Badai Laut Selatan ; Bagian 121


"Joko Wandiro, aku mengucap banyak terima kasih kepadamu atas pertolonganmu tadi. Engkau kawula manakah? Dan di mana tempat tinggalmu?"
Joko Wandiro tidak suka menceritakan keadaannya. Apalagi menceritakan tentang gurunya, Ki Patih Narotama karena gurunya ini amat tidak suka kepada ayah puteri ini. Di samping itu, tidak ada keinginan hatinya pula menceritakan keadaan keluarganya. Bukankah ia sekarang sudah yatim piatu? Ayahnya yang bernama Wisangjiwo sudah tewas dalam perang membela Pangeran Sepuh yang kini menjadi Raja Panjalu, yaitu dalam perang melawan bala tentara ayah puteri ini! Ibunya belum lama ini terbunuh orang pula. Dan tempat tinggalnya dia tidak mempunyai tempat tinggal tertentu.
"Hamba adalah seorang yang hidup sebatangkara, tidak mengabdi kepada siapapun juga dan tiada tempat tinggal tertentu seperti sehelai daun kering terbawa angin tanpa tujuan."
Berkerut kening sang puteri, dan pandang matanya membayangkan iba hati.
"Ah........! Betapa mungkin seorang seperti engkau tidak mempunyai pekerjaan!"
Hampir saja terloncat kata-kata "gagah dan tampan" dari mulut puteri ini. Segera ia menyambung,
"Joko Wandiro, maukah engkau menolongku? Kelak tentu ramanda prabu akan memberi ganjaran yang setimpal dengan jasamu ini."
Lucu, pikir Joko Wandiro. Sudah jelas tadi tanpa diminta ia sudah menolong puteri ini, mengapa sekarang masih ditanya lagi apakah suka menolong. Adapun tentang ganjaran.......................... ah, kembali mukanya menjadi merah sekali karena harus ia akui bahwa ia tadi telah menerima ganjaran yang lebih menyenangkan daripada ganjaran apapun juga!.
"Tentu saja hamba akan melakukan segala perintah paduka tanpa mengingat akan ganjaran apapun juga."
"Engkau baik sekali, Joko Wandiro. Aku minta agar kau suka mengantar aku pulang ke Jenggala."
"Kalau tidak salah, Kerajaan Jenggala amatlah jauh dari sini, gusti puteri. Maka amatlah mengherankan bagaimana paduka bisa sampai di tempat sejauh ini, seorang diri pula dan terjatuh ke tangan penjahat?"
"Kau tidak tahu, Joko Wandiro. Aku tadinya tidak melakukan perjalanan seorang diri. Aku pergi mengikuti kakakku, Pangeran Panjirawit, dan dikawal oleh panglima kepala pengawal istana sendiri. Akan tetapi ketika kami berlomba, aku kehilangan jalan dan tersesat, kemudian bertemu dengan lima orang perampok. Yang empat orang dapat kurobohkan, akan tetapi kepala perampok itu dapat menawanku dan membawaku lari. Untung ada engkau yang menolong, hanya sayang kudaku tidak dapat kau rampas kembali."
"Ahhh! Kalau hamba tahu bahwa dia itu tadi kepala perampok, tentu hamba tidak akan semudah itu melepaskannya. Dan kuda itu hamba sangka miliknya. Benar keparat!"

Joko Wandiro mendongkol sekali, dan berbareng juga kagum terhadap puteri ini. Seorang puteri bangsawan, puteri raja, dapat merobohkan empat orang perampok. Benar-benar hebat!
"Sudahlah, engkau sudah membebaskan aku dari tangannya, itu sudah merupakan jasa yang amat besar. Joko Wandiro, mari kau antar aku pulang ke Jenggala."
"Baiklah, gusti. Hanya sayang, kuda itu dirampas perampok. Kalau tidak, tentu paduka dapat menunggang kuda dan perjalanan dapat dilakukan lebih cepat lagi."
"Tidak mengapa. Kita jalan kaki. Jangan kau khawatir, biarpun seorang puteri raja namun aku bukan seorang lemah. Aku dapat berjalan cepat."
"Ssttt..........! Ada orang datang! Harap paduka bersernbunyi...................." bisik Joko Wandiro yang merasa khawatir kalau-kalau yang datang adalah perampok tadi bersama teman-temannya. Jika terjadi pertempuran, ia pikir lebih baik sang puteri bersembunyi saja sehingga tidak menambah bebannya harus melindungi diri sang puteri. Akan tetapi Mayagaluh mengerutkan keningnya dan memasang telinga mendengarkan. Pendengaran telinganya tidak setajam Joko Wandiro dan setelah agak lama barulah ia mendengar derap kaki kuda dari jauh. Segera wajahnya berubah girang.
"Ah, itulah kakakku dan kepala pengawal!" teriaknya sambil meloncat dan menghadap di tengah jalan.
Joko Wandiro juga girang mendengar ini. Kalau puteri ini bertemu dengan kakaknya dan pengawal, ia akan terbebas daripada tugas mengantar ke Jenggala. Sebetulnya, iapun segan untuk pergi ke Jenggala, pertama karena ia masih merasa cemas akan hilangnya Ayu Candra dan sedang mencari dara itu, ke dua ia ingin mengunjungi ayah angkatnya di Bayuwismo, ke tiga iapun merasa tidak enak harus membantu puteri Raja Jenggala yang dianggap musuh oleh gurunya, Ki Patih Narotama.
Setelah derap kaki kuda terdengar makin jelas, Puteri Mayagaluh berseru heran,
"Mengapa begitu banyak kuda? Dengan siapakah rakanda pangeran datang??"

Kembali Joko Wandiro merasa tidak enak hatinya. Akan tetapi sekarang sudah tidak ada waktu lagi bagi sang puteri untuk bersembunyi. Sebelum ia minta kepada sang puteri supaya bersembunyi, para penunggang kuda itu sudah muncul dari sebuah tikungan jalan. Mereka Itu ternyata adalah tujuh orang pria menunggang kuda-kuda besar. Lega hati Joko Wandiro ketika melihat tujuh orang itu, karena pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah ponggawa-ponggawa berkedudukan tinggi dan sama sekali bukanlah perampok perampok. Tujuh orang itupun merasa heran melihat dua orang muda itu berada di dalam hutan liar di pegunungan sunyi. Mereka menahan kuda mereka yang tubuhnya sudah basah oleh keringat.
"Eh, bukankah andika Joko Wandiro??" Seorang di antara mereka menegur ketika mengenal pemuda itu.
"Betul, anda Joko Wandiro!" seru orang ke dua.
Joko Wandiro memandang dan kini iapun teringat bahwa dua orang ini adalah dua orang di antara panglima Kerajaan Panjalu, anak buah Ki Patih Suroyudo dan dahulu ikut menyaksikan ketika ia menghadapi pengeroyokan Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Lima orang yang lain agaknya juga panglima-panglima Panjalu karena pakaian mereka menunjukkan bahwa merekapun prajurit-prajurit tingkat tinggi dan karena usia mereka sudah tua daripada kedua orang itu, tentu mereka memiliki kepandaian yang lebih tinggi pula.
"Benar, hamba adalah Joko Wandiro. Paduka sekalian ini datang dari mana dan hendak ke mana?"
Akan tetapi sebelum ada yang menjawab, tiba-tiba seorang di antara mereka berseru sambil memandang kepada sang puteri,

"Dan paduka ini bukankah Gusti Puteri Mayagaluh dari Jenggala??"
Yang lain-lain kaget dan kini semua orang memandang. Biarpun mereka adalah panglima-panglima Panjalu yang bermusuhan dengan Jenggala, akan tetapi sang raja di Jenggala adalah putera mendiang Sang Prabu Airlangga pula sehingga puteri ini termasuk anak kemenakan Raja Panjalu, maka tentu saja mereka menghadapinya dengan sikap hormat pula. Dengan sikap agung dan gagah, menyembunyikan kekhawatiran hatinya, Puteri Mayagaluh menjawab,
'Benar, aku adalah Mayagaluh. Paman sekalian hendak ke mana?"
Seorang di antara mereka yang tertua dan yang kumisnya panjang ujungnya menjulang ke atas, segera meloncat turun dari kudanya, diikuti enam orang teman-temannya. Dengan sikap hormat si kumis panjang ini menghampiri sang puteri, kemudian berkata,
"Kalau begitu, hamba persllahkan paduka menunggang kuda ini untuk hamba antar menghadap paman paduka, sang prabu di Panjalu."
Puteri itu nampak terkejut. Sebagai seorang puteri raja, tentu saja ia maklum apa artinya kata-kata yang halus itu. Di balik sikap halus dan ucapan mempersilahkan, ia telah dijadikan seorang tawanan! Akan tetapi ia tidak takut. Ia maklum bahwa biarpun ayahnya bermusuhan dengan pamannya, namun permusuhan itu hanya karena urusan kerajaan, sehingga dia sendiri tentu tidak akan diganggu oleh pamannya. Ia tidak takut maupun khawatir, hanya ia menjadi tidak senang sekali.
"Paman, aku mau pulang ke Jenggala! Kalau aku berniat mengunjungi paman prabu di Panjalu, tidak perlu kalian minta! Pergilah dan jangan menggangguku."

Wajah perwira berkumis panjang itu menjadi merah. la tak dapat menyangkal kebenaran jawaban puteri itu. Akan tetapi, setiap orang ingin menonjolkan pahala kepada yang dipertuan. Secara kebetulan ia bertemu dengan seorang Puteri Jenggala. Kalau ia dapat menawannya ke Panjalu dan menyerahkan puteri itu sebagai tawanan, tak dapat tidak sang prabu tentu akan merasa senang. Biarpun sang puteri takkan diganggu, akan tetapi hal ini sedikitnya akan menyuramkan Jenggala dan siapa tahu puteri itu akan dapat dijadikan semacam cara untuk menundukkan musuh.
"Harap saja paduka tidak menyulitkan hamba. Paduka adalah seorang Puteri Jenggala, karena itu termasuk musuh hamba sekalian. Hanya karena mengingat bahwa paduka adalah anak kemenakan gusti prabu, maka hamba memperlakukan paduka sebagai seorang tamu agung, bukan sebagai seorang tawanan. Gusti puteri, silahkan menunggang kuda ini."
Menyaksikan betapa sang puteri dipaksa secara halus, Joko Wandiro lalu melangkah maju dan berkata,
"Paman, yang berselisih adalah Raja Panjalu dan Raja Jenggala, yang berperang adalah prajurit-prajurit Panjalu melawan prajurit-prajurit Jenggala. Kurasa dalam hal itu sang puteri tidak ikut-ikut. Jelas bahwa sang puteri tidak suka singgah di Panjalu, mengapa kalian hendak memaksa? Apakah perbuatan ini tidak memalukan kalian sebagai perwira-perwira yang perkasa? Menghina wanita bukanlah perbuatan jantan!"
Seorang perwira yang paling muda menghardik,
"Joko Wandiro! Begini mudahkah engkau berkhianat? Belum lama ini engkau memohon kepada gusti prabu untuk menghambakan diri kepada Panjalu, dan sekarang engkau sudah ingin melindungi puteri musuh?"
"Kalau kalian berperang melawan prajurit-prajurit Jenggala, aku tidak akan membantu Jenggala, akan tetapi saat ini kalian tidak sedang perang, melainkan sedang melakukan perbuatan yang tidak benar. Kalian hendak memaksa, hal itu berarti hendak menculik sang puteri. Hal ini mana mungkin aku mendiamkan saja? Pendeknya, kalau sang puteri tidak dengan suka rela sendiri ikut kalian menghadap pamannya, aku akan membelanya!”
"Keparat, kau memang manusia sombong!" bentak perwira muda itu yang segera menerjang maju dengan pukulan keras ke arah dada Joko Wandiro. Pemuda ini tenang saja, tidak menangkis, juga tidak mengelak.
"Blukkk!!!!"

Kepalan yang besar dan keras Itu dengan tenaga dahsyat menghantam dada Joko Wandiro. Akan tetapi akibatnya tubuh perwira Panjalu itu sendiri yang terlempar dan terjengkang ke belakang! Melihat datangnya pukulan tadi, Joko Wandiro maklum bahwa lawannya ini hanya memiliki tenaga kasar yang kuat, maka ia lalu mengerahkan hawa saktinya, menggunakan tenaga menendang pada dadanya sehingga akibatnya lawan itu terjengkang. Bukan main marahnya perwira ini. Ia meloncat bangun tanpa memperdulikan tangannya yang sakit dan membengkak. Ia telah dibikin malu di depan rekan-rekannya. Seorang perwira Panjalu adalah seorang prajurit pilihan yang sudah lulus ujian ketangkasan, bagaimana kini menghantam dada seorang pemuda malah roboh sendiri? Ia menerjang lagi sambil mengeluarkan suara menggereng seperti harimau. Melihat kenekadan orang ini Joko Wandiro mendongkol. Kini kepalan lawan di arahkan ke perutnya. Sekali lagi ia tidak menangkis maupun mengelak, melainkan diam-diam mengerahkan hawa sakti, menggunakan tenaga menempel dan menekan.
"Krakkk!" Si berangasan menjerit dan tubuhnya terlempar sampai tiga meter ke belakang, di mana ia terbanting jatuh dan menggereng kesakitan sambil memegangi lengan yang sudah patah tulangnya.
"Keparat engkau, Joko Wandiro merobohkan seorang perwira kerajaan berarti memberontakl" bentak perwira ke dua yang bertubuh tinggi besar. Diikuti empat orang temannya yang semua menghunus keris, mereka maju dan menerjang Joko Wandiro.
Pemuda ini merasa menyesal. Teringat akan pesan gurunya, ia tidak suka bermusuhan dengan orang-orang Panjalu. Bahkan ketika ia dipandang rendah di istana dan tidak diterima penghambaan dirinya, ia tidak merasa sakit hati. Akan tetapi, kali ini ia menghadapi perwira-perwira Panjalu bukan sekali-kali membela Jenggala, dan di dalam hatinyapun bukan sekali-kali ia hendak membela seorang puteri Jenggala, melainkan ia hendak membela seorang wanita yang terancam kebebasannya oleh sekelompok orang-orang yang hendak menawannya.
"Aku tidak memberontak atau melawan Panjalu, aku menentang dan melawan kalian orang-orang yang hendak menghina wanita!" jawabnya dan kini ia tidak berani menerima sambaran keris para perwira itu. Bukan saja ia khawatir bajunya akan rusak oleh tikaman keris-keris itu, juga ia tahu bahwa perwira-perwira Panjalu bukanlah orang-orang sembarangan dan keris merekapun tentu saja merupakan senjata-senjata ampuh yang tak boleh dipandang rendah.

<<< Bagian 120                                                                                     Bagian 122 >>>

No comments:

Post a Comment