Diserang seperti itu, ia sama sekali tidak beranjak pergi dari tempat ia berpijak. Ia hanya mengangkat kedua lengannya ke atas, dengan lengan telanjang ia menerima kaitan baja berikut ujung cambuk itu. Kaitan baja yang menghantam kulit lengannya yang putih halus itu sama sekali tidak membuat lecet kulitnya dan kini ujung cambuk melibat lengannya. Dengan gerakan cepat sekali kedua tangan Endang Patibroto berputar-putar dan pedang serta golok dari kanan kiri telah terlibat oleh cambuk. Begitu ia menarik dengan sentakan keras, tiga orang lawannya terkejut dan terhuyung ke depan.
Endang
Patibroto menggerakkan kaki kanan, tiga kali menendang maju dan kembali tiga
orang itu terpental ke belakang dengan senjata sudah terampas. Tendangan tadi
tepat mengenai kempungan perut mereka sehingga ketika terlempar dan terbanting
jatuh, mereka tidak dapat segera bangun berdiri, melainkan merintih-rintih dan
bergulingan memegangi perut yang menjadi mulas dan senep!
"Tar-tar-tar!"
Tiga kali cambuk
rampasan itu meledak dan ujungnya mematuk tubuh tiga orang itu.
"Aduhh.......!"
"Mati
aku.......!”
"Aduhhhh.......!!"
Tiga orang itu
seperti cacing kepanasan, menggeliat-geliat dan berkelojotan karena kaitan baja
di ujung cambuk telah mencokel keluar otot dan daging.
"Hayo
katakan, di mana adanya sang puteri??"
Kembali cambuk
itu berkelebat dan terdengar suara meledak-ledak di atas kepala tiga orang itu.
Dengan penuh kengerian, tiga orang laki-laki kasar yang biasanya
sewenang-wenang ini menggunakan kedua lengan menutupi kepala.
"Aku
tidak tahu" jawab Kolodumung.
"Kami
kakak beradik tidak tahu, tanyalah kepada adi Sengoro ini " kata Kolomedo.
"Tar-tar!"
Kolodumung dan Kolomedo menjerit dan menangis tak kuat menahan rasa sakit
ketika ujung cambuk itu menggigiti kulit daging muka mereka.
Endang
Patibroto menghampiri Sengoro yang kini tanpa malu-malu lagi sudah berlutut dan
menyembah-nyernbah. Wajah yang cantik jelita itu kini berubah menjadi kedok,
dingin dan kaku.
"Hayo kau
katakan, di mana sang puteri dan bagaimana kudanya sampai kau rampas?"
"Ampun.......
ampunkan hamba....... dewi!!"
"Tarr!"
"Aduhhh.......
mati aku.......!”
Sengoro
bergulingan karena kaitan baja itu sudah menancap di pundaknya dan kaitannya
mengait urat besar di pundak!
”Ampun....!!"
"Hayo
bilang, benarkah dua orang ini tidak tahu menahu tentang sang puteri?"
"Be.......
benar....... “
Endang
Patibroto memandang kepada Kolodumung dan Kolomedo yang kini membayangkan
kelegaan hati mendengar jawaban adik seperguruan ini. Terbayang senyum di bibir
yang berbentuk indah dan kemerahan itu, kemudian Endang Patibroto memegang
pedang dan golok rampasan. Sekali ia menggerakkan tangan, pedang dan golok
meluncur bagaikan anak panah cepatnya dan.......
"Cepp!
Cepp!!" Dua buah senjata itu sudah menancap di ulu hati Kolodumung dan
Kolomedo sampai menembus ke dalam tanah sehingga dua orang itu tewas seketika.
Menyaksikan peristiwa mengerikan menimpa dua orang kakak seperguruannya Sengoro
terbelalak ketakutan, mukanya pucat dan dengan tubuh menggigil ia
menyembah-nyembah minta ampun.
"Tar-tar-tar!"
Cambuk yang
mengerikan itu kembali sudah meledak-ledak di atas kepala Sengoro, membuat
kepala rampok makin ketakutan.
"Hayo
lekas ceritakan di mana adanya sang puteri yang kudanya kaupakai itu!"
Suara Sengoro
menggigil ketika ia berkata,
".......hamba.......
hamba tidak tahu, dia....... sang puteri dibawa.... oleh pemimpin kami
hamba....... mana berani....... ? Hanya mendapatkan kudanya....... "
"Di mana
dia? Di mana sang puteri dan pimpinanmu. Dibawa ke manakah?"
Dengan
telunjuk menggigil Sengoro menunjuk ke belakang.
"Mungkin
di............. di sana...... hamba tak tahu benar ke mana "
"Crattt!"
Kaitan baja di ujung cambuk itu menancap ke dalam pelipis Sengoro yang menjerit
keras dan roboh berkelojotan dalam sekarat.
"Endang,
siapakah mereka ?"
Derap kaki
kuda yang datang disusul pertanyaan suara Pangeran Panjirawit yang melihat tiga
orang laki-laki menggeletak tak bernyawa di depan kaki Endang Patibroto. Endang
Patibroto menunjuk ke arah kuda tunggangan Puteri Mayagaluh dan berkata,
"Gusti
puteri tertawan perampok, ini kudanya dan mereka ini adalah anak buah
perampok."
"Aduh,
Jagad Dewa Bathara! Di mana sekarang diajeng Mayagaluh?"
Kembali Endang
Patibroto menunjuk ke arah mayat Sengoro dan berkata,
"Menurut
pengakuan dia, gusti puteri berada di tangan kepala rampok yang kini masih
berkeliaran di sekitar hutan ini. Mari kita mencarinya!”
Terhibur hati
Pangeran Panjirawit ketika melihat sikap Endang Patibioto yang tenang. Timbul
kepercayaannya kembali bahwa sudah pasti kepala pengawal yang cantik dan gagah
perkasa itu akan dapat menolong adiknya, membebaskan dari tangan kepala rampok.
"Kenapa
engkau menuntun seekor kuda lain?" Tanya pangeran itu ketika melihat
Endang Patibroto meloncat ke atas punggung kuda tunggangan sang puteri sambil
menuntun seekor kuda lain bekas tunggangan perampok.
"Untuk
gusti puteri," jawab Endang Patibroto dan membalapkan kudanya ke depan
diikuti oleh Pangeran Panjirawit.
Ketika tiba di
bagian yang tinggi di tanah Pegunungan Seribu, Endang Patibroto menghentikan
kudanya, kemudian ia meloncat dan memanjat sebatang pohon besar sampai di
puncaknya yang paling tinggi. Dari tempat tinggi inilah ia memandang ke
sekeliling dan tak lama kemudian terdengar seruannya,
"Ah, itu
dia.......!!”
Pangeran
Panjirawit ikut berdebar hatinya mendengar suara girang ini dan begitu wanita
cantik dan perkasa itu melompat turun, ia bertanya,
"Kau
sudah melihat diajeng Mayagaluh?"
"Mereka
di sana, naik kuda. Mari kita menghadang, kita jalan kaki saja agar penjahat
itu tidak mengetahui kedatangan kita dan kabur."
Mereka
meloncat turun dari atas kuda, mencancang kuda di bawah pohon, kemudian
pangeran itu mengikuti Endang Patibroto menyelinap di antara pohon-pohon dan
menuju ke sebelah selatan. Tidak lama kemudian sang pangeran mendengar derap
kaki kuda makin lama makin mendekat. Endang Patibroto mengajaknya bersembunyi
di belakang pohon. Jantung pangeran itu berdegup tegang. Endang Patibroto
tenang-tenang saja, namun dara perkasa ini sudah siap untuk menerjang maju.
Akhirnya, setelah menanti dengan ketegangan hati yang makin memuncak, Pangeran
Panjirawit melihat munculnya dua orang penunggang kuda dari sebuah tikungan
jalan setapak dalam hutan itu. Tidak salah lagi, seorang di antara mereka
adalah Mayagaluh, adiknya. Akan tetapi wajah adiknya yang cantik itu sama
sekali tidak tampak seperti seorang tawanan, tidak menangis atau ketakutan,
melainkan tersenyum-senyum manis! Dan penunggang kuda di sebelahnya adalah
seorang laki-laki yang muda belia dan amat tampan, sungguhpun pakaiannya
sederhana sekali namun sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan tiga orang
perampok yang terbunuh oleh Endang Patibroto tadi. Orang muda ini tidak akan
lebih tua daripadanya, dan lebih pantas disebut seorang satria gunung daripada seorang
perampok!
Ia menjadi
ragu-ragu dan hendak memberi peringatan kepada Endang Patibroto tentang
pendapatnya itu. Namun terlambat karena pada saat itu, tubuh Endang Patibroto
sudah berkelebat ke depan dan langsung dara perkasa ini bagaikan seekor harimau
betina yang marah, telah melompat jauh ke depan, menerkam laki-laki penunggang
kuda di samping Mayagaluh sambil mengeluarkan pekik dahsyat.
"Celaka
dia.......!"
Sang Pangeran
Panjirawit mengeluh dan mengira bahwa laki-laki tampan itu tentu tewas seketika
diserang seperti itu oleh Endang Patibroto yang sudah cukup ia kenal
kedigdayaannya yang menggiriskan. la segera melompat dan lari ke depan.
Joko Wandiro
yang sedang enak-enak menunggang kuda bersama Puteri Mayagaluh dalam perjalanan
mereka ke Bayuwismo di pantai Laut Selatan, tentu saja kaget setengah mati
ketika tiba-tiba ada sesosok bayangan putih menyambar dan menerkamnya laksana
seekor harimau dan kedua tangan yang menerkamnya itu tahu-tahu telah
melancarkan pukulan dengan kedua tangan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat
sekali ke arah pelipis dan ubun-ubun kepalanya! Dari sambaran angin pukulan ini
saja maklumlah Joko Wandiro bahwa siapapun juga yang menyerangnya, penyerang
ini adalah seorang yang amat ganas dan kejam, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian
yang sangat tinggi dan dahsyat. Ia belum dapat melihat siapa penyerangnya dan
juga tidak tahu mengapa orang ini datang-datang menyerangnya sedahsyat itu,
maka iapun hanya mengangkat kedua tangannya untuk menangkis sambil mengerahkan
tenaga sakti Bojro Dahono ke dalam kedua tangannya.
"Dessss!!"
Hebat bukan
main pertemuan dua pasang tangan di udara itu. Joko Wandiro menggunakan Aji
Bojro Dahono yang sifatnya panas dan kuat cepat bagaikan kilat menyambar. Di
lain pihak Endang Patibroto mempergunakan Aji Wisang Nolo, juga sifatnya panas
sekali mengandung hawa beracun. Saking hebatnya pertemuan tenaga sakti itu,
tubuh Endang Patibroto yang terapung di udara itu, terlempar sampai empat meter
jauhnya dan terbanting di atas tanah di mana gadis itu cepat menggunakan Aji
Trenggiling Wesi, bergulingan untuk mematahkan luncuran tubuhnya. la selamat
tidak terbanting, namun pakaian dan rambutnya kotor terkena debu. Di lain
pihak, Joko Wandiro kaget sekali karena pertemuan tenaga itu membuat ia
terpelanting dari atas kudanya dan biarpun ia dapat berjungkir-balik sampai
tiga kali sehingga dapat turun ke atas tanah dengan kedua kaki lebih dulu,
namun ia terhuyung-huyung ke belakang sampai empat meter jauhnya!
Kini keduanya
sudah bangkit berdiri, dalam jarak tujuh delapan meter, saling pandang dengan
heran dan penasaran. Endang Patibroto marah sekali. Marah sampai hampir tak
tertahankannya Lagi. Mukanya mangar-mangar (merah padam), sepasang matanya
bercahaya menyilaukan seperti sepasang mata harimau tersorot lampu, bagaikan
bernyala-nyala menciptakan api unggun yang akan membakar lawannya, memandang
kepada Joko Wandiro seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat! Hidung yang
kecil mancung itu bergerak-gerak karena cuping hidungnya yang tipis
kembang-kempis, napas halus yang keluar masuk agak berdesis. Bibirnya
tersenyum! Ya, bibir yang manis, merah basah itu tersenyum, akan tetapi senyum
yang bagaimana! senyum maut! Senyum yang sama sekali bukan menyejukkan hati
pemandangnya, melainkan senyum yang membayangkan ancaman maut, yang dingin
seperti air wayu, Dagunya agak berlekuk karena ditarik keras dalam
kemarahannya, kedua tangannya mengepal tinju. Endang Patibroto marah sekali.
Apalagi ketika ia mengenal laki-laki yang pernah ia jumpai di dekat Telaga
Sarangan, yang pernah ia serang dengan panah tangan namun gagal, laki-laki yang
mengawani seorang gadis jelita, agaknya kekasih si gadis jelita yang menjadi
korban anak panahnya. Sekarang, dalam adu tenaga ia sampai dibikin jatuh
terguling-guling oleh bocah ini!
Joko Wandiro tadinya
terheran-heran, juga kagum dan penasaran ketika mendapat kenyataan bahwa yang
penyerangnya demikian dahsyat dan ganas adalah seorang wanita muda yang cantik
jelita seperti bidadari. Akan tetapi kekagumannya segera berubah menjadi
kemarahan yang meluap-luap ketika ia mengenal wanita itu. Inilah dia wanita
iblis yang pernah merobohkan Ayu Candra dengan serangan anak panah tangan!
Inilah dia wanita iblis yang selain memanah mati harimau dan melukai Ayu
Candra, juga pernah menyerangnya dengan panah tangan, dan kini tiada hujan
tiada angin menyerangnya dengan pukulan maut yang demikian dahsyatnya!
"Kau!
Perempuan keji......!"
"Kau!
Bocah keparat!”
Keduanya
memaki hampir berbareng, disusul gerakan tubuh mereka menerjang maju. Hebat
sekali terjangan kedua orang muda ini dan berbareng mereka berseru kaget karena
loncatan mereka itu serupa benar gayanya. Gaya dari aji meringankan tubuh Bayu
Tantra dan ketika mereka berdua menampar ke depan, keduanya secara kebetulan
sekali juga menggunakan aji yang sama, yaitu tamparan dengan jari-jari tangan,
Aji Pethit Nogo! Kembali mereka mengadu tenaga dan keduanya terpental ke
belakang oleh getaran jari tangan mereka yang mengandung tenaga sakti yang sama
kuatnya!.
No comments:
Post a Comment