro membuat mereka pening dan untuk beberapa lama mereka tidak mampu bangun!

Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan putih dan seorang kakek berusia kurang lebih lima puluh lima tahun berdiri di depan Joko Wandiro. Kakek itu bertubuh sedang namun berdiri tegak dan gagah seperti tubuh seorang pemuda, wajahnya kemerahan dan keren gagah, alis, kumis dan jenggotnya masih hitam akan tetapi rambutnya sudah berwarna dua. Di tangan kanannya terpegang sebatang tongkat kehitaman yang mengkilap dan pakaiannya ringkas serba putih.
"Hemmm, pemuda jahat dari manakah berani mengandalkan kepandaian menghina dan merobohkan para perwira Kerajaan Panjalu?" katanya dengan suara keren, matanya bersinar keras dan tangan kirinya mengelus jenggot.
Berkelebatnya bayangan kakek ini tadi membuktikan bahwa kakek ini seorang berilmu, maka Joko Wandiro tidak berani memandang rendah. Pemuda ini segera membungkuk dan berkata penuh hormat,
"Paman, aku tidak menganggap mereka ini perwira-perwira Panjalu yang gagah, melainkan orang-orang jahat yang hendak menculik seorang wanita. Harap paman jangan mencampuri urusan ini."
Seorang di antara para perwira, yaitu yang lengannya patah, mengenal kakek ini dan segera berkata,
"Paman Darmobroto! Saya Jatmiko dari kaki Merbabu pula, sahabat putera paman Joko Seto! Paman, orang muda ini hendak membela seorang puteri Jenggala yang menjadi tawanan kami. Harap paman suka membantu kami dan jangan membiarkan dia mengejar seorang kawan kami yang membawa puteri itu menghadap Gusti Prabu."
"Orang muda, menyerahlah!" Ki Darmobroto, kakek itu membentak.
Mendengar disebutnya nama kakek ini, dan disebutnya pula nama Joko Seto putera kakek ini, sejenak Joko Wandiro tertegun. Itulah nama-nama yang disebut oleh Ki Adibroto dalam pesan terakhir! Inilah Ki Darmobroto calon mertua Ayu Candra! Hatinya makin tidak enak. Kalau tadi ia meragu untuk melawan kakek ini, sekarang ia makin merasa berat pula.
"Paman Darmobroto, kumohon agar paman jangan mencampuri urusan ini, biarlah lain kali aku akan datang menghadap paman, minta-maaf dan akan bicara hal yang amat penting bagi paman dan putera paman, Joko Seto"
"Hemm, kau sudah merobohkan perwira-perwira Panjalu, siapa percaya omonganmu? Bocah, lebih baik kau pergi dan jangan lanjutkan perbuatanmu menentang Panjalu, dan akupun sudah memaafkanmu."

Diam-diam Ki Darmobroto yang kini memperhatikan para perwira yang roboh, merasa kaget dan kagum. Perwira-perwira itu bukan orang-orang muda, tentu bukan perwira sembarangan dan sudah memiliki kepandaian yang lumayan. Akan tetapi enam perwira itu semua roboh oleh pemuda ini, tanda bahwa pemuda ini benar-benar memiliki kesaktian yang luar biasa. Apalagi melihat betapa mereka berenam itu tidak ada yang menderita luka berat, hal ini kembali membuktikan bahwa pemuda ini bukan orang yang kejam. Inilah yang membuat Ki Darmobroto merasa suka dan sayang kepada Joko Wandiro dan ingin menyudahi urusan itu asal Joko Wandiro suka pergi dan tidak melanjutkan usahanya merampas puteri. Akan tetapi justeru hal inilah yang memberatkan hati Joko Wandiro. Ia suka mengalah asal Puteri Mayagaluh dibebaskan. Dengan suara bingung karena sang puteri kini sudah dilarikan jauh, ia berkata,
"Paman Darmobroto, aku tidak berniat melawanmu, juga tidak ingin bermusuhan dengan perwira Panjalu. Aku hanya ingin membebaskan sang puteri!"
Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat sekali, meloncat jauh dan kembali ia mengejar sang puteri dan si perwira berkumis. Ki Darmobroto makin kagum menyaksikan gerakan pemuda itu. Iapun cepat mengejar sambil mengerahkan ilmunya berlari cepat. Alangkah kagum hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa ilmu lari cepat pemuda ini tidak kalah olehnya. Padahal ia sudah mempergunakan aji keringanan tubuh yang merupakan ilmu warisan dari nenek moyangnya dan yang sudah amat terkenal di daerah Merbabu! Ia makin penasaran dan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun karena Joko Wandiro juga mengerahkan seluruh tenaganya, menggunakan Aji Bayu Sakti yang ia dapat dari Empu Bharodo, maka pendekar Gunung Merbabu itu hanya mampu membayanginya, belum mampu menyusulnya. Para perwira juga segera berloncatan ke atas kuda dan mengejar. Perwira yang lengannya patah membonceng salah seekor kuda mereka. Kejar-kejaran terjadi dengan seru. Debu mengepul dan tubuh mereka berkelebat keluar masuk hutan. Dengan loncatan-Ioncatan jauh dan berlari cepat sekali, akhirnya Joko Wandiro berhasil menyusul Mayagaluh dan perwira berkumis.
"Gusti puteri, hentikan kuda paduka! Jangan takut, hamba melindungi paduka!" teriak Joko Wandiro.
Perwira berkumis marah sekali, membalikkan tubuhnya dan menyerang dengan sebatang tombak yang panjang ke arah Joko Wandiro. Akan tetapi tanpa mengelak, pemuda itu menggerakkan tangan dan berhasil menangkap leher tombak lalu membetot keras. Perwira itu terkejut sekali dan terpaksa melepaskan tombak karena kalau tidak, ia tentu akan turut terbetot jatuh dari atas kuda.
"Perwira Panjalu, jangan kurang ajar dan bebaskan sang puteri!" Joko Wandiro membentak marah.
Puteri Mayagaluh kagum memandang Joko Wandiro, mulutnya tersenyum manis dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri. Ia senang sekali melihat kesetiaan pemuda itu. Maka ia lalu menahan kudanya. Akan tetapi pada saat itu, sesosok bayangan putih sudah tiba di tempat itu dan langsung menerjang Joko Wandiro sambil dibarengi bentakan,
"Orang muda, kaulah yang kurang ajar!"

Itulah Ki Darmobroto yang sudah menyerang dengan tangan kirinya mencengkeram ke arah pundak Joko Wandiro. Hebat gerakan kakek ini, didahului angin menyambar amat kuat. Joko Wandiro maklum bahwa kakek ini memiliki tenaga yang hebat, maka ia tidak mau membiarkan pundaknya dicengkeram. Akan tetapi iapun sebagai seorang sakti ingin sekali menguji sampai di mana keampuhan tangan kakek Merbabu itu, maka ia lalu mengangkat tangan kanannya menangkis sambil berkata,
"Paman, aku hanya ingin mencegah orang menghina seorang wanita!"
Dua buah lengan yang mengandung tenaga mujijat itu saling bertemu dan terkejut bukan main hati pendekar Merbabu ketika tidak hanya lengannya tergetar, bahkan sebagian dadanya kesemutan akibat benturan itu. Di lain pihak, Joko Wandiro juga kagum karena tenaga kakek itu cukup ampuh, tidak kalah banyak kalau dibandingkan dengan tenaga sakti mendiang Wirokolo yang tangguh. Karena maklum bahwa pemuda ini merupakan lawan berat, maka Ki Darmobroto lalu memegang tongkatnya erat-erat, melangkah maju dan bertanya,
"Orang muda, apakah engkau seorang ponggawa Jenggala? Kalau engkau seorang ponggawa Jenggala, aku hormati kesetiaanmu dan pembelaanmu terhadap gusti puterimu. Akan tetapi kalau engkau bukan ponggawa Jenggala, harap kau suka pergi dengan aman, jangan mencari penyakit."
"Dia bukan ponggawa Jenggala, akan tetapi sebentar lagi tentu dia diberi anugerah kedudukan mulia oleh ramanda prabu!"
Tiba-tiba Puteri Mayagaluh berkata. Joko Wandiro terkejut dan cepat-cepat ia berkata,
"Aku bukan ponggawa kerajaan mana pun, paman. Aku membelanya berdasar keadilan karena aku tidak suka melihat seorang wanita muda tanpa dosa diculik."
Akan tetapi pada saat itu, para perwira yang lain sudah tiba di situ dan mendengar ucapan puteri tadi mereka sudah menerjang lagi dan mengurung Joko Wandiro. Adapun Ki Darmobroto yang melihat kenekatan Joko Wandiro hendak melindungi sang puteri, sudah turun tangan pula memutar tongkatnya ikut menerjang.

<<< Bagian 121                                                                                      Bagian 123 >>>

No comments:

Post a Comment