Badai Laut Selatan ; Bagian 126


Diserang seperti itu, ia sama sekali tidak beranjak pergi dari tempat ia berpijak. Ia hanya mengangkat kedua lengannya ke atas, dengan lengan telanjang ia menerima kaitan baja berikut ujung cambuk itu. Kaitan baja yang menghantam kulit lengannya yang putih halus itu sama sekali tidak membuat lecet kulitnya dan kini ujung cambuk melibat lengannya. Dengan gerakan cepat sekali kedua tangan Endang Patibroto berputar-putar dan pedang serta golok dari kanan kiri telah terlibat oleh cambuk. Begitu ia menarik dengan sentakan keras, tiga orang lawannya terkejut dan terhuyung ke depan.

Endang Patibroto menggerakkan kaki kanan, tiga kali menendang maju dan kembali tiga orang itu terpental ke belakang dengan senjata sudah terampas. Tendangan tadi tepat mengenai kempungan perut mereka sehingga ketika terlempar dan terbanting jatuh, mereka tidak dapat segera bangun berdiri, melainkan merintih-rintih dan bergulingan memegangi perut yang menjadi mulas dan senep!
"Tar-tar-tar!"
Tiga kali cambuk rampasan itu meledak dan ujungnya mematuk tubuh tiga orang itu.
"Aduhh.......!"
"Mati aku.......!”
"Aduhhhh.......!!"
Tiga orang itu seperti cacing kepanasan, menggeliat-geliat dan berkelojotan karena kaitan baja di ujung cambuk telah mencokel keluar otot dan daging.
"Hayo katakan, di mana adanya sang puteri??"
Kembali cambuk itu berkelebat dan terdengar suara meledak-ledak di atas kepala tiga orang itu. Dengan penuh kengerian, tiga orang laki-laki kasar yang biasanya sewenang-wenang ini menggunakan kedua lengan menutupi kepala.
"Aku tidak tahu" jawab Kolodumung.
"Kami kakak beradik tidak tahu, tanyalah kepada adi Sengoro ini " kata Kolomedo.
"Tar-tar!" Kolodumung dan Kolomedo menjerit dan menangis tak kuat menahan rasa sakit ketika ujung cambuk itu menggigiti kulit daging muka mereka.

Endang Patibroto menghampiri Sengoro yang kini tanpa malu-malu lagi sudah berlutut dan menyembah-nyernbah. Wajah yang cantik jelita itu kini berubah menjadi kedok, dingin dan kaku.
"Hayo kau katakan, di mana sang puteri dan bagaimana kudanya sampai kau rampas?"
"Ampun....... ampunkan hamba....... dewi!!"
"Tarr!"
"Aduhhh....... mati aku.......!”
Sengoro bergulingan karena kaitan baja itu sudah menancap di pundaknya dan kaitannya mengait urat besar di pundak!
”Ampun....!!"
"Hayo bilang, benarkah dua orang ini tidak tahu menahu tentang sang puteri?"
"Be....... benar....... “
Endang Patibroto memandang kepada Kolodumung dan Kolomedo yang kini membayangkan kelegaan hati mendengar jawaban adik seperguruan ini. Terbayang senyum di bibir yang berbentuk indah dan kemerahan itu, kemudian Endang Patibroto memegang pedang dan golok rampasan. Sekali ia menggerakkan tangan, pedang dan golok meluncur bagaikan anak panah cepatnya dan.......
"Cepp! Cepp!!" Dua buah senjata itu sudah menancap di ulu hati Kolodumung dan Kolomedo sampai menembus ke dalam tanah sehingga dua orang itu tewas seketika. Menyaksikan peristiwa mengerikan menimpa dua orang kakak seperguruannya Sengoro terbelalak ketakutan, mukanya pucat dan dengan tubuh menggigil ia menyembah-nyembah minta ampun.
"Tar-tar-tar!"
Cambuk yang mengerikan itu kembali sudah meledak-ledak di atas kepala Sengoro, membuat kepala rampok makin ketakutan.
"Hayo lekas ceritakan di mana adanya sang puteri yang kudanya kaupakai itu!"
Suara Sengoro menggigil ketika ia berkata,
".......hamba....... hamba tidak tahu, dia....... sang puteri dibawa.... oleh pemimpin kami hamba....... mana berani....... ? Hanya mendapatkan kudanya....... "
"Di mana dia? Di mana sang puteri dan pimpinanmu. Dibawa ke manakah?"
Dengan telunjuk menggigil Sengoro menunjuk ke belakang.
"Mungkin di............. di sana...... hamba tak tahu benar ke mana "
"Crattt!" Kaitan baja di ujung cambuk itu menancap ke dalam pelipis Sengoro yang menjerit keras dan roboh berkelojotan dalam sekarat.
"Endang, siapakah mereka ?"

Derap kaki kuda yang datang disusul pertanyaan suara Pangeran Panjirawit yang melihat tiga orang laki-laki menggeletak tak bernyawa di depan kaki Endang Patibroto. Endang Patibroto menunjuk ke arah kuda tunggangan Puteri Mayagaluh dan berkata,
"Gusti puteri tertawan perampok, ini kudanya dan mereka ini adalah anak buah perampok."
"Aduh, Jagad Dewa Bathara! Di mana sekarang diajeng Mayagaluh?"
Kembali Endang Patibroto menunjuk ke arah mayat Sengoro dan berkata,
"Menurut pengakuan dia, gusti puteri berada di tangan kepala rampok yang kini masih berkeliaran di sekitar hutan ini. Mari kita mencarinya!”
Terhibur hati Pangeran Panjirawit ketika melihat sikap Endang Patibioto yang tenang. Timbul kepercayaannya kembali bahwa sudah pasti kepala pengawal yang cantik dan gagah perkasa itu akan dapat menolong adiknya, membebaskan dari tangan kepala rampok.
"Kenapa engkau menuntun seekor kuda lain?" Tanya pangeran itu ketika melihat Endang Patibroto meloncat ke atas punggung kuda tunggangan sang puteri sambil menuntun seekor kuda lain bekas tunggangan perampok.
"Untuk gusti puteri," jawab Endang Patibroto dan membalapkan kudanya ke depan diikuti oleh Pangeran Panjirawit.
Ketika tiba di bagian yang tinggi di tanah Pegunungan Seribu, Endang Patibroto menghentikan kudanya, kemudian ia meloncat dan memanjat sebatang pohon besar sampai di puncaknya yang paling tinggi. Dari tempat tinggi inilah ia memandang ke sekeliling dan tak lama kemudian terdengar seruannya,
"Ah, itu dia.......!!”
Pangeran Panjirawit ikut berdebar hatinya mendengar suara girang ini dan begitu wanita cantik dan perkasa itu melompat turun, ia bertanya,
"Kau sudah melihat diajeng Mayagaluh?"
"Mereka di sana, naik kuda. Mari kita menghadang, kita jalan kaki saja agar penjahat itu tidak mengetahui kedatangan kita dan kabur."

Mereka meloncat turun dari atas kuda, mencancang kuda di bawah pohon, kemudian pangeran itu mengikuti Endang Patibroto menyelinap di antara pohon-pohon dan menuju ke sebelah selatan. Tidak lama kemudian sang pangeran mendengar derap kaki kuda makin lama makin mendekat. Endang Patibroto mengajaknya bersembunyi di belakang pohon. Jantung pangeran itu berdegup tegang. Endang Patibroto tenang-tenang saja, namun dara perkasa ini sudah siap untuk menerjang maju. Akhirnya, setelah menanti dengan ketegangan hati yang makin memuncak, Pangeran Panjirawit melihat munculnya dua orang penunggang kuda dari sebuah tikungan jalan setapak dalam hutan itu. Tidak salah lagi, seorang di antara mereka adalah Mayagaluh, adiknya. Akan tetapi wajah adiknya yang cantik itu sama sekali tidak tampak seperti seorang tawanan, tidak menangis atau ketakutan, melainkan tersenyum-senyum manis! Dan penunggang kuda di sebelahnya adalah seorang laki-laki yang muda belia dan amat tampan, sungguhpun pakaiannya sederhana sekali namun sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan tiga orang perampok yang terbunuh oleh Endang Patibroto tadi. Orang muda ini tidak akan lebih tua daripadanya, dan lebih pantas disebut seorang satria gunung daripada seorang perampok!
Ia menjadi ragu-ragu dan hendak memberi peringatan kepada Endang Patibroto tentang pendapatnya itu. Namun terlambat karena pada saat itu, tubuh Endang Patibroto sudah berkelebat ke depan dan langsung dara perkasa ini bagaikan seekor harimau betina yang marah, telah melompat jauh ke depan, menerkam laki-laki penunggang kuda di samping Mayagaluh sambil mengeluarkan pekik dahsyat.
"Celaka dia.......!"

Sang Pangeran Panjirawit mengeluh dan mengira bahwa laki-laki tampan itu tentu tewas seketika diserang seperti itu oleh Endang Patibroto yang sudah cukup ia kenal kedigdayaannya yang menggiriskan. la segera melompat dan lari ke depan.
Joko Wandiro yang sedang enak-enak menunggang kuda bersama Puteri Mayagaluh dalam perjalanan mereka ke Bayuwismo di pantai Laut Selatan, tentu saja kaget setengah mati ketika tiba-tiba ada sesosok bayangan putih menyambar dan menerkamnya laksana seekor harimau dan kedua tangan yang menerkamnya itu tahu-tahu telah melancarkan pukulan dengan kedua tangan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat sekali ke arah pelipis dan ubun-ubun kepalanya! Dari sambaran angin pukulan ini saja maklumlah Joko Wandiro bahwa siapapun juga yang menyerangnya, penyerang ini adalah seorang yang amat ganas dan kejam, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi dan dahsyat. Ia belum dapat melihat siapa penyerangnya dan juga tidak tahu mengapa orang ini datang-datang menyerangnya sedahsyat itu, maka iapun hanya mengangkat kedua tangannya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga sakti Bojro Dahono ke dalam kedua tangannya.
"Dessss!!"
Hebat bukan main pertemuan dua pasang tangan di udara itu. Joko Wandiro menggunakan Aji Bojro Dahono yang sifatnya panas dan kuat cepat bagaikan kilat menyambar. Di lain pihak Endang Patibroto mempergunakan Aji Wisang Nolo, juga sifatnya panas sekali mengandung hawa beracun. Saking hebatnya pertemuan tenaga sakti itu, tubuh Endang Patibroto yang terapung di udara itu, terlempar sampai empat meter jauhnya dan terbanting di atas tanah di mana gadis itu cepat menggunakan Aji Trenggiling Wesi, bergulingan untuk mematahkan luncuran tubuhnya. la selamat tidak terbanting, namun pakaian dan rambutnya kotor terkena debu. Di lain pihak, Joko Wandiro kaget sekali karena pertemuan tenaga itu membuat ia terpelanting dari atas kudanya dan biarpun ia dapat berjungkir-balik sampai tiga kali sehingga dapat turun ke atas tanah dengan kedua kaki lebih dulu, namun ia terhuyung-huyung ke belakang sampai empat meter jauhnya!

Kini keduanya sudah bangkit berdiri, dalam jarak tujuh delapan meter, saling pandang dengan heran dan penasaran. Endang Patibroto marah sekali. Marah sampai hampir tak tertahankannya Lagi. Mukanya mangar-mangar (merah padam), sepasang matanya bercahaya menyilaukan seperti sepasang mata harimau tersorot lampu, bagaikan bernyala-nyala menciptakan api unggun yang akan membakar lawannya, memandang kepada Joko Wandiro seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat! Hidung yang kecil mancung itu bergerak-gerak karena cuping hidungnya yang tipis kembang-kempis, napas halus yang keluar masuk agak berdesis. Bibirnya tersenyum! Ya, bibir yang manis, merah basah itu tersenyum, akan tetapi senyum yang bagaimana! senyum maut! Senyum yang sama sekali bukan menyejukkan hati pemandangnya, melainkan senyum yang membayangkan ancaman maut, yang dingin seperti air wayu, Dagunya agak berlekuk karena ditarik keras dalam kemarahannya, kedua tangannya mengepal tinju. Endang Patibroto marah sekali. Apalagi ketika ia mengenal laki-laki yang pernah ia jumpai di dekat Telaga Sarangan, yang pernah ia serang dengan panah tangan namun gagal, laki-laki yang mengawani seorang gadis jelita, agaknya kekasih si gadis jelita yang menjadi korban anak panahnya. Sekarang, dalam adu tenaga ia sampai dibikin jatuh terguling-guling oleh bocah ini!

Joko Wandiro tadinya terheran-heran, juga kagum dan penasaran ketika mendapat kenyataan bahwa yang penyerangnya demikian dahsyat dan ganas adalah seorang wanita muda yang cantik jelita seperti bidadari. Akan tetapi kekagumannya segera berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap ketika ia mengenal wanita itu. Inilah dia wanita iblis yang pernah merobohkan Ayu Candra dengan serangan anak panah tangan! Inilah dia wanita iblis yang selain memanah mati harimau dan melukai Ayu Candra, juga pernah menyerangnya dengan panah tangan, dan kini tiada hujan tiada angin menyerangnya dengan pukulan maut yang demikian dahsyatnya!
"Kau! Perempuan keji......!"
"Kau! Bocah keparat!”
Keduanya memaki hampir berbareng, disusul gerakan tubuh mereka menerjang maju. Hebat sekali terjangan kedua orang muda ini dan berbareng mereka berseru kaget karena loncatan mereka itu serupa benar gayanya. Gaya dari aji meringankan tubuh Bayu Tantra dan ketika mereka berdua menampar ke depan, keduanya secara kebetulan sekali juga menggunakan aji yang sama, yaitu tamparan dengan jari-jari tangan, Aji Pethit Nogo! Kembali mereka mengadu tenaga dan keduanya terpental ke belakang oleh getaran jari tangan mereka yang mengandung tenaga sakti yang sama kuatnya!.

<<< Bagian 125                                                                                      Bagian 127 >>>