"Joko Wandiro, aku mengucap banyak terima kasih kepadamu atas pertolonganmu tadi. Engkau kawula manakah? Dan di mana tempat tinggalmu?"
Joko Wandiro
tidak suka menceritakan keadaannya. Apalagi menceritakan tentang gurunya, Ki
Patih Narotama karena gurunya ini amat tidak suka kepada ayah puteri ini. Di
samping itu, tidak ada keinginan hatinya pula menceritakan keadaan keluarganya.
Bukankah ia sekarang sudah yatim piatu? Ayahnya yang bernama Wisangjiwo sudah
tewas dalam perang membela Pangeran Sepuh yang kini menjadi Raja Panjalu, yaitu
dalam perang melawan bala tentara ayah puteri ini! Ibunya belum lama ini
terbunuh orang pula. Dan tempat tinggalnya dia tidak mempunyai tempat tinggal
tertentu.
"Hamba
adalah seorang yang hidup sebatangkara, tidak mengabdi kepada siapapun juga dan
tiada tempat tinggal tertentu seperti sehelai daun kering terbawa angin tanpa
tujuan."
Berkerut
kening sang puteri, dan pandang matanya membayangkan iba hati.
"Ah........!
Betapa mungkin seorang seperti engkau tidak mempunyai pekerjaan!"
Hampir saja
terloncat kata-kata "gagah dan tampan" dari mulut puteri ini. Segera
ia menyambung,
"Joko
Wandiro, maukah engkau menolongku? Kelak tentu ramanda prabu akan memberi
ganjaran yang setimpal dengan jasamu ini."
Lucu, pikir
Joko Wandiro. Sudah jelas tadi tanpa diminta ia sudah menolong puteri ini,
mengapa sekarang masih ditanya lagi apakah suka menolong. Adapun tentang
ganjaran.......................... ah, kembali mukanya menjadi merah sekali
karena harus ia akui bahwa ia tadi telah menerima ganjaran yang lebih
menyenangkan daripada ganjaran apapun juga!.
"Tentu
saja hamba akan melakukan segala perintah paduka tanpa mengingat akan ganjaran
apapun juga."
"Engkau
baik sekali, Joko Wandiro. Aku minta agar kau suka mengantar aku pulang ke
Jenggala."
"Kalau
tidak salah, Kerajaan Jenggala amatlah jauh dari sini, gusti puteri. Maka
amatlah mengherankan bagaimana paduka bisa sampai di tempat sejauh ini, seorang
diri pula dan terjatuh ke tangan penjahat?"
"Kau
tidak tahu, Joko Wandiro. Aku tadinya tidak melakukan perjalanan seorang diri.
Aku pergi mengikuti kakakku, Pangeran Panjirawit, dan dikawal oleh panglima
kepala pengawal istana sendiri. Akan tetapi ketika kami berlomba, aku
kehilangan jalan dan tersesat, kemudian bertemu dengan lima orang perampok.
Yang empat orang dapat kurobohkan, akan tetapi kepala perampok itu dapat
menawanku dan membawaku lari. Untung ada engkau yang menolong, hanya sayang
kudaku tidak dapat kau rampas kembali."
"Ahhh!
Kalau hamba tahu bahwa dia itu tadi kepala perampok, tentu hamba tidak akan
semudah itu melepaskannya. Dan kuda itu hamba sangka miliknya. Benar
keparat!"
Joko Wandiro
mendongkol sekali, dan berbareng juga kagum terhadap puteri ini. Seorang puteri
bangsawan, puteri raja, dapat merobohkan empat orang perampok. Benar-benar
hebat!
"Sudahlah,
engkau sudah membebaskan aku dari tangannya, itu sudah merupakan jasa yang amat
besar. Joko Wandiro, mari kau antar aku pulang ke Jenggala."
"Baiklah,
gusti. Hanya sayang, kuda itu dirampas perampok. Kalau tidak, tentu paduka
dapat menunggang kuda dan perjalanan dapat dilakukan lebih cepat lagi."
"Tidak
mengapa. Kita jalan kaki. Jangan kau khawatir, biarpun seorang puteri raja
namun aku bukan seorang lemah. Aku dapat berjalan cepat."
"Ssttt..........!
Ada orang datang! Harap paduka bersernbunyi...................." bisik
Joko Wandiro yang merasa khawatir kalau-kalau yang datang adalah perampok tadi
bersama teman-temannya. Jika terjadi pertempuran, ia pikir lebih baik sang
puteri bersembunyi saja sehingga tidak menambah bebannya harus melindungi diri
sang puteri. Akan tetapi Mayagaluh mengerutkan keningnya dan memasang telinga
mendengarkan. Pendengaran telinganya tidak setajam Joko Wandiro dan setelah
agak lama barulah ia mendengar derap kaki kuda dari jauh. Segera wajahnya
berubah girang.
"Ah,
itulah kakakku dan kepala pengawal!" teriaknya sambil meloncat dan
menghadap di tengah jalan.
Joko Wandiro
juga girang mendengar ini. Kalau puteri ini bertemu dengan kakaknya dan
pengawal, ia akan terbebas daripada tugas mengantar ke Jenggala. Sebetulnya,
iapun segan untuk pergi ke Jenggala, pertama karena ia masih merasa cemas akan
hilangnya Ayu Candra dan sedang mencari dara itu, ke dua ia ingin mengunjungi
ayah angkatnya di Bayuwismo, ke tiga iapun merasa tidak enak harus membantu
puteri Raja Jenggala yang dianggap musuh oleh gurunya, Ki Patih Narotama.
Setelah derap
kaki kuda terdengar makin jelas, Puteri Mayagaluh berseru heran,
"Mengapa
begitu banyak kuda? Dengan siapakah rakanda pangeran datang??"
Kembali Joko
Wandiro merasa tidak enak hatinya. Akan tetapi sekarang sudah tidak ada waktu
lagi bagi sang puteri untuk bersembunyi. Sebelum ia minta kepada sang puteri
supaya bersembunyi, para penunggang kuda itu sudah muncul dari sebuah tikungan
jalan. Mereka Itu ternyata adalah tujuh orang pria menunggang kuda-kuda besar.
Lega hati Joko Wandiro ketika melihat tujuh orang itu, karena pakaian mereka
menunjukkan bahwa mereka adalah ponggawa-ponggawa berkedudukan tinggi dan sama
sekali bukanlah perampok perampok. Tujuh orang itupun merasa heran melihat dua
orang muda itu berada di dalam hutan liar di pegunungan sunyi. Mereka menahan
kuda mereka yang tubuhnya sudah basah oleh keringat.
"Eh,
bukankah andika Joko Wandiro??" Seorang di antara mereka menegur ketika
mengenal pemuda itu.
"Betul,
anda Joko Wandiro!" seru orang ke dua.
Joko Wandiro
memandang dan kini iapun teringat bahwa dua orang ini adalah dua orang di
antara panglima Kerajaan Panjalu, anak buah Ki Patih Suroyudo dan dahulu ikut
menyaksikan ketika ia menghadapi pengeroyokan Ni Durgogini dan Ni Nogogini.
Lima orang yang lain agaknya juga panglima-panglima Panjalu karena pakaian
mereka menunjukkan bahwa merekapun prajurit-prajurit tingkat tinggi dan karena
usia mereka sudah tua daripada kedua orang itu, tentu mereka memiliki
kepandaian yang lebih tinggi pula.
"Benar,
hamba adalah Joko Wandiro. Paduka sekalian ini datang dari mana dan hendak ke
mana?"
Akan tetapi
sebelum ada yang menjawab, tiba-tiba seorang di antara mereka berseru sambil
memandang kepada sang puteri,
"Dan
paduka ini bukankah Gusti Puteri Mayagaluh dari Jenggala??"
Yang lain-lain
kaget dan kini semua orang memandang. Biarpun mereka adalah panglima-panglima
Panjalu yang bermusuhan dengan Jenggala, akan tetapi sang raja di Jenggala
adalah putera mendiang Sang Prabu Airlangga pula sehingga puteri ini termasuk
anak kemenakan Raja Panjalu, maka tentu saja mereka menghadapinya dengan sikap
hormat pula. Dengan sikap agung dan gagah, menyembunyikan kekhawatiran hatinya,
Puteri Mayagaluh menjawab,
'Benar, aku
adalah Mayagaluh. Paman sekalian hendak ke mana?"
Seorang di
antara mereka yang tertua dan yang kumisnya panjang ujungnya menjulang ke atas,
segera meloncat turun dari kudanya, diikuti enam orang teman-temannya. Dengan
sikap hormat si kumis panjang ini menghampiri sang puteri, kemudian berkata,
"Kalau
begitu, hamba persllahkan paduka menunggang kuda ini untuk hamba antar
menghadap paman paduka, sang prabu di Panjalu."
Puteri itu
nampak terkejut. Sebagai seorang puteri raja, tentu saja ia maklum apa artinya
kata-kata yang halus itu. Di balik sikap halus dan ucapan mempersilahkan, ia
telah dijadikan seorang tawanan! Akan tetapi ia tidak takut. Ia maklum bahwa
biarpun ayahnya bermusuhan dengan pamannya, namun permusuhan itu hanya karena
urusan kerajaan, sehingga dia sendiri tentu tidak akan diganggu oleh pamannya.
Ia tidak takut maupun khawatir, hanya ia menjadi tidak senang sekali.
"Paman,
aku mau pulang ke Jenggala! Kalau aku berniat mengunjungi paman prabu di
Panjalu, tidak perlu kalian minta! Pergilah dan jangan menggangguku."
Wajah perwira
berkumis panjang itu menjadi merah. la tak dapat menyangkal kebenaran jawaban
puteri itu. Akan tetapi, setiap orang ingin menonjolkan pahala kepada yang
dipertuan. Secara kebetulan ia bertemu dengan seorang Puteri Jenggala. Kalau ia
dapat menawannya ke Panjalu dan menyerahkan puteri itu sebagai tawanan, tak
dapat tidak sang prabu tentu akan merasa senang. Biarpun sang puteri takkan
diganggu, akan tetapi hal ini sedikitnya akan menyuramkan Jenggala dan siapa
tahu puteri itu akan dapat dijadikan semacam cara untuk menundukkan musuh.
"Harap
saja paduka tidak menyulitkan hamba. Paduka adalah seorang Puteri Jenggala,
karena itu termasuk musuh hamba sekalian. Hanya karena mengingat bahwa paduka
adalah anak kemenakan gusti prabu, maka hamba memperlakukan paduka sebagai
seorang tamu agung, bukan sebagai seorang tawanan. Gusti puteri, silahkan
menunggang kuda ini."
Menyaksikan
betapa sang puteri dipaksa secara halus, Joko Wandiro lalu melangkah maju dan
berkata,
"Paman,
yang berselisih adalah Raja Panjalu dan Raja Jenggala, yang berperang adalah
prajurit-prajurit Panjalu melawan prajurit-prajurit Jenggala. Kurasa dalam hal
itu sang puteri tidak ikut-ikut. Jelas bahwa sang puteri tidak suka singgah di
Panjalu, mengapa kalian hendak memaksa? Apakah perbuatan ini tidak memalukan
kalian sebagai perwira-perwira yang perkasa? Menghina wanita bukanlah perbuatan
jantan!"
Seorang
perwira yang paling muda menghardik,
"Joko
Wandiro! Begini mudahkah engkau berkhianat? Belum lama ini engkau memohon
kepada gusti prabu untuk menghambakan diri kepada Panjalu, dan sekarang engkau
sudah ingin melindungi puteri musuh?"
"Kalau
kalian berperang melawan prajurit-prajurit Jenggala, aku tidak akan membantu
Jenggala, akan tetapi saat ini kalian tidak sedang perang, melainkan sedang
melakukan perbuatan yang tidak benar. Kalian hendak memaksa, hal itu berarti
hendak menculik sang puteri. Hal ini mana mungkin aku mendiamkan saja?
Pendeknya, kalau sang puteri tidak dengan suka rela sendiri ikut kalian
menghadap pamannya, aku akan membelanya!”
"Keparat,
kau memang manusia sombong!" bentak perwira muda itu yang segera menerjang
maju dengan pukulan keras ke arah dada Joko Wandiro. Pemuda ini tenang saja,
tidak menangkis, juga tidak mengelak.
"Blukkk!!!!"
Kepalan yang besar
dan keras Itu dengan tenaga dahsyat menghantam dada Joko Wandiro. Akan tetapi
akibatnya tubuh perwira Panjalu itu sendiri yang terlempar dan terjengkang ke
belakang! Melihat datangnya pukulan tadi, Joko Wandiro maklum bahwa lawannya
ini hanya memiliki tenaga kasar yang kuat, maka ia lalu mengerahkan hawa
saktinya, menggunakan tenaga menendang pada dadanya sehingga akibatnya lawan
itu terjengkang. Bukan main marahnya perwira ini. Ia meloncat bangun tanpa
memperdulikan tangannya yang sakit dan membengkak. Ia telah dibikin malu di
depan rekan-rekannya. Seorang perwira Panjalu adalah seorang prajurit pilihan
yang sudah lulus ujian ketangkasan, bagaimana kini menghantam dada seorang
pemuda malah roboh sendiri? Ia menerjang lagi sambil mengeluarkan suara menggereng
seperti harimau. Melihat kenekadan orang ini Joko Wandiro mendongkol. Kini
kepalan lawan di arahkan ke perutnya. Sekali lagi ia tidak menangkis maupun
mengelak, melainkan diam-diam mengerahkan hawa sakti, menggunakan tenaga
menempel dan menekan.
"Krakkk!"
Si berangasan menjerit dan tubuhnya terlempar sampai tiga meter ke belakang, di
mana ia terbanting jatuh dan menggereng kesakitan sambil memegangi lengan yang
sudah patah tulangnya.
"Keparat
engkau, Joko Wandiro merobohkan seorang perwira kerajaan berarti
memberontakl" bentak perwira ke dua yang bertubuh tinggi besar. Diikuti
empat orang temannya yang semua menghunus keris, mereka maju dan menerjang Joko
Wandiro.
Pemuda ini
merasa menyesal. Teringat akan pesan gurunya, ia tidak suka bermusuhan dengan
orang-orang Panjalu. Bahkan ketika ia dipandang rendah di istana dan tidak
diterima penghambaan dirinya, ia tidak merasa sakit hati. Akan tetapi, kali ini
ia menghadapi perwira-perwira Panjalu bukan sekali-kali membela Jenggala, dan
di dalam hatinyapun bukan sekali-kali ia hendak membela seorang puteri
Jenggala, melainkan ia hendak membela seorang wanita yang terancam kebebasannya
oleh sekelompok orang-orang yang hendak menawannya.
"Aku
tidak memberontak atau melawan Panjalu, aku menentang dan melawan kalian
orang-orang yang hendak menghina wanita!" jawabnya dan kini ia tidak
berani menerima sambaran keris para perwira itu. Bukan saja ia khawatir bajunya
akan rusak oleh tikaman keris-keris itu, juga ia tahu bahwa perwira-perwira
Panjalu bukanlah orang-orang sembarangan dan keris merekapun tentu saja
merupakan senjata-senjata ampuh yang tak boleh dipandang rendah.
No comments:
Post a Comment