Memang sesungguhnya demikianlah. Gerakan lima orang itu tangkas dan cepat sekali dan biarpun mereka berlima bergerak berbareng mengurung Joko Wandiro, namun gerakan mereka tidak kacau dan dapat saling membantu. Lima orang perwira ini adalah perwira-perwira setengah tua yang sudah banyak pengalaman. Mereka tidak sembrono seperti perwira berangasan tadi. Mereka tahu bahwa pemuda ini pernah mengalahkan pengeroyokan Ni Durgogini dan Ni Nogoginl yang membuktikan bahwa pemuda ini seorang sakti mandraguna. Oleh karena itulah kini mereka mengeroyok dengan gerakan hati-hati. Kalau saja mereka tidak sudah tahu bahwa Joko Wandiro adalah seorang yang memiliki ilmu kesaktian tinggi, tentu saja sebagai perwira-perwira Panjalu mereka akan merasa malu untuk mengeroyok. Keris pertama yang menyerangnya dengan tusukan kilat ke arah pusar adalah keris perwira tinggi besar. Joko Wandiro menggeser kaki miringkan tubuh. Pada detik berikutnya, dua batang keris perwira lain menyambarnya dari kanan kiri, mengarah leher dan lambung. Ia merendahkan tubuh mengelak dari tusukan keris di leher sambil memutar tubuh dan mencengkeram lengan yang memegang keris menusuk lambung sehingga si pemegang keris cepat-repat menarik kembali kerisnya. Namun pada saat itu, kembali ada dua batang keris menyerangnya dengan gerakan cepat sekali, dari depan dan helakang. Terpaksa Joko Wandiro meloncat ke kanan dan menggerakkan kakinya menendang ke arah pergelangan tangan lawan yang berada di belakang, namun tendangannya juga luput karena perwira itu sudah menarik kembali kerisnya sambil meloncat mundur. Joko Wandiro terus didesak, dihujani serangan dari lima penjuru, serangan yang cepat, kuat, dan susul-menyusul. Dengan Aji Bayu Sakti, Joko Wandiro seenaknya mengelak ke sana ke mari. Jangankan baru dikeroyok lima, biarpun ditambah sepuluh orang lagi kalau ia menggunakan aji ini, tak mungkin tubuhnya akan dapat dicium senjata lawan. Lima orang perwira itu menjadi pusing dan mata mereka berkunang ketika tubuh lawan yang dikeroyok bergerak-gerak amat cepatnya sehingga lenyap bentuk tubuhnya, hanya tampak bayangan yang tentu saja sukar sekali untuk diserang. Sementara itu, perwira berkumis panjang yang tidak ikut mengeroyok, cepat-cepat membujuk dengan kata-kata mengandung ancaman. Karena tidak ingin diperlakukan kasar dan dipaksa naik kuda, terpaksa sekali Sang Puteri Mayagaluh meloncat ke atas punggung kuda itu, diikuti oleh perwira berkumis panjang yang meloncat ke atas seekor kuda lain. Mayagaluh menoleh dan melempar pandang terakhir ke arah Joko Wandiro yang masih sibuk menghadapi lima orang pengeroyoknya, kemudian kudanya dicambuk dari belakang oleh perwira berkumis sehingga kuda itu meloncat ke depan dan berlari cepat.
Joko Wandiro
mendengar derap kaki kuda cepat menengok. Alangkah kaget dan mendongkol hatinya
melihat sang puteri sudah dilarikan seekor kuda, diikuti si perwira berkumis.
Tadinya ia tidak berniat merobohkan lima orang perwira ini karena ia masih
merasa segan untuk bermusuhan dengan mereka. Akan tetapi melihat sang puteri
dibawa pergi dan menduga bahwa betapapun juga, puteri seorang musuh tentu
takkan mendapat perlayanan baik kalau terjatuh di tangan musuh, timbul
kekhawatirannya. Sekali ia berseru keras, kedua tangannya bergerak dan dua
orang pengeroyok tak dapat mempertahankan diri terhadap dorongan kedua tangan
Joko Wandiro yang mengandung hawa pukulan luar biasa panasnya itu. Mereka
berteriak kaget dan terdorong roboh, keris mereka mencelat entah ke mana.
Menggunakan kesempatan ini, Joko Wandiro meloncat jauh melakukan pengejaran.
Biarpun kuda yang membawa lari puteri itu membalap, namun Joko Wandiro yang
mengerahkan Aji Bayu Sakti, sebentar saja sudah hampir dapat menyusulnya. Namun
tiga orang perwira yang belum roboh, juga sudah mencemplak kuda dan mengejar
sambil berteriak-teriak. Tiga orang perwira itu adalah ahli-ahli dalam hal
menunggang kuda, maka sebelum Joko Wandiro dapat turun tangan merampas kembali
Puteri Mayagaluh, ia sudah tersusul dan kembali mereka menerjang dan
mengurungnya sambil melompat dari atas kuda masing-masing. Gerakan mereka cukup
gesit dan tangkas dan sekali lagi Joko Wandiro terpaksa menggunakan Aji Bayu
Sakti untuk menghindarkan diri dari hujan tikaman keris.
Melihat sang
puteri makin jauh, Joko Wandiro panas hatinya.
"Kalian
ini benar-benar tak tahu diri!" bentaknya dan mulailah ia menggerakkan
kaki tangan untuk menangkis dan balas menyerang. Pada saat itu, dua orang
perwira yang tadi hanya roboh oleh tenaga dorongan dahsyat dan tidak terluka,
kini sudah datang pula menyerbu sambil melompat turun dari atas kuda
masing-masing. Kembali lima orang perwira mengeroyok Joko Wandiro. Dua orang
perwira yang kehilangan keris, kini malah menggunakan tombak yang tadinya
terselip di punggung kuda. Dari jauh tampak perwira ke enam yang patah tulang lengannya,
berjalan perlahan karena kudanya ditunggangi oleh sang puteri. Tentu saja
setelah tulang lengannya patah, ia tidak dapat membantu teman-temannya. Tadi
ketika Joko Wandiro hanya menggunakan kegesitannya berlandaskan Aji Bayu Sakti
untuk mengelak ke sana ke sini, lima orang itu sudah tak berdaya dan sama
sekali tidak mampu menyentuh ujung bajunya. Sekarang, dengan menggunakan Aji
Kukilo Sakti yaitu gerak silat tangan kosong yang amat lincah dan hebat, tubuh
Joko Wandiro menyambar-nyambar seperti seekor burung garuda dan kocar-kacirlah
lima orang pengeroyoknya. Terdengar teriak-teriakan kaget, keris terlempar dan
tubuh terbantmg. Dalam beberapa menit saja, lima orang itu sudah roboh tanpa
memegang senjata lagi dan biarpun mereka tidak menderita luka parah, namun
tamparan tangan Joko Wandiro membuat mereka pening dan untuk beberapa lama
mereka tidak mampu bangun!
Tiba-tiba
berkelebat sesosok bayangan putih dan seorang kakek berusia kurang lebih lima
puluh lima tahun berdiri di depan Joko Wandiro. Kakek itu bertubuh sedang namun
berdiri tegak dan gagah seperti tubuh seorang pemuda, wajahnya kemerahan dan
keren gagah, alis, kumis dan jenggotnya masih hitam akan tetapi rambutnya sudah
berwarna dua. Di tangan kanannya terpegang sebatang tongkat kehitaman yang
mengkilap dan pakaiannya ringkas serba putih.
"Hemmm,
pemuda jahat dari manakah berani mengandalkan kepandaian menghina dan
merobohkan para perwira Kerajaan Panjalu?" katanya dengan suara keren,
matanya bersinar keras dan tangan kirinya mengelus jenggot.
Berkelebatnya
bayangan kakek ini tadi membuktikan bahwa kakek ini seorang berilmu, maka Joko
Wandiro tidak berani memandang rendah. Pemuda ini segera membungkuk dan berkata
penuh hormat,
"Paman,
aku tidak menganggap mereka ini perwira-perwira Panjalu yang gagah, melainkan
orang-orang jahat yang hendak menculik seorang wanita. Harap paman jangan
mencampuri urusan ini."
Seorang di
antara para perwira, yaitu yang lengannya patah, mengenal kakek ini dan segera
berkata,
"Paman
Darmobroto! Saya Jatmiko dari kaki Merbabu pula, sahabat putera paman Joko
Seto! Paman, orang muda ini hendak membela seorang puteri Jenggala yang menjadi
tawanan kami. Harap paman suka membantu kami dan jangan membiarkan dia mengejar
seorang kawan kami yang membawa puteri itu menghadap Gusti Prabu."
"Orang
muda, menyerahlah!" Ki Darmobroto, kakek itu membentak.
Mendengar
disebutnya nama kakek ini, dan disebutnya pula nama Joko Seto putera kakek ini,
sejenak Joko Wandiro tertegun. Itulah nama-nama yang disebut oleh Ki Adibroto
dalam pesan terakhir! Inilah Ki Darmobroto calon mertua Ayu Candra! Hatinya
makin tidak enak. Kalau tadi ia meragu untuk melawan kakek ini, sekarang ia
makin merasa berat pula.
"Paman
Darmobroto, kumohon agar paman jangan mencampuri urusan ini, biarlah lain kali
aku akan datang menghadap paman, minta-maaf dan akan bicara hal yang amat
penting bagi paman dan putera paman, Joko Seto"
"Hemm,
kau sudah merobohkan perwira-perwira Panjalu, siapa percaya omonganmu? Bocah,
lebih baik kau pergi dan jangan lanjutkan perbuatanmu menentang Panjalu, dan
akupun sudah memaafkanmu."
Diam-diam Ki
Darmobroto yang kini memperhatikan para perwira yang roboh, merasa kaget dan
kagum. Perwira-perwira itu bukan orang-orang muda, tentu bukan perwira
sembarangan dan sudah memiliki kepandaian yang lumayan. Akan tetapi enam
perwira itu semua roboh oleh pemuda ini, tanda bahwa pemuda ini benar-benar
memiliki kesaktian yang luar biasa. Apalagi melihat betapa mereka berenam itu
tidak ada yang menderita luka berat, hal ini kembali membuktikan bahwa pemuda
ini bukan orang yang kejam. Inilah yang membuat Ki Darmobroto merasa suka dan
sayang kepada Joko Wandiro dan ingin menyudahi urusan itu asal Joko Wandiro
suka pergi dan tidak melanjutkan usahanya merampas puteri. Akan tetapi justeru
hal inilah yang memberatkan hati Joko Wandiro. Ia suka mengalah asal Puteri
Mayagaluh dibebaskan. Dengan suara bingung karena sang puteri kini sudah
dilarikan jauh, ia berkata,
"Paman
Darmobroto, aku tidak berniat melawanmu, juga tidak ingin bermusuhan dengan
perwira Panjalu. Aku hanya ingin membebaskan sang puteri!"
Setelah
berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat sekali, meloncat jauh dan kembali
ia mengejar sang puteri dan si perwira berkumis. Ki Darmobroto makin kagum
menyaksikan gerakan pemuda itu. Iapun cepat mengejar sambil mengerahkan ilmunya
berlari cepat. Alangkah kagum hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa ilmu
lari cepat pemuda ini tidak kalah olehnya. Padahal ia sudah mempergunakan aji
keringanan tubuh yang merupakan ilmu warisan dari nenek moyangnya dan yang
sudah amat terkenal di daerah Merbabu! Ia makin penasaran dan mengerahkan
seluruh tenaganya. Namun karena Joko Wandiro juga mengerahkan seluruh
tenaganya, menggunakan Aji Bayu Sakti yang ia dapat dari Empu Bharodo, maka
pendekar Gunung Merbabu itu hanya mampu membayanginya, belum mampu menyusulnya.
Para perwira juga segera berloncatan ke atas kuda dan mengejar. Perwira yang
lengannya patah membonceng salah seekor kuda mereka. Kejar-kejaran terjadi
dengan seru. Debu mengepul dan tubuh mereka berkelebat keluar masuk hutan.
Dengan loncatan-Ioncatan jauh dan berlari cepat sekali, akhirnya Joko Wandiro
berhasil menyusul Mayagaluh dan perwira berkumis.
"Gusti
puteri, hentikan kuda paduka! Jangan takut, hamba melindungi paduka!"
teriak Joko Wandiro.
Perwira berkumis
marah sekali, membalikkan tubuhnya dan menyerang dengan sebatang tombak yang
panjang ke arah Joko Wandiro. Akan tetapi tanpa mengelak, pemuda itu
menggerakkan tangan dan berhasil menangkap leher tombak lalu membetot keras.
Perwira itu terkejut sekali dan terpaksa melepaskan tombak karena kalau tidak,
ia tentu akan turut terbetot jatuh dari atas kuda.
"Perwira
Panjalu, jangan kurang ajar dan bebaskan sang puteri!" Joko Wandiro
membentak marah.
Puteri
Mayagaluh kagum memandang Joko Wandiro, mulutnya tersenyum manis dan matanya
bersinar-sinar, wajahnya berseri. Ia senang sekali melihat kesetiaan pemuda
itu. Maka ia lalu menahan kudanya. Akan tetapi pada saat itu, sesosok bayangan
putih sudah tiba di tempat itu dan langsung menerjang Joko Wandiro sambil dibarengi
bentakan,
"Orang
muda, kaulah yang kurang ajar!"
Itulah Ki
Darmobroto yang sudah menyerang dengan tangan kirinya mencengkeram ke arah
pundak Joko Wandiro. Hebat gerakan kakek ini, didahului angin menyambar amat
kuat. Joko Wandiro maklum bahwa kakek ini memiliki tenaga yang hebat, maka ia
tidak mau membiarkan pundaknya dicengkeram. Akan tetapi iapun sebagai seorang
sakti ingin sekali menguji sampai di mana keampuhan tangan kakek Merbabu itu,
maka ia lalu mengangkat tangan kanannya menangkis sambil berkata,
"Paman,
aku hanya ingin mencegah orang menghina seorang wanita!"
Dua buah
lengan yang mengandung tenaga mujijat itu saling bertemu dan terkejut bukan
main hati pendekar Merbabu ketika tidak hanya lengannya tergetar, bahkan
sebagian dadanya kesemutan akibat benturan itu. Di lain pihak, Joko Wandiro
juga kagum karena tenaga kakek itu cukup ampuh, tidak kalah banyak kalau
dibandingkan dengan tenaga sakti mendiang Wirokolo yang tangguh. Karena maklum
bahwa pemuda ini merupakan lawan berat, maka Ki Darmobroto lalu memegang
tongkatnya erat-erat, melangkah maju dan bertanya,
"Orang
muda, apakah engkau seorang ponggawa Jenggala? Kalau engkau seorang ponggawa
Jenggala, aku hormati kesetiaanmu dan pembelaanmu terhadap gusti puterimu. Akan
tetapi kalau engkau bukan ponggawa Jenggala, harap kau suka pergi dengan aman,
jangan mencari penyakit."
"Dia
bukan ponggawa Jenggala, akan tetapi sebentar lagi tentu dia diberi anugerah
kedudukan mulia oleh ramanda prabu!"
Tiba-tiba
Puteri Mayagaluh berkata. Joko Wandiro terkejut dan cepat-cepat ia berkata,
"Aku
bukan ponggawa kerajaan mana pun, paman. Aku membelanya berdasar keadilan
karena aku tidak suka melihat seorang wanita muda tanpa dosa diculik."
Akan tetapi
pada saat itu, para perwira yang lain sudah tiba di situ dan mendengar ucapan
puteri tadi mereka sudah menerjang lagi dan mengurung Joko Wandiro. Adapun Ki
Darmobroto yang melihat kenekatan Joko Wandiro hendak melindungi sang puteri,
sudah turun tangan pula memutar tongkatnya ikut menerjang.
No comments:
Post a Comment